| Seni
“Siapa sih yang malem-malem begini telepon gue“, gerutu Mat Kelor ketika didengarnya ring tone lagu Jali-Jali dari cellphone-nya. “Oh ternyata si Pepen, ada berita apa dari tuh anak. Katanya dia lagi jalan-jalan ke New York , “ kata Mat kelor kepada dirinya sendiri ketika dilihatnya nomor yang muncul adalah nomor telepon genggam si Pepen. “Telepon masuk bukan buru-buru diangkat, “ kata Pepen setelah didengarnya sapaan Mat Kelor. “Coba kalau yang telepon kaum hawa, pasti langsung ditubruk. “
“Ngomong-ngomong, ada berita apa nih, sampe nggak nungguin pulang dulu baru cerita, “ tanya Mat Kelor, yang memang masih penasaran ngapain malam-malam si Pepen telepon.
“Gue cuma mau kasih tahu, gue baru pulang dari art center, “ jawab Pepen dengan santai.
“Apa kuping gue kagak salah denger ? Lu ke art center ? Maksud lu casino atawa gentleman's club kali ya ?” tanya Mat Kelor lagi dengan keheranan.
“Hus! Itu sih haram. Gue beneran ke art center. Sebenarnya bukan gue punya mau. Gue kenalan sama cewek bule sama-sama turis di New York . Dia dari North Carolina . Dia bilang mau ke situ, langsung gue pura-pura antusias. Gue bilang gue suka sekali, padahal sebenarnya selama di sana gue seperti lagunya Chris Kayhatu, Tersiksa Lagi..he..he..” cerita Pepen sambil terkekeh-kekeh.
“Dasar lu nggak punya darah seni, cuma punya air seni doang, “ celetuk Mat Kelor sambil cengengesan juga.
“Anak-anak yang sekolah di sini emang untung banget. Pelajaran prakaryanya bagus sekali dan ide-idenya sangat kreatif. Jadi sejak kecil mereka sudah diperkenalkan dan diajarkan untuk mencintai seni, “ sambung Pepen dengan serius.
“Yah itu kan karena di sini dananya juga berlimpah. Semua peralatan dan bahan disediain. Dulu kita kalau pelajaran prakarya, kertas warnanya musti bawa sendiri. Mana bisa bawa banyak buat bikin macam-macam. Udah dibeliin satu set ama enyak aja udah bagus. Itu juga pake dicomelin, segala kertas dibeliin, emangnya bisa bikin perut kenyang. Mangkanya dari kecil sampe gede cuma bisa bikin burung-burungan aja, “ kata Mat Kelor sambil mengingat masa sekolah dulu.
“Balik lagi soal ke art center. Gue bingung orang-orang kelihatannya menikmati sekali. Padahal apa sih yang dilihat. Segala botol disusun-susun, dibilang karya seni. Belum lagi lukisan-lukisan, makin gue perhatiin makin pusing kepala gue. Sebenarnya mungkin pelukisnya juga lagi sakit kepala waktu melukis, makanya segala macam warna dituang ke kanvas, “ kata Pepen sambil geleng-geleng kepala.
“Bagi kita lukisan yang bagus itu cuma karyanya Basuki Abdullah. Kalau ngegambar perempuan bisa lebih cantik dari aslinya. Selain aliran naturalis, kita mana ngerti ?” tambah Pepen lagi.
“Gue juga pernah lihat pameran lukisan di salah satu gedung perkantoran di daerah Kuningan. Hampir semuanya bagus-bagus. Ada satu lukisan yang bikin gue bingung. Udah gue amat-amati berkali-kali juga nggak tahu maksudnya apa. Ada 3 gambar di dalam satu lukisan itu. Yang pertama gambar masakan yang gosong. Yang kedua gambar orang tenggelam, cuma tinggal tangannya yang menggapai-gapai tanpa harapan. Yang ketiga gambar seorang perempuan hamil. Coba lu pikir apa artinya atawa hubungannya antara ketiga gambar tersebut. Gue baru ngerti setelah gue baca judulnya, TELAT DIANGKAT! “ kata Mat Kelor sambil terpingkal-pingkal.
" (Bang Madi/ IM)
|