|
 |
|
LATAR
BELAKANG MEMINJAMKAN MOBIL UNTUK KAA 1955
Oleh: Sie Hok Tjwan
 |
Sejarah. June
2005/Indonesia Media. - Penulis adalah pengamat sejarah
Indonesia, yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Karya tulisnya sebagian menjadi referensi di beberapa universitas.
Buku yang pernah ditulisnya antara lain berjudul "The
6th overseas Chinese state", Nanyang Huaren, yang diterbitkan
oleh Centre for Southeast Asian Studies, James Cook University
of North Queensland, Townsville QLD 4811, Australia 1990
dengan kata-pendahuluan penulis wanita terkenal Dr. Han
Suyin dan Prof.Dr. B.B.Hering direktur CSEAS (red).
200 Belvedere untuk KAA
Untuk keperluan Konperensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung,
mertua saya, mendiang Khoe Boe Djiang, pemilik, penggerak
serta otak Tek Lie Kongsie telah meminjamkan 200 (duaratus)
mobil Belvedere yang baru di impor (baru gres). Tidak banyak
orang yang mengetahui hal ini. Pertanyaan apakah latar belakangnya
ikut memberi bantuan demikian jawabannya, mertua sebagai
generasi tua ikut bangga adanya KAA menandakan kebangkitan
kembali bangsa-bangsa Asia.
Suasana masa dulu lain sekali dengan sekarang. Kenalan-kenalan
generasi orang tua saya (ayah lahir 1897 dan ibu 1904) bertindak
tanpa ideologi maupun kesadaran politik, tidak terorganisasi
dalam suatu partai. Mereka melakukan hal-hal yang dianggap
perlu dengan tidak mendapat nama untuk diri-sendiri, tidak
mencari publikasi, malahan mengeluarkan banyak uang dari
kantong sendiri. Ini dianggap layak dan setelah lewat, tidak
dibicarakan lagi. Demikian juga dengan alm. mertua.
Bangkitnya anti kolonialis
Etnik Tionghoa jaman itu didalam hatinya menyesalkan keadaan
sebagai akibat kelemahan Tiongkok menghadapi agresor Barat
+ Jepang. Padahal Tiongkok negara besar dengan kebudayaan
yang ulung. Didalam pikiran saya sendiri pun nancap kekurang-ajaran
Inggris memasang papan dengan "Dogs and Chinese not
allowed" didepan pintu masuk taman umum yang dikuasainya
di Shanghai. Dr. Kwa Tjoan Sioe dokter lulusan Negeri Belanda
dilarang masuk tempat kolam renang di Cikini Jakarta. Hanya
isterinya karena dia seorang wanita Belanda akan diperbolehkan
masuk, tetapi isterinya menolak. Tempat kolam renang Selecta
dekat Batu/Malang juga ingin meniru-niru orang Tionghoa
tidak diperbolehkan masuk. Tetapi si pemilik kolam renang
yang bernama de Ruyter de Wildt sial. Dia ditempeling oleh
Oei Boen Pong. Lain contoh adalah redaktur beberapa koran
terkenal Kwee Thiam Tjing lulusan Europese School. Beliau
telah menulis kritik yang dianggap "penghinaan"
terhadap Belanda. Beliau ditelanjangi, digiring dengan rantai
pakai pakaian penjara tanpa celana dalam, jalan kaki telanjang
tanpa sepatu dari penjara ke pengadilan di Surabaya. Untuk
menjalani hukumannya di Jakarta, beliau diangkut dengan
kereta api tiap 5 (lima) orang tahanan dirantai menjadi
satu. Lih.: Tjamboek Berdoeri (nama samaran Kwee Thiam Tjing)
dalam "Indonesia dalam api dan bara", penerbitan
gelap 1947 di Malang. Terbitan kedua oleh ELKASA Jakarta
2004 e-mail elkasa@cbn.net.id
Golongan tua kita tak memandang tinggi kebudayaan Barat.
