Wisata Kota Tua : Museum Bank Mandiri
Mengintip Kegiatan Perbankan di Masa Lalu

Oleh: Lisa Virgiano (koresponden Indonesia Media di Jakarta)

Jaman sekarang, siapa yang tak mengenal uang? Mulai dari anak kecil sampai orang dewasa pasti akan melompat kegirangan bila menemukan secarik uang kertas yang jatuh di tepi jalan tanpa diketahui siapa pemiliknya. Katanya sih, rejeki nomplok…!!

Pada hari Sabtu sore, 2 April 2005 , saya tidak menemukan secarik uang kertas yang jatuh teronggok di tanah, tapi saya berhasil mendapatkan sebuah pengalaman yang tak dapat dinilai harganya dengan secarik uang kertas dari negara manapun!!

Pengalaman itu saya dapatkan ketika saya mampir mengunjungi sebuah gedung besar nan megah yang terletak persis di stasiun Beos, Kota , Jakarta Barat. Gedung besar nan megah itu dulunya merupakan gedung Factorij, Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), sebuah bank kolonial Belanda. Gedung ini sekarang telah menjadi museum Bank Mandiri setelah melalui suatu perjalanan sejarah yang panjang. Sebagai gambaran singkat, museum Bank Mandiri ini dirancang oleh dua orang arsitek Belanda, yaitu J.J.J de Bruyn dan A.P van der Linde. Tahun 1929 gedung ini mulai dibangun oleh kontraktor Nedam dan diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 oleh C.J Karel van Aalst , presiden NHM ke-10 di Batavia.

Bangunan berarsitektur Indisch gaya niew-zakelijk ini masih memiliki struktur bangunan yang kuat. Keseluruhan bangunannya terdiri dari 4 lantai seluas 21.509 m2 dengan arsitektur yang simetris dan memiliki main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan. Ketinggian permukaan lantai dasarnya lebih tinggi dari jalan raya, sehingga kesan pada pintu masuk utama terasa megah.

Salah satu bagian bangunan yang menarik adalah ragam kaca patri yang menggambarkan adanya empat musim dan tokoh nahkoda kapal Belanda, Cornelis de Houtman, yang mendarat di Banten pada tahun 1596.

Namun NHM tutup dari tahun 1942, seiring dengan berakhirnya masa penjajahan Belanda di Indonesia. NHM kemudian dibuka kembali pada tanggal 14 Maret 1946. Setelah NHM dinasionalisasi oleh Pemerintah Nasional Republik Indonesia , kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan pada tanggal 5 Desember 1960. Gedung ini akhirnya berubah fungsi menjadi salah satu kantor pusat BKTN urusan ekspor impor.

Pada tanggal 17 Agustus 1965 dengan dimulainya era “Bank Tunggal”, gedung ini menjadi Kantor Pusat Bank Negara Indonesia Unit II sampai dengan 31 Desember 1968 lahir Bank Ekspor Impor (Exim). Penggunaan gedung ini sebagai Kantor Pusat Bank Exim sampai tahun 1995 karena Bank Exim telah menempati gedung yang baru di Jl. Gatot Subroto (sekarang Plaza Mandiri). Dengan lahirnya Bank Mandiri pada tanggal 2 Oktober 1998 yang merupakan hasil merger 4 buah bank pemerintah, BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo, maka gedung warisan sejarah ini menjadi salah satu asset Bank Mandiri.

Di tempat itulah digelar sebuah acara Wisata Kota Tua, acara wisata yang memperkenalkan latar belakang sejarah dan budaya kepada warga Ibukota. Wisata Kota Tua ini diadakan oleh Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia), sebuah lembaga non profit independen yang didirikan oleh Asep Kambali. Acara Wisata Kota Tua kali itu mengajak para pesertanya untuk melakukan napak tilas kegiatan perbankan jaman kolonial Belanda dengan menelusuri lorong-lorong gedung tua yang masih terawat dan melihat benda-benda peninggalan bersejarah yang digunakan untuk transaksi perbankan saat itu.

