|
 |
|
Partisipasi
Tionghoa dalam Perjuangan
Catatan sejarah Oleh :Chan CT.
Hongkong , May 2005/Indonesia Media.
Indonesia Chinese dimasa Perang Dunia II juga tidak sedikit
yang berperan, ikut berkorban dalam melawan Jepang. Hanya
saja, sangat disayangkan tidak terangkat menjadi Pahlawan
Nasional, dilupakan atau bahkan bisa dikatakan digelapkan
dalam sejarah Indonesia. Syukur kalau para ahli sejarah
bisa mulai meneliti masalah perjuangan etnis Tionghoa di
Indonesia, ya. Sekalipun saya juga tidak bisa mengajukan
photo-photo yang bersangkutan, namun demikian ada baiknya
juga beberapa nama diantaranya tetap bisa diajukan agar
diketahui terutama pamuda-pemudi Indonesia, bahwa benar-benar
ada etnis Tionghoa yang berjuang bersama rakyat Indonesia
dalam setiap gerakan. Dan yang pasti, sekalipun ketika itu
mereka tetap menyandang nama 3 suku yang Tionghoa itu, tidak
menegasi ke-SETIA-an dan loyalitas mereka pada Indonesia,
dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan.
• Di-tahun 30-an BRIGADE INTERNATIONAL, kekuatan bersenjata
melawan fasis Franco, satu-satunya orang yang mewakili Rakyat
Indonesia adalah Dr. Tio Oen Bik , anak Tuban-Jawa Timur!
Dr. Tio Oen Bik yang baru lulus sebagai dokter di Nederland,
atas prakarsa Perhimpunan Indonesia di Nederland, bersedia
ikut dalam Brigade International mewakili Indonesia. Ingat,
sekalipun bernama tiga suku yang bernada Tionghoa, Tio Oen
Bik, tetap mewakili Rakyat Indonesia, bukan mewakili rakyat
Tiongkok.
• Ir.Soekarno dalam usaha persiapan membangun kembali PNI
dan mendirikan PARTINDO, juga mendapatkan bantuan dari teman-teman
seperjuangan Suku Tionghoa, antara lain yang pernah disebut,
Liem Seng Tee, pemilik pabrik rokok kretek Djie Sam Soe
( 2 3 4 ), Tan Ping Tjiat dari Surabaya dan Liem Sui Chuan
dari Bandung. Dan mereka ini dinyatakan oleh Ir.Soekarno
sebagai orang yang selalu memihak kepentingan rakyat Indonesia!
• GERINDO (Gerakan Rakyat Indonesia) yang didirikan pada
tgl. 18 Mei 1937 dibawah pimpinan A.K. Gani; Moh. Yamin;
Amir Syarifudin; S. Mangunsarkoro dan Wilopo, adalah organisasi
yang menghidupkan kembali pendirian Indische Partij, yang
menyatukan semua kekuatan rakyat Indonesia dalam perjuangan
melawan penjajah tanpa membedakan suku; agama dan keturunan
yang ada. Oei Gee Hwat sekretaris Pengurus Besar PTI (Partai
Tionghoa Indonesia) adalah salah satu anggota GERINDO ketika
itu.
• Pendiri PTI, Liem Koen Hian untuk mendorong golongan peranakan
Tionghoa sebagai putra Indonesia, yang bisa merasa senasib
dengan rakyat Indonesia, bisa bersama-sama rakyat Indonesia
berjuang melawan penjajah Belanda mencapai kemerdekaan,
disusunlah staf pengurus Harian "MATA HARI" yang
dipimpin oleh Kwee Hing Tjiat. Pendirian Harian "MATA
HARI", yang dipropagandakan ketika itu adalah: sebagai
kenyataan lahir di Indonesia, maka sama halnya dengan putra-putra
Indonesia, wajib bekerja-sama, ber-setiakawan, bergotong-royong
melawan penjajah Belanda dan membangun Indonesia untuk kemakmuran
hidup bersama. Dan penerbitan Harian "MATA HARI"
ini mendapatkan sokongan dan dukungan kuat dari pejuang-pejuang
kemerdekaan seperti Ir.Soekarno, Dr.Tjipto Mangunkusumo;
Mr. Iwa Kusumasumantri; Drs.Moh. Hatta; Mr. Amir Syarifudin;
Mr.Moh.Yamin; dan Mr. Achmad Subardjo.
