Semangat Bandung Tetap Berkobar!
Hidup Kebebasan dan Kemerdekaan!

Mengikuti Seminar Memperingati 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang Diselenggarakan secara massal Oleh Huakiao di Hongkong.

OLEH: OUYANG SHAN-REN (PENELITI HUAKIAO HONGKONG) 12 APRIL 2005
Alumni Sekolah Bandung di Hongkong telah menggunakan waktu hampir setengah tahun untuk mempersiapkan Upacara Memperingati 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika, yang meliputi Seminar disore hari dan Jamuan makan malam seribu orang, dan telah diselenggarakan dengan sukses pada tanggal 9 April 2005 di Gedung International Exhibition Kowloon, tingkat 3.

Inilah maksud hati puluhan ribu “Anak Bandung” yang sekarang hidup di Hongkong. Orang Tionghoa yang dilahirkan di Bandung Indonesia ini, sekalipun sudah berselang setengah abad dan merana dibeberapa tempat didunia, mereka selamanya tidak melupakan kampung halamannya, Bandung dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Dihati mereka Bandung tetap merupakan kota pegunungan yang sangat indah, disana mereka dilahirkan melewati masa remaja yang penuh dengan kenangan manis. Mereka telah menjalin persahabatan erat dengan rakyat setempat dari generasi kegenerasi, hidup berdampingan secara damai, bagaikan saudara kandung sendiri. Pada saat melawan kolonialisme Belanda, menentang agresi Jepang dan perjuangan menuntut kebebasan dan kemerdekaan, mereka bersama dengan rakyat berbagai suku lainnya, bersatu-padu, senasib sepenanggungan. Dengan demikian, yang membuat mereka merasa lebih bangga dan patut disombongkan adalah peristiwa yang terjadi genap 50 tahun yang lalu, yaitu diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang berhasil melahirkan “Semangat Bandung” yang jaya itu! Kebanggaan inilah, yang mendorong mereka untuk melaksanakan tugas dan kewajiban mewarisi dan mengembangkan “Semangat Bandung”! Bagi sebagian besar dari mereka, “Semangat Bandung” ini sudah sejak semula menjadi bagian dari pandangan hidupnya.

Hari ini, banyak diantara mereka sebenarnya adalah generasi yang tumbuh besar dengan disinari “Semangat Bandung”. Pada saat mengetahui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diakhir tahun lalu menyatakan akan menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika Baru dan memperingati 50 Tahun Konferensi Asia- Afrika, kami, Huakio asal Indonesia khususnya anak Bandung sangat bergembira, dan merasa sudah seharusnya juga ikut mengambil langkah kongkrit untuk menyokong kemauan baik Presiden Susilo Bambang Yodhoyono. Bertekad-bulat untuk menyelenggarakan kegiatan memperingati Konferensi Asia-Afrika 50 tahun secara besar-besaran yang bersifat massal, sebagai dukungan konkrit pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Mereka yang merasa dirinya sebagai anak salah satu negara promotor dan sebagai tuan rumah pada saat diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika, menulis surat pada Presiden Susilo dan Mantan Presiden Megawati Soekarno Putri, menyatakan ketulusan hati mereka untuk menyelenggarakan kegiatan peringatan KAA 50 Tahun di Hongkong. Mereka juga mengajukan rencana mereka ini pada konsulat 29 negara di Hongkong, peserta KAA ketika itu, termasuk juga Perwakilan Departemen Luar negeri Tiongkok di Hongkong, untuk mendapatkan dukungan dan sokongan. Sungguh sangat beruntung, Mahkamah Kehakiman Pemerintah Daerah Khusus Hongkong, Liang Ai-shi, Perwakilan Dept. Luar negeri Tiongkok di Hongkong Utusan Khusus Yang Wen-chang dan wakil Utusan Khusus Xie Xiao-yan, menyatakan kesediaan hadir pada Jamuan Makan-malam. Dan juga, beberapa pengurus Dept. Hubungan Luar-negeri Tiongkok dan belasan Konsulat di Hongkong, antara lain Indonesia, Burma, Thailand, Laos, India, Pakistan, Nepal, Viet Nam, Kamboja, Malaysia dan Singapore menyatakan kesediaan untuk ikut memeriahkan Jamuan Makan-malam Memperingati 50 Tahun KAA. Kecuali itu, Wakil ketua Kantor Urusan Huakiao, Zhu Hui-ling dan Wang Rong-pao dari Beijing juga menyatakan kesediaannya untuk hadir. Tokoh-tokoh Huakiao generasi tua yang ternama, seperti Xu Dong-liang dari Indonesia, Zhuang Shi-ping dari Thailand, Shu Shi-min dari Burma, serta Chen You-ching, Yu Guo-chun, Huang Guang-han dll., kemudian serombongan generasi-tua yang pada saat itu ikut menyaksikan jalannya Konferensi Asia-Afrika yang bersejarah itu, seperti Direktor Badan Risert Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia Ms. Kang Tai-sha, penterjemah Huang Shu-hai, Nyonya Konjen Konsulat RRT di Jakarta Ms. Fan Shu-nan, sekretaris Pribadi PM. Chao pada saat memimpin Delegasi RRT menghadiri KAA Mr. Yao Li, beserta keluarga yang mendampingi mereka, peserta Huakiao lainnya yang secara hangat merespon undangan, kawan-kawan Alumni sekolah Bandung yang datang dari berbagai tempat, Komisi Penyatuan Tanahiar, dari Taiwan Prof. Guo Jun-chi, serta Pimpinan Umum “Harian Internasional” Xiong De-long secara khusus datang ke Hongkong untuk menghadiri Peringatan KAA sebagai tamu-agung.

