|
 |
|
Orang
Biasa, VIP dan VVIP
KOLOM Politika di Kompas, Budiarto Shambazy, sangat menyengat
penyelenggaraan KAA yang semakin tidak memberi tempat kepada
orang biasa. KAA hanya menjadi ajang kesibukan para very
important person (VIP), very very important Person (VVIP)
dan petugas keamanan. Sedang orang biasa malah dirugikan,
baik dari segi mata pencaharian, kegiatan sehari hari, dan
seolah-olah sidang itu tidak ada kaitannya dengan realitas
kehidupan sehari hari.
Memang nasib orang biasa yang jumlahnya lebih dari 6 miliar
sedunia dan hampir seperempat miliar di Indonesia selalu
hanya diatasnamakan, disalahgunakan dan "dibajak"
untuk kenikmatan para tokoh luar biasa, orang VIP dan VVIP.
Ketika dua orang tokoh puncak Kuomintang dan Kungchantang
(Partai Komunis Tiongkok) bersalaman di Beijing, berapa
puluh juta penduduk Tiongkok sudah gugur jadi korban perang
saudara yang berakhir 60 tahun yang lalu pada 1 Oktober
1949. Ketika Vladimir Putin mengunjungi Mesir, Israel dan
menemui Mahmud Abbas, sudah berapa banyak orang Arab, Yahudi
dan orang tak berdosa lain yang tewas dalam perang Timur
Tengah maupun gelombang teror mengatasnamakan Palestina.
Orang biasa gugur setiap hari, seperti korban bom Baghdad
yang nyaris menjadi rutin dan kurang berdampak lagi terhadap
kepekaan manusia. Orang biasa berguguran di Darfur, Poso,
Ambon, dan tempat-tempat lain di seluruh penjuru bumi setiap
hari. Tapi hanya akan menjadi berita kalau jumlahnya raksasa
dan terkait dengan kepentingan geopolitik kekuatan global.
Tapi orang penting seperti Hitler tak kunjung habis membuat
berita, walaupun sudah meninggal 60 tahun yang lalu dengan
citra pembantai yang mengerikan. Film Downfall yang mengungkapkan
hari-hari terakhir Hitler di bunker Berlin telah menimbulkan
reaksi.
Bagaimana menjelaskan kebrutalan rezim Nazi membantai 6
juta penduduk Yahudi? Kenapa elite Jerman dalam struktur
penguasa Nazi rela saja menjadi antek dan pelaksana perintah
Herr Fuehrer yang tidak manusiawi itu? Bukankah itu berarti,
selain Hitler, ada jenderal, marsekal, laksamana dan menteri
serta pejabat dan pegawai negeri serta polisi dan tentara
Jerman bahkan orang sipil biasa yang terlibat dalam pekerjaan
sadis, pembantaian massal orang Yahudi.
Film yang disutradarai Oliever Hirschbiegel itu juga menyingkap
bagaimana istri Menteri Propaganda Hitler, Magda Goebbels
begitu tega memaksa 6 anak-anak kecil remajanya minum racun,
sebelum membunuh diri dengan saling menembak bersama suaminya,
menyusul Hitler dan istrinya Eva Braun.
Pada 30 April 1945, Hitler menembak kepalanya sendiri, sedang
Eva minum racun sianida. Mayat kedua orang ini langsung
disiram bensin oleh ajudan setianya dan dibakar, begitu
pula Goebbels suami istri. Sementara elite sekeliling Hitler
sendiri ada yang tewas, bunuh diri atau dihukum mati oleh
Mahkamah Perang Sekutu. Sekretaris pribadi Hitler hidup
segar bugar sampai usia tua dan menjadi nara sumber film
Downfall karena ia baru meninggal pada tahun 2002.
Setelah Nazi Hitler maka rezim komunis Uni Soviet, RRT dan
satelit-satelitnya yang berteriak tentang kelas buruh yang
berkuasa, ternyata telah membunuh ratusan juta manusia di
bawah diktator proletariat Marxism keji. Delapan tahun yang
lalu, 6 intelektual kiri Prancis dengan editor Stephanie
Courtois berani menerbitkan buku berjudul Livre Noir du
Communism (Buku Hitam Komunisme). Dalam buku itu dimuat
statistik perkiraan pembantaian penduduk di bawah rezim
komunis yang mendirikan bulu roma.
RRT membunuh 65 juta orang, Uni Soviet 20 juta, Korea Utara
dan Kamboja masing-masing 2 juta, Afrika 1,7 juta, Afghanistan
1,5 juta, Eropa Timur 1 juta, Amerika Latin 150.000. Arnold
Beichman, peneliti senior pada Stanford University menyatakan
bahwa di abad ke 20, lebih banyak penduduk sipil mati dibunuh
oleh pemerintahnya sendiri, ketimbang musuh dari luar negeri.