• Didalam BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia), yang
dipimpin oleh Bung Tomo, kita juga bisa melihat adanya pemuda
Tionghoa yang ikut aktif, seperti Gam Hian Tjong dan Auwyang
Tjoe Tek. Dan menurut keterangan, Auwyang Tjoe Tek didalam
PBRI termasuk ahli membikin peluru, pengalaman yang didapatnya
semasa ikut perjuangan bersenjata di Tiongkok. Sedang didalam
Laskar Merah ketika itu, juga terdapat pemuda Tionghoa,
pemain sepakbola terkenal - The Djoe Eng. Jadi, disamping
banyak pemuda-pemuda Tionghoa yang terjun langsung didalam
Laskar-laskar perjuangan melawan penjajah Belanda, tentu
juga tidak bisa dilupakan adanya organisasi-organisasi suku
Tionghoa yang ikut langsung dalam gerakan-gerakan Kemerdekaan,
seperti Angkatan Muda Tionghoa, yang mengorganisasi pemuda-pemuda
Tionghoa untuk ikut perjuangan kemerdekaan.
• KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) pertama, ternyata
juga mengikut sertakan wakil peranakan Tionghoa, Drs. Yap
Tjwan Bing dan Liem Koen Hian. Kemudian ditambah lagi 2
orang peranakan Tionghoa, yaitu Tan Ling Djie dan Inyo Beng
Goat. Sedang Tan Ling Djie dalam sidang KNIP kedua, dipilih
sebagai anggota Badan Pekerja. Dan menjelang sidang KNIP
di Solo, jumlah anggota KNIP ditambah lagi seorang peranakan
Tionghoa, yaitu Siauw Giok Tjhan.
Kemudian, menjelang sidang KNIP di Malang untuk mengesahkan
Perjanjian Linggarjati, ditambah lagi 2 orang peranakan
Tionghoa, yaitu Dr. Oey Hway Kim dan Ir. Tan Boen An. Disamping
itu, masih ada peranakan Tionghoa yang mewakili partai politik,
misalnya Oei Gee Hwat sebagai wakil Partai Sosialis dan
Lauw King Hoo sebagai wakil Partai Komunis Indonesia.
Kalau wakil-wakil peranakan Tionghoa yang di-ikut sertakan
dalam Volksraad, jaman penjajah Belanda, adalah wakil-wakil
pengusaha besar, maka didalam KNIP hanya Drs. Yap Tjwan
Bing yang bisa dikatakan pengusaha, karena memiliki beberapa
apotik.
• Hasil Pemilihan Umum pertama, yang kita kenal sebagai
satu-satunya pemilihan umum yang benar-benar demokratis,
ternyata juga bisa menghasilkan 2 orang wakil peranakan
Tionghoa, yaitu Siauw Giok Tjhan dari daftar calon BAPERKI
dan Oei Hay Djun dari daftar calon PKI. Dan kita masih tetap
bisa melihat adanya nama-nama bersuku tiga yang mewakili
Partai2 politik yang ada ketika itu, seperti Oei Tjing Hien
mewakili Masyumi; Tan Oen Hong dan Tan Kiem Liong mewakili
NU; Lie Poo Yoe mewakili PNI; Tjoo Tik Tjoen mewakili PKI
dan Tjung Tin Yan SH mewakili Partai Katholik.
• Kemudian kita juga masih sempat melihat adanya seorang
bernama tiga suku yang duduk didalam kabinet Gotong-royong
di akhir kekuasaan Presiden Soekarno, yaitu Menteri-negara
Oei Tjoe Tat.
Nah, berbeda dengan etnis Tionghoa-Indonesia yang sempat
pulang ke-daratan Tiongkok, ternyata ada juga yang terangkat
jadi Pahlawan Nasional dalam bertempur melawan Jepang. Baru
saja saya temukan dalam majalah Khusus "Memperingati
50 Tahun KAA" yang diterbitkan Alumni Sekolah Bandung
di Hong Kong, rupanya ada seorang Pahlawan-Nasional anak
Bandung, yang bernama Nio Tiam Seng! Nio Tiam Seng setelah
lulus sekolah menengah Tionghoa Bandung, pulang kembali
ke Tiongkok untuk meneruskan sekolah, dan terdorong oleh
semangat melawan agresi Jepang, dia masuk kesekolah Angkatan
Udara, Setelah lulus ditahun 1937, langsung ikut dalam skuadron
pertempuran melawan Jepang. Dalam pertempuran udara melawan
Jepang di Propinsi Shantung, dekat Han-kou pada tgl. 11
Juni 1939, pesawat tempur E-15 bernomor 2307 tertembak jatuh,
dan Nio Tiam Sheng tewas dengan gagah berani melawan agresi
Jepang. Beliau mendapat kehormatan sebagai Pahlawan Nasional
yang dikebumikan di Taman Pahlawan Melawan Jepang Nanking.
M (ChanCT/IM)
|