Renungan Mother’s Day

Tidak ada sistem etika yang lebih berpengaruh pada keluarga di Asia dibandingkan dengan konsept Konfusianisme mengenai bakti = filial piety (Xiao) di mana hubungan antara orang tua dan anak menduduki prioritas teratas. Bakti terhadap orang tua ini lebih dikenal dengan perkataan “hauw” atau “u-hauw”
Perlu diketahui bagi orang Tiong Hoa adalah hinaan yang paling berat, apabila disebut “Puthauw” alias tidak berbakti terhadap orang tua.
Banyak orang menuduh seakan-akan etnis Tiong Hoa, terutama menjelang hari raya Imlek, menghormati orang tua mereka secara terlalu berlebihan sehingga ini dinilai tidak sejalan dengan ajaran Kristen. Apakah benar demikian?
Di dalam dasa titah, perintah pertama setelah empat titah menata hubungan vertikal dengan Allah, perintah berikutnya adalah “hormatilah ayah & ibumu” ini disebut lebih dahulu daripada membunuh, mencuri, berzinah. Bahkan kalau tidak menurut perintah ini hukumannya pun tidak kepalang tanggung ialah hukuman mati jadi hukumnya setara dengan menghujat Allah! Tidak ada hukuman yang seberat ini di dalam dasa titah lainnya.
Menurut ajaran ini, tidak ada yang lebih keji dari pada perbuatan seorang anak ”put hao”-anak durhaka yang tidak berbakti terhadap orang-tua. Mengapa titah ini penting? Tidak lain karena ini merupakan urat nadi utama peradaban manusia. Ketika orang kehilangan rasa hormat kepada apa pun dan kepada siapa pun, maka hancur lebur pulalah peradaban serta merta.
Oleh sebab itulah tepatlah apa yang diucapkan oleh Konfucius:
Mendukung dan membantu orang tua tanpa hormat, seperti juga anjing-anjing dan kuda-kuda, sebab mereka juga melakukan hal yang sama untuk membantu dan mendukung. Tanpa rasa hormat mendalam apa bedanya kita manusia dengan hewan-hewan tersebut.
Apakah Anda mengasihi Ibu Anda? Apakah Anda masih ingat betapa besar kasih sayangnya Ibu Anda?
Sebagai ilustrasi mengenai hauw ini mang Ucup berusaha untuk menuangkannya dalam artikel dibawah ini:
Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 th, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal dirumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut seorang Bule, minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.
Disamping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahankannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya. Maklum ia adalah anak dari keluarga keturunan Tionghoa yang sangat menjungjung tinggi adat dan budaya Tionghoa.
Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapa, maklum bagi seorang gadis keturunan Tionghoa ini adalah aib yang sangat memalukan.
Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Sang Pencipta dimana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama „Love“ - Kasih. Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan diwaktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan satu2nya yang bisa ia dapatkan.
Terkadang ia harus menjahit s/d jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan di restaurant China di Amsterdam.
Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, disamping itu ia tidak mau putrinya mendapatkan seorang ayah tiri yg tidak mungkin akan bisa memberikan kasih sayang seperti ayah kandungnya sendiri.
Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan khusus untuk putrinya.
Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian s/d makanan.
Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca diluaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dalam keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan pergi bekerja.
Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dalam keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja terus, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja sehari pun juga hanya demi putrinya yang tercinta.
Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Disana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda Bule anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua, maklum putrinya merasa malu, bahwa ia adalah gadis indo, keturunan Tionghoa bukannya gadis Eropa tulen, walaupun dari segi penampilan orang tidak akan bisa membedakannya.
Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Terlebih lagi ia merasa malu mempunya seorang Ibu Cina. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.
Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak di undang, bahkan kehadirannya tidaklah di inginkan. Orang Chinese tidaklah layak untuk turut berbaur di gereja pesta pernikahannya orang Bule.
Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu.
Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya.
Untuk ini ia berdoa setiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Dirumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.
Dirumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinyada daripada dirinya sendiri. Disamping itu sering sekali di bentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dalam kamarnya yang kecil dibelakang dapur.
Ia selalu berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepada dirinya, karena ia sangat menyayangi putrinya.
Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantu Bule-nya merasa berhutang budi kepada pelayan Chinese tua yang setia ini, sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.
Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya, walaupun demikian uang pension yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan ditabung khusus untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.
Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Disamping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah atau angpauw terakhir untuk putrinya.
Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat dibawah nol dan saljupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena diluaran sangat dingin sekali, tetapi Nenek Chinese tua ini tetap memaksakan dirinya untuk pergi kerumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali.
Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus ber-jam-jam diluar. Ia harus dua kali gonta-ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat dimana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang Nene tua yang berada dalam keadaan sakit sekarat
Setiba dirumah putrinya dalam keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong dimana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia di tegor: “Kamu sudah bekerja dirumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu dibelakang rumah!”
“Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena diluaran sangat dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!” kata wanita tua itu dengan suara yang terisak-isak2, karena kecapaian dan kedinginan.
“Maaf saya tidak ada waktu, disamping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja, sebab kurang baik apabila ada seorang Nenek Chinese disini. Dan kalau lain kali mau datang, jangan lupa telpon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja, emangnya rumah Lho!“ ucapan putrinya dengan nada geram karena kesal. Setelah itu pintu di tutup dengan dibanting keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga layaknya mengusir seekor anjing, pengemis pun akan lebih dihormati, karena ia tidak akan diusir dengan cerca makian. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih; belas kesianpun sudah tidak tersisakan lagi.
Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon dirumah putrinya “Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon kekantor polisi, sebab dihalte bus di depan ada seorang nenek Chinese meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!” Wanita China tua ini mati bukan hanya karena kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga hati dan perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama masa hidupnya, karena putrinya merasa malu untuk mengakui bahwa ia adalah seorang gadis keturunan Tionghoa.
Ibunya Mang Ucup tidak melek komputer, bahkan beliau adalah seorang wanita yang buta aksara, tetapi untuk mang Ucup pribadi beliau adalah wanita yang paling hebat, dimana s/d detik ini mang Ucup masih bisa belajar dari padanya. Belajar memberikan dan membagikan kasih tanpa pamrih dan tanpa lagas. Ibunya mang Ucup menderita sakit kanker, tetapi ia tidak pernah mengeluh. Tiap kali saya menelpon Ibu, pertanyaan standard selalu diajukan kepada saya: “Apa yang Ibu bisa bantu untukmu nak?” Ia tidak memohon untuk dirinya sendiri dalam doanya, yang ia utamakan selalu hanyalah kami anak2nya! Ia selalu mendoakan kami siang dan malam. Hanya sayangnya nama saya sudah tidak disebut lagi dalam doanya, karena Ma Anie Ibunda Mang Ucup sudah meninggal dunia.
Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari2 tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari2 tertentu saja, sedangkan di hari2 lainnya tidak pernah mengingatnya, boro2 memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita sudah tidak punya waktu lagi. Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu saja untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah.
Renungkanlah:
Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu?
Kapan kita terakhir mengundang Ibu?
Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan2?
Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita?
Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?
Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.
A thousand men may build a city, but it takes a mother to make a home.
Apabila Anda mengasihi Ibunda Anda sebarkanlah tulisan ini kepada rekan-rekan lainnya, agar mereka juga sadar selama Ibunda mereka masih hidup berikanlah bakti kasih Anda kepada Ibunda terkasih sebelumnya terlambat. " (Mang Ucup - The Drunken Priest/IM)

     

 


FastCounter by bCentral