Seluruh kawan-kawan Hongkong dan Bandung yang dengan penuh semangat kehangatan mengeluarkan sumbangan materiil dan tenaga, tanpa mengenal siang dan malam mencurahkan sepenuh tenaga untuk bekerja menyelesaikan tugas yang dipikulnya, sungguh sangat mengagumkan dan mengharukan, dan dengan demikian hasilnya bisa kita saksikan bersama, Majalah-khusus Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika telah terbit dan Malam-jamuan makan 1000 orang lebih berlangsung sukses dengan begitu meriahnya.

Mereka akhirnya berhasil dengan sukses menyelenggarakan upacara Peringatan yang demikian besar. Setiap orang menyatakan sungguh luarbiasa, inilah manifestasi “Semangat Bandung” yang berperan didada setiap kawan!

Bapak Xu Dong-liang, Huakiao dari Indonesia yang sudah berusia 90 tahun, hadir dengan kursi-roda, tetap bisa bertahan mengikuti Seminar, dengan tekun memperhatikan para pembicara. Sebelumnya, beliau memberi dorongan dengan menyatakan: “Upacara Peringatan ini adalah masalah besar yang harus dilaksanakan dengan sukses” Kehadiran beliau tentu menjadi perhatian dan mendapatkan tepuk-sorak sambutan hangat para hadiran.

Seminar yang semula diperkirakan hanya akan hadir tidak lebih dari 250 orang, ternyata Seminar sore hari itu lebih 400 orang membanjiri ruang Seminar, membuat penuh sesak dan tidak sedikit yang akhirnya terpaksa harus berdiri dan mendengar dari luar ruang Seminar. Seminar yang semula direncanakan hanya dua setengah jam, ternyata karena begitu semangatnya para pembicara, terpasa harus diperpanjang 1 jam lagi. Sungguh, “dihentikan juga tidak mungkin”, kata banyak orang, bagaimana waktu selang begitu lama, tokoh-tokoh Huakiao berkumpul menjadi satu di Seminar tidak menjadi hangat bersambut.

Seminar dimulai dengan semua hadirin berdiri dengan hikmat menyanyikan lagu-kebangsaan. Lalu diikuti dengan mengheningkan-cipta pada para penduhulu, yang telah berkorban dalam usaha mensukseskan Konferensi Asia-Afrika dan pahlawan-pahlawan yang selama 50 tahun terakhir ini menyumbangkan jiwa raga demi pembangunan dinegara masing-masing. Lagu Mars “Prajurit Sukarelawan Maju Takgentar” berkumandang membuat kita semua mengenang para pahlawan yang telah mendahului kita. Dengan suasana begitu hikmat mengenang kembali peristiwa 50 tahun yl. Di Beijing, di Jakarta, di bandara-udara Kai-tak Hongkong, di Kun Ming dan Bangkok, di Bandung dan, …. Semua kenangan bersejarah yang tak mungkin terlupakan saling mempengaruhi dan berhubungan, berangsur-angsur terpusat dalam pertemuan Seminar ini, berubah menjadi satu seruan kuat yang keluar dari lubuk hati kita semua: “Membuka Pintu Gerbang Memory”,… bersamasama kita mengenang kembali Konferensi Asia-Afrika 50 Tahun Yl.! (Inilah judul yang digunakan CCTV-4, Studio TV Tiongkok Pusat ke-4, dalam program khusus Memperingati KAA yang diselenggarakan di Hongkong)

