|
 |
|
Seminar
Pendidikan di KBRI Berlin.
Oleh:Haripurnomo.
Pokok-pokok pikiran
Diselenggarakannya seminar pendidikan di KBRI Berlin kali
ini adalah merupakan praktek kongkrit dari pendemokrasian
dibidang pendidikan, sebab seminar ini tidak menutup kemungkinan
untuk ikut sertanya masyarakat non pemerintah (individu)untuk
menyampaikan wacananya dalam ikut serta membangun kesadaran
dan budaya bangsa Indonesia. Mudah-mudahan seminar ini akan
menghasilkan suatu prestasi besar dibidang kesadaran dan
kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam pemikiran, tuliskan
ataupun yang terucapkan, sehingga memberikan kemungkinan
terjadinya proses evolusi kebudayaan dan kesadaran yang
sehat dan kreatif.
Dalam seminar pendidikan ini akan saya singgung masalah
strategi pembangunan industri yang berkelanjutan, oleh karena
itu dalam seminar ini akan saya kaitkan masalah evolusi
kebudayaan IPTEK (Ilmu –Pengetahuan dan Teknik) yang berkaitan
dengan kemanuajuan-kemajuan Bisnis yang terus akan berkembang
(seperti yang terlukiskan dalan bukunya Thomas L Friedeman
yang berjudul The Luxus and the Olive Tree) disamping adanya
gerakan bersih lingkungan (Ekologi dan HAM). Dengan demikian
kita akan dapat memberikan jawaban pada pertanyaan : Apakah
betul manusia dengan perkembangan ilmu pengetahuannya yang
terus bertambah itu dapat mengalami kemajuan kesadarannya
untuk turut dan mampu berpartisipasi dan mengendalikan evolusi
kebudayaannya sendiri, atau manusia akan terlibat dalam
benturan-benturan keras antara The Luxus (Teknologi globalisasi)
dan Olive Tree (yang mewakili tehnik lokal atau tradesi
lokal).
4 Aspek
Untuk melaksanakan IPTEK secara baik dan menjaga adanya
keteraturan, maka saya ajukan tema PENDIDIKAN SECARA ITEGRAL,
artinya suatu pendidikan yang menjangkau empat aspek (demensi)yang
berkaitan dengan sifat intern setiap individu manusia, yaitu
:
1. Aspek intern dari kesadaran individu jiwa manusia, yaitu
kemampuan perasaan individu manusia dalam menerima dan menanggapi
adanya gejala-gejala yang ada diluarnya, kepekaan perasaannya
dan emosinya. (untuk ini diperlukan adanya perubahan Paradigma,dalam
system berpikir dan pandangan hidup)
2. Aspek extern dari kesadaran idividu jiwa manusia, yaitu
adanya pengaruh biologis dari organ-organ tubuh,genetis,
otak manusia, misalnya limbise system adalah berfungsi untuk
penggendalian adanya perasaan jiwa seperti misalnya rasa
malu, takut,lapar, haus, sexualitet dll.(Ini berkaitan dengan
pemeliharaan kesehatan yang ada kaitannya dengan masalah
lingkungan atau ekologi,yang pada pokoknya adalah masalah
kesejahteraan hidup)
3. Aspek kebudayaan kolektif. Ini meliputi seluruh aspek
dari nilai-nilai intern dan identitet dimana manusia bermasyarakat,
berkelompok, suku bangsa, keagamaan atau kepercayaan.(kebebasan
beragama,kesadaran pluralisme)
4. Aspek sosial dalam masyarakat.Ini meliputi seluruh aspek
luar (extern), misalnya, partai politik,institusion, system
masyarakat dll. Diperlukan paradigma baru dalam system management
yang berasaskan pada system holarki (system berpikir secara
holaris) dan masalah demokrasi.
Dengan system pendidikan yang menjangkau empat demensi inilah
diharapkan setiap individu manusia akan dapat mempunyunyai
rasa tanggung jawab yang konsisten terhadap ikut sertanya
dalam kehidupan masyarakat.
Etika baru
Peranan keempat aspek diatas akan terasa dalam bidang IPTEK,
sebagai misal :
Jika para pakar dibidang IPTEK terus melakukan percobaan-percobaan
barunya dan kemudian di produksi, maka bisa dibanyangkan
apakah yang akan terjadi di dunia ini, apakah yang akan
menimpa alam semesta beserta semua kehidupan yang ada di
dunia ini. Dalam hal ini Bill Joy, salah seorang pendiri
dari " Sun Microsystems" pada tahun 2000 sampat
menulis sebuah artikel dalam Majalah < Wire> dengan
tema " Why the Future Doesn't Neet Us". Mengapa
sampai-sampai Joy Menulis artikel tersebut karena Joy telah
memikirkan akibat yang akan terjadi jika perkembangan maju
IPTEK selanjutnya dalam evolusi kebudayaan Ilmu Pengetahuan
manusia khususnya dalam penyelidikan- penyelidikan soal
Genitik, Penyelidikan Robot secara ilmiah dan perkembangan
Nanotechnology dalam waktu kira-kira 50 tahun mendatang
akan menjurus pada hilangnya peradaban kemanusian. Melalui
Genitik, maka negara-negara maju (Postmodern), sengaja atau
tidak sengaja mereka akan memunculkan adanya penyakit "Pest
Putih". Dengan adanya kemajuan- kemajuan IPTEK yang
sangat canggih dibidang Genetik dari negara-negara maju,
akan dapat diperkirakan kemungkin adanya pemindahan atau
trasformasi kesadaran manusia kedalam Robot-robot super
canggih, sehingga dengan demikian akan habislah riwayat
peradaban umat manusia di dunia ini. Dengan perkembangan
Nanotechnology akan terjadilah situasi yang mengerikan dan
kejam, sebab dengan Nanotehnologi, Biosphere dalam waktu
beberapa hari saya dapat di jadikan debu. Jika kita perhatikan
masalah-masalah tersebut diatas, maka disinilah nampak perlunya
untuk ditegakkan adanya nilai-nilai baru dibidang Etika
bagi manusia. Suatu Etika yang tidak hanya mengabdi pada
manusia dan HAM, tetapi juga mengabdi pada seluruh kehidupan
yang ada dialam semesta ini. Suatu etika yang berazas pada
pandangan-pandangan ekologi.
Oleh karena tujuan dalam memajukan pendidikan dinegeri kita,
adalah untuk membangun kebangkitan bangsa Indonesia, maka
dewasa ini kita didesak untuk segera melaksanakan reformasi
sosial dan budaya secara fundamental atau mendasar. Hal
ini dirasa perlu sebab kebangkitan suatu bangsa itu adalah
merupakan fungsi dari system sosial bangsa itu sendiri secara
keseluruhan. Dengan adanya reformasi sosial yang fondamental
atau mendasar, maka seluruh Rakyat Indonesia dapat turut
merasakan proses emansipasi dalam seluruh aspek kehidupannya
dan dapat mengenyam berbagai pendidikan seprti di negara-negara
maju pada umumnya.
Berlin, 03.05.2005
|