Acara dimulai pada pukul 17.30 WIB dengan ditandai adanya sebuah pertunjukan singkat yang dilakukan oleh tim museum Bank Mandiri. Pertunjukan ini dilakukan di dalam sebuah ruangan yang dikelilingi oleh kaca bening, sehingga para pengunjung dapat melihat ataupun mengambil gambar dari luar ruangan. Ruangan yang berukuran kira-kira 6 x 6 m itu, ditata sedemikian rupa oleh furnitur kantor jaman dulu lengkap dengan segala alat kantor, seperti mesin tik jaman dahulu, kertas-kertas yang sudah berwarna kuning pudar, dan alat tulis seadanya. Tim museum Bank Mandiri mengenakan kostum khas pegawai jaman dahulu, dimana yang prianya mengenakan pakaian 2 stel, atasan dan bawahan, seperti safari berbahan coklat khaki lengkap dengan topi model jaman dahulu. Sedangkan wanitanya mengenakan kebaya encim berwarna coklat khaki dengan rambut panjang yang terkepang dua. Sungguh impresif, dalam hati saya. Perhatian pada hal detil sungguh-sungguh dilakukan oleh mereka. Tim museum Bank Mandiri mulai memperagakan kegiatan perbankan yang terjadi di jaman kolonial Belanda. Mereka lalu lalang, sebagian ada yang menerima tamu, ada juga yang sedang memeriksa berkas-berkas surat berharga. Untuk sesaat, alam imajinasi saya bermain dengan bebasnya. Membayangkan transaksi perbankan beberapa ratus tahun silam terjadi kembali di hadapan mata saya secara langsung.

Setelah pertunjukan singkat tersebut, para pengunjung dibagi-bagi menjadi 10 kelompok kecil untuk kemudian dibimbing oleh satu orang pemandu untuk berjalan-jalan mengelilingi museum ini. Satu kelompok kecil terdiri dari 10-20 orang, namun saya akhirnya mengikuti rombongan kecil yang khusus diperuntukkan bagi wisatawan asing.

Setelah para pengunjung mendapatkan kelompoknya masing-masing, perjalanan dimulai. Satu per satu kami dibimbing oleh pemandu menelusuri ruangan demi ruangan yang terdapat di gedung ini.

Ruangan pertama yang saya singgahi merupakan tempat penyimpanan mesin ATM dari masa ke masa. Dulunya, mesin ATM ini berukuran sangat besar, sampai jaman sekarang, ukuran mesin ini menjadi semakin kecil dan berdesain cukup compact. Selepas dari ruangan ini, rombongan saya digiring untuk memasuki ruangan bawah tanah. Ruangan bawah tanah museum ini jauh sekali dari kesan lembab, angker, atau tidak terawat. Ruangan bawah tanah digunakan sebagai tempat penyimpanan surat-surat berharga, dan ruangan safe deposit box para nasabah NHM waktu itu, sehingga bentuk ruangan ini dibuat berliku-liku dengan sistem pintu penjagaan yang berlapis-lapis lengkap dengan teralis-teralis besinya. Di pintu masuk ruangan safe deposit box, bahkan terdapat pintu yang terbuat dari baja setebal kurang lebih 30 cm, mirip pintu masuk kapal selam, pikir saya. Pintu berwarna hijau lumut ini mempunyai sistem PIN yang bekerja layaknya nomor koper. Hebat sekali, mengingat selama kurang lebih 100 tahun, pintu ini masih berfungsi dengan baik dan tahan terhadap api, gempa, bahkan terjangan air.

Di dalam ruangan bawah tanah, kami melihat banyaknya koleksi brankas yang dimiliki oleh NHM waktu dulu. Umumnya, brankas jaman dulu berukuran besar dan berat sekali. Di depan pintu brankas tercantum merk pembuat brankas dan tahun pembuatannya. Tentu saja, brankas jaman dulu belum mengenal sistem kata kunci digital seperti jaman sekarang.

