|
 |
|
Indonesia
Mengembangkan Hubungan Kerjasama Pendidikan Dengan USA
Oleh: Robert Kounang, M.D.
 |
Dutabesar
B. Lynn Pascoe bersama delegasi American Indonesian
United di Konferensi Bilateral, Jakarta, 17 Maret
2005 |
Konferensi
bilateral tentang pendidikan antara Indonesia dan AS yang
diadakan di Jakarta tgl. 17-18 Maret telah memberikan nafas
baru kepada kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat
dalam bidang pendidikan.
Konferensi yang dihadiri oleh lebih dari 200 orang rector,
dekan, professor dan administrator dari 62 universitas di
Indonesia dan 19 universitas dari AS, juga 46 orang yang
mewakili pemerintah, organisasi-organisasi pendidikan dan
kemasyarakatan dari Indonesia, AS, Australia, Canada, Perantjis,
Inggris, Jepang dan Negeri Belanda itu, telah dibuka oleh
Prof. Dr. Satryo Brodjonegoro, Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional R.I. mewakili Menteri
Pendidikan Nasional, dan ditutup oleh Dr. Kusmayanto Kadiman,
Menteri Riset dan Teknologi. Juga berbicara dalam konferensi
tersebut antara lain Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti,
guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, mantan
Dutabesar R.I. untuk AS.
Pertemuan ini diselenggarakan atas kerjasama Departemen
Pendidikan Nasional R.I. (dahulu Departemen P & K) dan
United States-Indonesia Society atau (USINDO) yang berkedudukan
di Washington dan disponsori juga oleh Kedutaan Indonesia
di Washington, Kedutaan AS di Jakarta dan Henry Luce Foundation,
New York, USA.
Peserta konferensi dari AS juga adalah beberapa pengurus
American-Indonesian United, di Redlands, California, yaitu
perkumpulan orang-orang Indonesia yang bertujuan memajukan
pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dr. Robert
Kounang, presiden, Jack Kussoy, sekretaris jenderal, dan
Benny Kaunang, Public Affairs, menghadiri pertemuan dua
hari tersebut termasuk diskusi kelompok yang diadakan untuk
memformulasikan naskah persetujuan.
Dengan menggunakan dana yang telah dijanjikan oleh Pemerintah
AS dan tambahan dana yang diharapkan dari Pemerintah AS,
Indonesia dan beberapa Negara lain, universitas-universitas
Indonesia akan mengirim beratus-ratus dosen dan kandidat-kandidat
lainnya untuk program doctor filsafat di AS. Sejumlah $135
juta akan diperlukan untuk membiayai pendidikan 400 calon
Ph.D. Indonesia di AS dalam tujuh tahun mendatang. Ini akan
memecahkan masaalah kekurangan tenaga Ph.D. di 40 universitas
di Indonesia.
 |
| Rektor
UNDIP Prof. Dr. Eko Budihardjo didampingi Prof. Achmad
Busro (Hukum) dan Prof. Yohannes Sidabutar (Kelautan)
memberikan penjelasan kepada Dr. Smith dari Fakultas
Hukum USC. |
Telah disepakati
dalam konferensi untuk melaksanakan kontak langsung dan
kerjasama langsung antara universitas di Indonesia dan di
AS. Akan dikembangkan kerjasama antar departemen (tingkat
dekan, bukan lagi tingkat rector) untuk pertukaran dosen
dan mahasiswa untuk belajar, mengajar dan penelitian. Proses
globalisasi akan merobohkan dinding-dinding pemisah geografis
di antara bangsa, masyarakat dan ekonomi jadi Indonesia
mesti memperlengkapi diri dengan informasi dan teknologi
yang tercanggih mungkin di dunia. Satu cara untuk melakukan
hal ini adalah badan-badan ilmiah Indonesia mesti bekerjasama
dan melakukan riset bersama dengan pusat-pusat studi dan
riset yang terkemuka di dunia seperti yang ada di universitas-universitas
AS.
Para peserta konferensi sependapat bahwa masa depan Indonesia
ditentukan oleh tersedianya pemimpin-pemimpin yang terlatih,
berpengetahuan dan berdisiplin dan yang mengabdikan diri
mereka kepada kepentingan nusa dan bangsa serta kesejaht
eraan masyarakat umum. Pendidikan yang baik merupakan kunci
untuk mencapat tujuan itu. Pemerintah Indonesia yang baru
juga tentunya akan menyokong usaha ini.
Tiga minggu sesudah konferensi bilateral tersebut rombongan
Universitas Diponegoro Semarang tiba California untuk kunjungan
selama 10 hari dengan maksud meninjau beberapa universitas
terkemuka di daerah Pantai Barat AS.
Tim Universitas Diponegoro dipimpin oleh Rektor Prof. Dr.
