Seribu Kambing untuk Seribu Bencana
OLEH MUHAMMAD AMIN

Entah mengapa kita kini beruntun ditimpa bencana. Mulai dari gempa di Nabire, Papua, gempa dan Tsunami di Aceh, gempa di Nias, gempa di Mentawai, Sumbar, dan meletusnya gunung Talang di Solok serta ‘batuk’nya Merapi di Agam/Tanah Datar.
Banjir juga terjadi di beberapa tempat di tanah air, di Jambi, Palembang, Kalimantan, Jakarta, termasuk Riau. Semuanya menuntut korban nyawa dan harta yang tidak sedikit. Puncaknya adalah bencana terbesar abad ini, tsunami di Aceh yang menelan korban lebih dari 200 ribu jiwa, jauh melebihi korban meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883.
Kejadian berturut-turut seperti ini hampir tak pernah terjadi dalam sejarah Indonesia. Bencana yang terjadi di negeri ini kerap kali datang secara parsial, memiliki selang waktu. Biasanya, masyarakat masih bisa bernafas sedikit untuk berbenah, menolong sesama dan menatap masa depan. Tapi sekarang bencana susul menyusul.

Seribu Kambing

Kerapnya bencana pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini mulai ada yang mengatakan pemerintahan ini dengan masa seribu bencana. Dengan kondisi ini, maka pemerintah dituntut untuk menghadapi bencana dengan serius.
Dari sekian banyak perspektif penanganan bencana, masuk juga sudut pandang klenik. ‘Negeri seribu bencana bencana’ ini harus dido’akan, diruwat, bahkan dibuat persembahan. Mungkin ada yang ‘salah’ pada negeri ini, pada rakyatnya, pada wilayahnya dan pada para pengurusnya. Oleh sebab itu, perlu ada persembahan khusus.
Terbetik kabar, ada saran bahwa ‘negeri seribu bencana’ ini perlu mempersembahkan seribu kambing. Presiden SBY diminta menyembelih seribu kambing untuk menolak bala. Permintaan menyembelih seribu kambing itu disampaikan langsung kepada SBY lewat sebuah SMS gelap.

Namun SBY ternyata bersikap cukup elegan dan rasional. Presiden mengatakan, jika dirinya sibuk mengikuti anjuran SMS yang luar biasa unik itu, mungkin dia tak dapat datang ke tempat bencana, memimpin rapat dan mengendalikan operasi tanggap darurat. SBY menyarankan masyarakat tetap waspada terhadap segala bentuk bencana yang kemungkinan akan datang, namun hendaknya tak percaya dengan kabar bohong.
Bencana yang terjadi di tanah air berupa gempa dan tsunami, bahkan letusan gunung dapat dijelaskan dan diuraikan secara ilmiyah. Indonesia pada umumnya secara geologis memang berada pada ‘jalur gempa’. Yang termasuk wilayah rawan gempa itu adalah pantai barat Sumatera mulai dari Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi, Bengkulu dan Lampung, pantai selatan Jawa, Bali, Nusa tenggara dan Papua.

Untuk menghindari bencana ini, SBY menyarankan untuk berdo’a, mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan malah mempercayai takhayul. Presiden bahkan cukup gerah dengan maraknya SMS yang beredar yang menyebutkan kota-kota lain seperti Jakarta juga akan terkena gempa dan Tsunami dengan kekuatan yang lebih dahsyat. Namun setelah dicek ke BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika), ternyata itu hanya berita bohong. SBY bahkan meminta Kapolri mengusut penyebar SMS yang sudah meresahkan ini.

Menyebarnya klenik dan takhayul di tengah suasana bencana memang tak dapat dihindari. Saran menyembelih seribu kambing untuk negeri seribu bencana ini adalah gambaran umum mentalitas rakyat Indonesia yang cepat menyerah, gampang putus asa dan justru memiliki iman yang tipis. Klenik dan kepercayaan kepada ‘kemarahan alam’ merupakan warisan terlama negeri ini yang sangat sulit dikikis habis.