Buku setebal 856 halaman, rincian detail korban di RRT,
menurut Jean Louis Margolin adalah kelaparan akibat kebijakan
Great Leap Forward 1959-1961 yang memakan korban 20-43 petani
miskin Tiongkok. Kelaparan yang sama pernah menimpa komunisme
Soviet di bawah Lenin tahun 1922 sejumlah 5 juta jiwa.
Semua ini selalu dihalalkan oleh para VIP, VVIP tokoh tokoh
sebagai korban sejarah. Oknum-oknum seperti Hitler, Lenin,
Stalin, Mao Zedong, Pol Pot, Kim Ilsung dan anaknya Kim
Jongil semua adalah diktator yang tega menyaksikan rakyatnya
mati kelaparan atau sengaja dibunuh karena dianggap mau
berontak terhadap rezim komunis.
Di abad 21 ini, masih juga ada orang yang selalu memberhalakan
negara untuk menghakimi orang lain secara tidak manusiawi.
Lawan politik diracun seperti Munir, rakyat biasa dibantai
di Darfur, di Poso, di Ambon, di mana saja orang biasa mati
berguguran akibat tingkah laku tengik penguasa sewenang-wenang
yang menganggap orang biasa sekadar angka statistik.
Orang biasa yang dibunuhi itu sebagian juga terkena penyakit
gampang dihasut untuk saling bunuh sesamanya oleh elite
brutal, beringas dan keji. Para oknum itu tega membuat argumen
atau menyalahgunakan slogan muluk atau pesan luhur bukan
sekadar berhala negara, tapi juga membajak agama untuk membenarkan
saling bunuh antara orang biasa. Inilah riwayat perang saudara
di pelbagai bangsa negara dari abad ke abad sejak Adam sampai
abad yang kita jalani sekarang ini.
Menyedihkan bahwa masih saja ada elite dan oknum yang memperjualbelikan
slogan martir, syahid, dan segala macam "ucapan luhur
muluk" yang akhirnya hanya bermuara kepada kematian,
teror dan kebinasaan manusia secara sia sia. Akhirnya jutaan
manusia dan orang biasa yang diatasnamakan oleh VIP dan
VVIP itu mati konyol, semua tanpa ada catatan sejarah tentang
namanya, kecuali angka dan jumlah, sekian puluh juta.
Merupakan tanggung jawab manusia modern abad 21 untuk mengupayakan
lompatan hati nurani yang serius untuk menyatakan stop pembunuhan
orang biasa oleh VIP, VVIP yang memberhalakan negara, membajak
agama dan menghujat Tuhan, dengan kesombongan untuk mewakili
"Allah" ingin menghukum orang lain yang dianggap
kafir.
Kalau sistem VIP dan VVIP model Hitler, Stalin, Mao di"sakral"kan
jadi perang sabil maka dunia akan terancam oleh genosida
jutaan manusia lagi yang mengatasnamakan Allah dan agama
secara keliru, keblinger dan durhaka. Orang biasa yang terlindungi
HAM-nya itu sekarang hanya hidup tenang di negara maju Barat.
Di bagian dunia lain, orang biasa sangat sulit hidup layak
dan selalu dipersulit oleh orang VIP dan orang VVIP yang
hanya memikirkan diri sendiri, kekuasaan sendiri dan pelestarian
kenikmatan kekuasaan untuk tujuh turunan.
ORANG biasa negara berkembang begitu rajin sampai rela melanglangbuana
mencari pekerjaan di mana saja di muka bumi. Tapi elite
penguasa yang korup dan tidak mampu menciptakan lapangan
kerja di dalam negeri, justru tidak memelihara semangat
solidaritas dan mengupayakan kondisi kerja yang harmonis
dan menguntungkan. Banyak justru yang mencaci maki negara
tujuan yang memberi penghidupan dan pencaharian layak untuk
para imigran Dunia Ketiga.
Nuansa sara dalam konflik Dunia Ketiga (Negara berkembang)
dengan negara maju yang menjadi sasaran imigran tenaga kerja
SARA semakin mendominasi dan mengganggu interaksi positif
dunia dalam satu pasar yang terkait satu sama lain.
Konflik bernuansa SARA ini bisa memperpanjang konflik peradaban
dan perang global melawan teori sehingga sulit dibayangkan
kapan orang biasa akan menikmati pembangunan dan peradaban
manusia abad 21. Sudah 60 tahun sejak Hitler bunuh diri
di bunker Berlin, tapi tetap saja orang biasa jadi korban
dimana saja dimuka bumi, karena rezim totaliter model Nazi
ternyata masih berpeluang hidup di abad 21 ini.
Richard Cohen mengingatkan dalam The Washington Post, 26
April bahwa tiran bengis masih bisa hidup, karena ada orang
biasa yang rela menjadi pendukung dan penggembiranya. Karena
orang VIP dan VVIP yang kejam juga perlu pelaksana orang
biasa untuk membantai sesama orang biasa.
Inilah realitas pahit kehidupan dan tragedi kemanusiaan.
* M (CW/SP/IM)
|