Eko Budihardjo dan disertai dekan-dekan delapan fakultas,
yaitu Prof. Dr. Achmad Busro (Hukum), Prof. Dr. Bambang
Srigandono (Hewan dan Pertanian), juga koordinator tim,
Prof. Dr. Kabulrachman (Kedokteran), Prof. Dr. Ludfi Santosa
(Kesehatan Masyarakat), Prof. Dr. Moch. Ghabachib (Ekonomi),
Prof. Dr. Sri Eko Wahyuni (Teknik), Prof. Dr. Sri Rahayu
Prihatmi (Sastra) dan Prof. Dr. Yohannes Hutabarat (Perikanan
dan Kelautan).
Selama kunjungan tim telah mengadakan pembicaraan-pembicaraan
dengan pimpinan departemen, direktur program dan dosen-dosen
di University of Las Vegas, Cal State University Fullerton,
Cal Poly Pomona, University of California San Diego, University
of Southern California, dan University of California Los
Angeles, untuk maksud membentuk program-program kolaborasi
dengan Universitas Diponegoro.
American-Indonesian United, atas saran Dr. Harris Iskandar,
Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar R.I. di Washington,
D.C., menyertai rombongan guru-guru besar Universitas Diponegoro
selama kunjungan dan mendampingi tim dalam pembicaraan-pembicaraan
dengan pihak US. Pertemuan-pertemuan ini merupakan realisasi
dari tujuan dan tekad yang telah diambil dalam konferensi
bilateral bidang pendidikan bulan lalu di Jakarta yang juga
dihadiri oleh delegasi American-Indonesian United.
 |
| Dr. Joyce Mann,
Policy Planning USC, memberi penjelasan kepada team
UNDIP |
Kunjungan ke UC San Diego
telah dilanjutkan ke Scripps Institute of Oceanography yang
terkenal di dunia, dimana tim Diponegoro diterima oleh Vice
Chancellor Dick Attiyeh dan Dr. Lisa R. Shaffer, Direktur
Policy Programs dan Hubungan Internasional. Pertemuan ini
membuka kemungkinan kerjasama dengan Fakultas Perikanan
dan Kelautan Universitas Diponegoro. Pelestarian daerah
pantai dan hewan dan tanaman laut serta pembinaan lokasi
perairan untuk perikanan dan pariwisata, dua program yang
dikelola dengan sangat baik oleh Scripps Institute, merupakan
bidang-bidang usaha yang menarik bagi tenaga-tenaga ahli
dan peneliti Universitas Diponegoro yang menekuni masalah
pelestarian wilayah pantai Semarang dan Jawa Tengah.
California Polytechnic University di Pomona memiliki program
Kehewanan dan Pertanian khusus serta program lainnya yang
juga diminati oleh para dekan-dekan tamu untuk dikembangkan
menjadi program kerjasama. Demikian pula California State
University Fullerton memiliki banyak program-program yang
memiliki potensi untuk dijadikan proyek kerjasama.
Di University of Southern California telah diadakan pertemuan-pertemuan
terpisah dengan pimpinan universitas dan guru-guru besar
USC yaitu Prof. William Rideout (Jurusan Pendidikan), Dr.
Joyce Mann, Dr. Dr. Erlyana, Dr. Jeffrey Kealing dan Dr.
Shelly Westebbe (Policy Planning), Dr. Anderson Johnson
(Kedokteran), Prof. Koichi Mera (Manajemen), dan Dr. Barbara
Call serta Dr. Smith (Hukum). Kunjungan rombongan yang terakhir
adalah di University of California Los Angeles dimana rombongan
mengadakan pertemuan dan tour bersama Dr. Barbara Gaerlan,
Assistant Director of Center for International Institute
for South Asean Studies.
Semua pertemuan dan rapat sangat bermanfaat dan sarat informasi,
dan kesemuanya memberikan kemungkinan untuk program studi,
riset dan pengambangan yang dapat dijadikan proyek-proyek
kolaborasi antara Universitas Diponegoro dengan universitas-universitas
AS tersebut., hal mana diharapkan dapat memacu perkembangan
sains dan teknologi di Indonesia dan juga memperkaya pemahaman
negeri asing bagi AS. Waktu kunjungan yang sangat terbatas
di setiap universitas menyebabkan rector dan dekan-dekan
Universitas Diponegoro tidak bisa merampungkan suatu perjanjian
kerjasama, dan untuk itu American-Indonesian United diharapkan
dapat membantu usaha tindak lanjutnya.
Konferensi bilateral untuk pendidikan tgl 17-18 Maret yang
lalu di Jakarta telah membuahkan kesepakatan yang mendorong
semua universitas di Indonesia untuk menjangkau keluar dan
membentuk pola-pola kerjasama dengan universitas-universitas
di AS demi untuk membantu Indonesia menghadapi globalisasi.
Keberhasilan rencana ini memerlukan dukungan semua badan
di dalam dan luar negeri. American-Indonesian United akan
membantu usaha ini sedapat mungkin.
|