|
 |
|
Mengunjungi
Negeri Leluhur I
Oleh: Jusni Hilwan
-DSC01334.jpg) |
"China"!
Satu kata yang singkat, padat, membawa seribu nuansa dan
persepsi. Bila itu kita sebutkan kemana kita akan pergi,
ketika ditanya prens tetangga sobat-sobit kita, niscaya
semuanya akan manggut, tak perduli kepalanya hitam atau
bule. Tak lain karena semua sadar bahwa negeri itu sudah
menjadi sumber budaya dan peradaban, maupun manusia yang
tinggal di jazirah Asia Timur sampai ke Tenggara. Mereka
tidak akan mengajukan pertanyaan blo'on seperti misalnya
kalau kita bilang kita mau mendaki Gros Morne Mountain,
"Ngapain loe manjet gunung 700 meter?" atau lebih
parah lagi, "Ada apaan di Newfoundland?" Karena
banyak sekali manusia di dunia yang ingin mengunjunginya,
apalagi kalau selama ini si doi kesengsem akan film maupun
cerita silat, maka bisa diharapkan pertanyaan selanjutnya
adalah berapa lama dan berapa ongkosnya. Kalau lalu kita
memberikan jawabnya dan mereka berkata murah banget, tahulah
kita bahwa atau si penanya pernah ke RRT atau gandrung mengunjunginya
sebab sudah tahu harga.
-IMG_0435.jpg) |
Trip yang diselenggarakan
oleh ICAA, Indonesian Chinese American Association, suatu
paguyuban di Los Angeles, memang murmer banget. Ongkos untuk
selain mengunjungi 4 kota, Beijing, Shanghai, Suchou dan
Hangchou, juga termasuk biaya kapal terbang dari Los Angeles
- Beijing p.p., biaya montor mabur Beijing - Shanghai bolak
balik, transportasi darat, biaya masuk ke tempat hiburan,
maksudku atraksi buat turis, makan sekenyangnya 3 kali sehari,
menginap di hotel bintang lima, dst., cuma US$ 725. Dengan
iklan trip 8 hari 7 malam, memang harga tersebut tidak bisa
dilawan di seluruh dunia oleh agen perjalanan dari manapun.
Namun, hanyalah mereka yang ikut baru dapat mengerti mengapa
biayanya bisa meriah demikian. Tak lain sebabnya karena
malam pertama kami lewati di antrian 'check in' di bandara
Los Angeles Terminal 2, yang kami lakoni dari mulai jam
9 malam dimana pesawat baru lepas landas jam 1:40 pagi.
Malam kedua perjalanan ini terjadi di atas kapal terbang
karena pesawat melintasi batas tanggal internasional alias
tahu-tahu arloji ngeloncat sehari, dari 31 Maret menjadi
1 April. Becanda prens, tetapi seriusan ongkos trip kami
ini murah banget. Soalnya paguyuban nirlaba ICAA, dan Indonesia
Media, bukan saja tidak mengambil untung sama sekali, juga
ada warganya yang berpengalaman di bidang travel dan menjadi
relawan, bekerja untuk trip ini tanpa digaji.
 |
"Happy
Birthday", kata petugas imigrasi PRC, People's Republic
of China menyapa isteriku sambil tersenyum sedikit. Tak
kami sangka sama sekali ia memperhatikan tanggal lahir doi
dan mau mengucapkan met ultah. Kan bayangan kita, kesan
membaca koran dan majalah, memirsa TV dan tayangan Internet,
punggawa suatu "republik rakyat" itu kaku, dingin,
berwibawa. Kaga tahunya bisa ramah juga. :-) Ya, sedikit
banyak kunjungan kami ke negeri leluhur ini adalah hadiah
ultah Bang Jeha kepada nyonyanya yang sudah berumur 35,
eh 55 tahun di pagi hari itu. Anda yang sering membaca dongengan
saya tahu betapa ia dikasihi Penciptanya. Nah, suatu surprise
luar biasa terjadi di malam harinya. Kami diundang oleh
pejabat RRT setingkat menteri urusan hoa-kiau atau orang
yang kakek moyangnya berasal dari Tiongkok, untuk jamuan
kenegaraan. Sahaya tidak becanda rek, sungguh terjadi. Kalau
Anda tidak percaya, saya masih menyimpan kartu nama para
pegawai kementerian urusan hoa-kiau ini. Tempat jamuan adalah
di gedung mereka yang merangkap suatu hotel mewah banget,
Prime Hotel di Wangfujing Street. Tidak usah disebutkan
lagi bahwa hidangan 10 jenis masakan yang disuguhkan untuk
si Empok Cecilia, lain dari yang lain, hampir semuanya belum
pernah saya lihat, boro-boro makan. Cerita rinci dari pertemuan
atau jamuan itu, baiklah tak saya lanjutkan sebab sudah
menjadi rahasia negara alias tak menyangkut kisah kunjunganku
ke negeri leluhur :-). Sampai berjumpa di kisah selanjutnya.
... (bersambung) ... Jusni Hilwan
|