Apalagi, beberapa media massa dan media elektronik menyebarkan informasi klenik dengan sangat terbuka, gencar dan tak henti. Nyaris tak ada stasiun TV yang tak menayangkan unsur klenik, baik berupa sinetron, film, reality show atau pun tayangan lainnya yang justru menyimpang dan membuat masyarakat semakin tersesatkan.
Pemirsa sering dikaburkan dengan pemahaman yang serba irrasional, serba klenik dan mencampuradukkan antara mitos dan realitas, antara ajaran agama dengan ajaran yang menyesatkan. Terjadi sinkretisme yang luar biasa dalam tayangan TV, yang juga bersumber dari banyak dan maraknya dunia supranatural, perdukunan, paranormal dan sejenisnya. Agama kerap dicampuradukkan dengan dunia perdukunan.

Agama dikecilkan perannya seolah hanya menjadi alat pengusir setan, pengusir hantu dan penolak bala saja. Bahkan kepercayaan itu dicampuradukkan dengan berbagai kepercayaan lain yang berasal dari nenek moyang. Padahal agama, khususnya Islam, tidak hanya digunakan untuk itu. Islam adalah agama yang rasional. Islam mengajarkan untuk berdo’a namun juga bertawakkal dan pasrah kepada-Nya.

Bencana seharusnya memang menjadikan kesadaran kita semakin kuat, bahwa Tuhan itu ada, bahwa Tuhan itu berkuasa dan dapat berkehendak sesuai dengan ketentuan-Nya. Bencana seharusnya menjadikan keimanan kita semakin tebal, bukan malah mencampur adukkannya dengan dunia klenik.

Sebenarnya, maraknya klenik dan sinkretisme di tanah air tak lepas dari iklim agraris yang dimiliki Indonesia pada umumnya. Sejak berabad-abad yang lalu, rakyat di negeri ini hidup dan menggantungkan kehidupannya dari bertani, berlayar dan mencari ikan.
Hal ini tanpa disadari menyebabkan mereka memiliki ketergantungan yang tinggi kepada alam. Jika terjadi ‘amukan alam’, maka mereka kerap beranggapan ada yang salah pada mereka. Sebagian mereka melakukan persembahan untuk meredakan ‘kemarahan alam’ ini.

Mereka juga kerap dihinggapi ‘kesialan’ dan harus diruwat. Hal ini terus diwarisi rakyat di negeri ini, terutama pada beberapa wilayah dengan ketergantungan alam dan memiliki fenomena alam yang ganjil. Masih dalam konteks ini, Presiden SBY boleh saja mengatakan tak percaya pada seribu kambing, dan tak akan mengabulkan saran dari SMS itu.

Namun dalam kenyataannya, sebagian pemilihnya sebagai presiden menjatuhkan pilihan kepada SBY karena ada unsur X. Sebagian rakyat negeri ini percaya bahwa SBY adalah Sang Ratu Adil, yang sudah diramalkan akan datang. SBY dimasukkan dalam ramalan ‘pemimpin yang dipilih’.

Namun karena mungkin ‘kurang syarat’, maka SBY perlu mengatakan ruwatan. Itulah kemudian muncul saran seribu kambing tadi. SBY tentu tak bersalah ketika diidentikkan dengan Ratu Adil, karena dia hanya ‘korban’ pemitosan. Presiden sendiri mungkin tak berkenan dimitoskan.

Untung saja, presiden tak mengabulkan klenik seribu kambing ini. Dengan demikian, batas rasionalitas dan irrasionalitas dapat diukur dengan jelas. Seribu kambing memang tak mahal bagi seorang presiden. Namun jika hal itu dikabulkan, apalagi dengan syarat kambing berwarna hitam, tentu bencana akan lebih parah lagi.

Bisa jadi, akan banyak ‘kambing hitam’ yang akan diungkap demi bencana. Kita akan menyalahkan pemerintah yang lamban, bahkan ‘mengkambinghitamkan’ Tuhan sebagai penyebab bencana. Padahal kata Tuhan, bencana adalah karena kesalahan manusia sendiri. Mari kita renungkan. " (MA/IM) *Pengamat sosial dan politik tinggal di Pekanbaru

     

 


FastCounter by bCentral