Mak saya (ibu ayah) sering memperingatkan "awas matroos
mabuk (anggauta Angkatan Laut Belanda yang sering berkeluyuran
di jalanan dalam keadaan mabuk)." Saudara mak bila
mendengar konser musik Barat komentarnya, dia "brebekan
koyoh kocing kerah" (kebrisikan, lagu yang dimainkan
dengan biola itu kedengarannya tidak merdu melainkan seperti
kucing bercakaran). Oom saya sebelum perang Tiongkok-Jepang
telah belajar di Jepang. Kalau melihat peta negeri Belanda,
selalu mengomel "biangane silit negoro sah ipet koyoh
yoh-yoh-o" (simpekne negara kecil sekali berlagak besar).
Oom-oom lain banyak yang belajar di Tiongkok.
Tionghoa didalam revolusi Indonesia
Bila kita mengutarakan bersimpati dan memihak perang kemerdekaan,
maka banyak veteran Indonesia condong mengira kita hendak
membonceng setelah revolusi berhasil. Ini tidak betul. Sebagai
orang Tionghoa kita dulu solider sebagai bangsa Asia yang
sama-sama menghadapi tindasan kekuatan kolonial Barat. Sikap
solidaritas tsb juga telah dicerminkan dari pernyataan Konsul-Jendral
Tiongkok Chiang Chia Tung di Malang thn.1946, bahwa Tiongkok
sebagai salah satu 5 negara besar (one of the big five)
berdiri dibelakang revolusi kemerdekaan Indonesia.
Untuk terjun ikut revolusi secara fisik tidak mudah. Banyak
orang Tionghoa dibunuh di Tangerang. Bagansiapi-api di Sumatera
yang sebelum perang dunia ke II terhitung kota nelayan no.
2 di dunia (yang terbesar adalah kota Bergen di Norwegia)
dengan penduduk hampir semuanya etnik Tionghoa, tanpa mereka
mengetahui apa sebabnya telah diserang TRI, AL dan PM. Waktu
pertempuran di Surabaya saya kebetulan satu-satunya orang
Tionghoa didalam suatu bus menuju setasiun kereta api ingin
ikut membantu orang-orang yang luka. Dari belakang saya
terdengar suara "kae Tjino ola opo?" (mau apa
itu Cina?). Melihat suasana ketika itu, saya pulang jalan
kaki.
Terhadap Jepang kami berperasaan ganda. Disatu pihak Jepang
ikut negara-negara Barat merampok, menghina dan menindas
Tiongkok, tetapi dilain pihak Jepang berjasa pada thn.1942
menjatuhkan kolonialis Belanda.
Sejarah yang tak tercatat
Lain daripada dunia Barat, golongan etnik Tionghoa mengabaikan
Public Relation (P.R.). Meskipun dalam abad-abad terachir
mala-petaka kolonialis, fascis, Nazi, holocaust, genocida,
perdagangan budak besar-besaran, semuanya berasal dari Eropa,
tetapi dunia Barat menggambarkan diri sebagai contoh demokrasi
dan sumber hak-hak azasi manusia. Sebaliknya golongan etnik
Tionghoa malahan tidak bersedia menyebut jasa diri-sendiri.
Ini kelemahan fatal, merupakan sikap yang ketinggalan jaman.
Sekarang berlaku pepatah: "untold truth can be poisonous."
Hampir tidak ada orang mengetahui, bahwa komandan tertinggi
Laskar Rakyat Magelang dan Kebumen, adalah Kho Sien Hoo/Surjo
Budihandoko. Sama halnya Lauw Kim Seng/Sukrisna Lukman,
orang Tionghoa Totok yang oleh Wakil Presiden Moh. Hatta
3 (tiga) kali dianugerahi Bintang Gerilya untuk jasa-jasanya
menyelundupkan senjata api dari Singapura ke daerah Cirebon
untuk revolusi kemerdekaan. Tahun 1945, oom Yap Wie Tjhing
yang sebelum perang Tiongkok-Jepang belajar di Jepang mengetahui
bahwa dikalangan Angkatan Laut Jepang banyak bersimpati
terhadap perjuangan kemerdekaan. Maka akhirnya di Jawa Timur
yang termasuk daerah kekuasaan Kaigun (AL-Jepang) ada persepakatan
dengan perwira-perwira Jepang. Pihak Jepang menunjuk tempat-tempat
persembunyian senjata api mereka. Pihak Indonesia berjanji
senjata tsb tidak dipergunakan terhadap mereka, men-supply
bahan makanan dan menjamin free-passage ke pelabuhan. Memang
diketahui pihak RI memiliki banyak senjata di Jawa Timur
(untuk seluruh Indonesia diperkirakan sebanyak seribu orang
Jepang ikut serta revolusi kemerdekaan). Lain halnya di
Semarang, dimana untuk memperoleh senjata, tentara elit
Jepang diserang dengan memakan banyak korban.
