|
 |
|
Pertama
dalam 60 Tahun, Pimpinan Kuomintang dan Komunis Bertemu
 |
Beijing, Jumat
- Ketua Partai Komunis China (PKC) Hu Jintao yang juga menjabat
Presiden China menggelar pertemuan bersejarah dengan Ketua
Partai Nasionalis Taiwan atau Kuomintang (KMT) Lien Chan,
Jumat (29/4), di Beijing. Ini adalah pertemuan pertama pimpinan
kedua partai yang bermusuhan sejak beberapa dekade lalu.
Sebelum pertemuan Hu-Lien, pertemuan terakhir kedua partai
terjadi tahun 1945 yakni antara Ketua KMT Chiang Kai-shek
dan gerilyawan komunis Mao Zedong tahun 1945. Ketika itu,
Chiang-Mao bertemu untuk mengusahakan terciptanya pemerintahan
persatuan nasional. Namun, pertemuan mereka gagal mencapai
kesepakatan.
Setelah itu, kedua partai terlibat dalam perang saudara
tahun 1949 yang dimenangkan PKC. Sejak saat itu, KMT melarikan
diri ke Taiwan dan membuat pemerintahan sendiri.
Hu menegaskan, pertemuannya dengan Lien merupakan pertemuan
bersejarah di antara kedua pemimpin partai yang lama bermusuhan.
Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin menyerukan penghentian
permusuhan. Mereka bersalaman dan tersenyum di hadapan sekelompok
fotografer di Great Hall of People di Beijing. Tidak ada
perjanjian yang mereka tanda tangani bersama.
Hu mengatakan, "Meski perbedaan di antara kedua partai
tetap ada, sepanjang keduanya dapat menempatkan kepentingan
bangsa China dan kemakmuran bersama antarsaudara setanah
air, kita akan mengatasi perbedaan itu dan
menciptakan masa depan yang cerah."
Hu mengakui bahwa hubungan antara Taiwan dan China Daratan
cukup rumit. Namun bagaimanapun, kunjungan Lien telah menyuntikkan
vitalitas baru ke dalam hubungan kedua pihak.
"Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat China
di dua sisi Selat (maksudnya China dan Taiwan) memiliki
kemampuan dan kebajikan untuk menyelesaikan pertentangan
dan masalah," kata Hu.
Beijing dan Taipei, lanjut Hu, harus memfokuskan pada perdamaian,
stabilitas, dan pembangunan untuk masa depan.
Pada kesempatan yang berbeda, Lien menambahkan, apa yang
dibutuhkan Taiwan dan China saat ini adalah merealisasikan
rekonsiliasi dan perdamaian.
"Inilah (rekonsiliasi) yang kami inginkan, sebab kami
ingin menghindari konfrontasi di Selat Taiwan. Rakyat kami
ingin melihat dialog dan rekonsiliasi, serta kerja sama,"
kata Lien di depan mahasiswa di Universitas Peking sambil
menekankan pentingnya kedua pihak untuk melupakan masa lalu.
Lien menyerukan kepada Pemerintah China dan Taiwan untuk
mempertahankan status quo, yakni situasi di mana China tidak
akan menyerang Taiwan selama Taiwan tidak mendeklarasikan
kemerdekaan secara formal.
Dia menilai, China memiliki keinginan untuk mereformasi
politik. Dia memberi contoh, pemilu nonpartisan di tingkat
desa telah dilakukan China. Hal itu akan memperpendek jurang
pemisah antara China dan Taiwan.
"Tidak masalah seberapa cepat dan luas reformasi politik
di China, yang penting masih ada ruang (di China) yang memungkinkan
(demokrasi) berkembang."
Pertemuan kedua pemimpin itu mendapat sambutan positif sebagian
mahasiswa di Beijing. Su Yonggan, mahasiswa, berpendapat,
kedatangan pemimpin KMT ke China setelah sekian puluhan
tahun sangat penting untuk meredakan ketegangan. "Tidak
seorang pun ingin berperang," katanya.
Dikecam
Di Taiwan, anggota parlemen dari Partai Demokratik Progresif,
Chen Chin-jun, menyatakan kecewa dengan perjalanan Lien
Chan ke negara musuh. Kepergian Lien dianggap tidak mewakili
pandangan mayoritas rakyat Taiwan.
"Dia tidak menekankan ini, sebaliknya dia menekankan
ide China Raya. Mana perasaan dia sebagai orang Taiwan,"
tegas Chen Chin-jun.
Reaksi berbeda ditunjukkan oleh Presiden Taiwan Chen Shui-bian.
Beberapa jam sebelum pertemuan Hu-Lien, dia menolak kemungkinan
perjanjian kemitraan ekonomi (CEPA) China-Taiwan yang ditawarkan
Pemerintah China kepada Taiwan melalui Lien Chan.
"Jika perjanjian itu diwujudkan, itu pasti merendahkan
martabat Taiwan. Taiwan akan diubah sebagai kawasan administratif
khusus (China), diubah menjadi Hongkong kedua atau Makau
kedua," kata Chen, prokemerdekaan. M (AP/AFP/Reuters/BSW/Kom/IM)
|