Sesaat, saya kembali berkhayal.. Pernahkah tercatat dalam sejarah, NHM mengalami kasus pencurian atau perampokan pada waktu dulu? Pertanyaan ini sempat saya lontarkan kepada pemandu rombongan, dan jawabannya tidak. Alasannya adalah, hanya sedikit karyawan NHM yang diijinkan memasuki kawasan bawah tanah, dan tentu saja, orang pribumi dilarang masuk ke ruangan ini. Hanya karyawan NHM dengan jabatan tertentu yang bisa masuk ke ruangan bawah tanah dengan didampingi oleh pengawal, ditambah lagi dengan desain bangunan yang dibuat berliku-liku, pasti akan menyulitkan para pencuri yang masuk.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju ruangan lainnya. Kali ini, di satu ruangan terdapat aneka koleksi bahan bangunan NHM yang tersisa. Salah satu bahan bangunan yang menarik perhatian saya adalah konblok yang terbuat dari kayu. Ya.., terbuat dari kayu bukan dari semen seperti konblok jaman sekarang. Bisa Anda bayangkan, berapa banyak kayu yang digunakan untuk membuat konblok yang menutupi sebagian besar lantai gedung NHM yang megah itu. Yang lebih menariknya, ketika saya amati tekstur kayunya, tidak dimakan rayap sekalipun. Masih utuh, tiada serbuk kayu tanda keberadaan rayap.

Perlahan-lahan, rombongan saya mulai memasuki ruangan tempat penyimpanan surat-surat berharga. Disini saya melihat surat bukti obligasi yang dikeluarkan pemerintahan Belanda, uang kertas jaman Belanda yang berukuran lebih kecil dari uang kertas RI sekarang, dan beragam buku bersejarah. Saya juga sempat membaca selembar koran Sinar Harapan terbit pada tahun 1965 yang memuat berita santer mengenai pemberontakan G 30 S/PKI.

Dari ruangan penyimpanan surat-surat berharga, rombongan saya melanjutkan perjalanan ke lantai dua. Di ruangan yang maha luas, terdapat aneka ragam koleksi foto-foto bangunan NHM, gubernur NHM dari masa ke masa, dan seluk beluk peristiwa lainnya. Saya juga melihat koleksi lain seputar alat telekomunikasi jaman dahulu, aneka koleksi cap, seragam karyawan NHM, dan satu buah kotak kayu tinggi besar. Kotak kayu ini ternyata adalah sebuah kulkas, yang tanpa listrik dan freon. Namun begitu saya buka, masih dingin. Wah, kotak ajaib!! Ternyata, yang membuat dingin adalah sebongkah es yang dimasukkan, dan hawa dingin yang dikeluarkan oleh es tertahan di dalam ruangan kayu. Prinsip kerjanya mirip dengan termos es yang beredar di pasaran.

Perjalanan terakhir wisata museum kali ini berakhir ini di ruangan maha megah yang dingin. Ruangan yang dilengkapi dengan chandelier mewah, karpet merah, dan furnitur anggun khas tempo doeloe ini merupakan ruangan dewan direksi NHM. Selasar ruangan ini luas sekali, dan konon, kaum pribumi dilarang keras lalu lalang disini. Para gubernur NHM dan keluarganya juga tinggal di bagian ruangan yang megah ini.

Terakhir kali, saya sempat naik ke puncak tertinggi gedung, dan menyaksikan pemandangan Jakarta yang genit dengan kerlap kerlip lampu di malam hari. Begitu indahnya kota kelahiran saya ini, bisik saya dalam hati…

Acara Wisata Kota Tua diakhiri dengan ramah tamah dan makan malam di kantin museum. Sebagai tanda mata, pihak panitia mengadakan sebuah doorprize bagi para pengunjung. Nah, ini keberuntungan saya yang kedua, karena saya termasuk pemenang doorprize yang berhadiah aneka suvenir dari Bank Mandiri. Senyum saya langsung merekah seketika itu juga!!

Saya tinggalkan museum Bank Mandiri yang kaya dengan nilai sejarah dengan segenggam harapan. Semoga saja akan semakin banyak perusahaan yang tertarik untuk melakukan investasi masa depan dengan melestarikan warisan sejarah dan budaya Indonesia , seperti layaknya Bank Mandiri. Dan tentunya, mudah-mudahan semakin banyak juga warga kota besar yang mulai menghargai latar belakang sejarah kota mereka.

Yah, semoga saja…

     

 


FastCounter by bCentral