Persepakatan di Jawa Timur terjadi berkat kombinasi sejumlah
faktor.
Yap Wie Tjhing yang mengetahui banyak perwira-perwira Kaigun
menaruk simpati pada perang kemerdekaan, adalah seorang
pemburu dan mengerti urusan senjata. Yap Wie Tjing kenal
Dul Arnowo (saya tidak tahu apa kedudukannya waktu itu,
tetapi jelas beliau salah satu tokoh revolusi. Pada tahun
1953 Dul Arnowo menjabat sebagai Gubernur Jawa-Timur.)
Ayah ada hubungan dengan Pangeran Jepang Mizuno. Asal-usulnya,
rumah tinggal kami di Jalan Pandan 11 Malang diambil alih
militer Jepang untuk ditinggali Pangeran Mizuno dengan selirnya
seorang wanita Jerman. Kami dipindahkan ke no. 9 disebelahnya.
Selama perang, Pangeran Mizuno melindungi kami. Ayah saya,
Sie Bian Tik, dicari di desa Batu dekat Malang (tempat tinggal
kami sebelum Jepang masuk Indonesia) berkaitan dengan kegiatannya
dalam Tjin Tjay Hwee organisasi membantu Tiongkok dalam
perang melawan Jepang. Pengusutan terhadap ayah ditiadakan
oleh Mizuno. Dikalangan atas militer Jepang, Mizuno mempunyai
wibawa. Mizuno ikut membantu usaha persepakatan. Kami ada
ikatan famili dengan Regent (Bupati) Sam yang pernah juga
menjabat sebagai Residen dan Walikota Malang. Ayah menyapanya
dengan "oom" dan Bupati Sam menyapa ayah "neef".
Aktip sebagai koordinator ketika itu Han Kang Hoen, ketua
Kakyo Sokai/Hua Chiao Chung Hui.
Semua ini bersama dengan pihak militer RI setempat menghasilkan
persepakatan tsb. Ketika saya sekeluarga tinggal gelap di
Nederland 1968 hingga ketahuan pada thn. 1971 dan mendapat
ijin tinggal resmi thn. 1972, Panglima pertama Jawa-Timur,
pangkat terakhir Major Jendral K.R.M.H. Jonosewojo Handajaningrat
mencari kami di Amsterdam. Hubungan dengan beliau baik sekali
hingga wafatnya pada tahun 1994.
Thn. 1946 Mr.Tan Poo Goan, kenalan baik orang tua saya,
berkunjung ke Malang dan menginap dirumah kami. Ketika itu
beliau menjabat Menteri Pemerintah RI di Jokja. Beliau mengundang
makan para pembesar RI di rumah kami. Pertemuan tsb berbuntut
ayah ditunjuk menjadi kepala Fonds Kemerdekaan RI di Malang.
Waktu tentara Belanda masuk, keluarlah maklumat semua karet
dll bahan ekspor diharuskan jual kepada penguasa Belanda
dengan harga rendah sekali. Ini perampokan resmi. Untuk
kerusakan-kerusakan yang diderita (diobrak-abrik) ayah masih
berhasil mendapat keputusan hakim Belanda, harus diberi
ganti kerugian f.120.000,- . Ini tidak pernah dibayar. Dinilai
mata uang sekarang dan ditambah bunga 58 tahun paling sedikit
beberapa juta USDollar. M (SHT/IM)
|