Penyelenggara upacara Peringatan, ketua Alumni Sekolah Bandung di Hongkong Wang Qin-xian memberikan kata sambutan Pembukaan Seminar secara singkat dan tegas. Beliau menegaskan: Pada saat dunia perdamaian mencapai perkembangan tingkat baru, tanahair kita telah mencapai tingkat perkembangan terbaik dalam sejarah perkembangan perdamaian, Tiongkok tetap mencintai dan membutuhkan perdamaian didunia. 50 tahun yl. “Semangat Bandung yang dilahirkan KAA, tetap relevan dan mempunyai tenaga yang sangat kuat untuk diwujudkan dalam kenyataan”.

Utusan khusus Dept. Hubungan luarnegeri di Hongkong Jie Xiao-yan memberikan kata- sambutannya dengan judul “Semangat Bandung Tumbuh Sepanjang Masa, Menciptakan Perdamaian Kekal Dimasa Datang”. Beliau menandaskan, dengan prinsip Semangat Bandung sebagai dasar, menyelesaikan kontradiksi dan situasi internasional diabad 21, dengan ketegasan mengembangkan 5 prinsip Semangat Bandung, benar-benar telah menjadi perhatian massa luas.

Wakil-ketua Chiao-ban (Kantor Urusan Hukiao) Ms. Zhu Hui-ling dalam pembicaraannya, menegaskan kebijaksanaan pemerintah terhadap Huakiao didunia dengan Semangat Bandung adalah sejalan. Dan telah memberikan inspirasi penting dan petunjuk baru bagi Huakiao didunia dan saudara Hongkong untuk melancarkan pekerjaannya.

Dalam keadaan biasa rakyat kecil nampak seperti tidak ada apa-apa, tapi sesungguhnya terkandung kekuatan besar akan semangat patriotis mencintai tanahair, yang bisa kita saksikan bersama betapa hebatnya para pembicara ketika mengutarakan perasaan, kenangan yang dalam terhadap Konferensi Asia-Afrika dan Semangat Bndung. Seminar begitu dibuka, dimulai dengan pembicara Ms. Fan Shu-nan, pada saat itu nyonya Konjen Konsulat RRT di Jakarta Zhao Zhong-shi, mewakili Konjen Zhao yang telah berusia 92 tahun dan karena kesehatan tidak mungkin hadir, membacakan surat pernyataan terimakasih dan menyambut hangat Peringatan KAA 50 Tahun ini, beliau siang-malam tidak melupakan peristiwa penting Konferensi Asia-Afrika 50 tahun yl., dalam surat beliau menyatakan: “Mengenang masa berlangsungnya KAA, berbagai lapisan Huakiao di Indonesia yang tetap patriotik mencintai tanahair, sekuat tenaga memberikan bantuan yang diperlukan Delegasi Tiongkok yang menghadiri KAA, sehingga konferensi bisa berjalan lancar dan sukses. Saya sebagai Konjen ketika itu, sampai sekarang sungguh tetap merasa kagum, dan dalam kesempatan kali ini sekali lagi menyatakan terimakasih dan hormat setinggi-tinginya pada Huakiao asal Indonesia.” Inilah hubungan dan hati kita terjalin-erat, ada berapa banyak perasaan yang terjalin bisa bertahan selama 50 tahunan, bahkan akan terus turun temurun dari generasi kegenerasi? Jawabannya adalah: Senasib sepenanggungan dari darah Tionghoa yang mengalir ditubuh kita! Moderator Seminar terbungkam seribu bahasa oleh nyonya tua yang telah berusia 86 tahun ini, betapa dalam perasaan yang diutarakan, sehingga membuat kita semua ter-kagum sampai pucat lemas tak sepatah kata terucapkan dan gemuruh tepuk tangan segera memenuhi ruangan. Moderator hanya bisa mengucapkan sepatah kata: Terimakasih nyonya Konjen Zhao, dan sekali lagi kita bertepuktangan menyatakan terimakasih pada nyonya Zhao.

Sekalipun telah lewat 50 tahun, sampai hari ini begitu diajukan PM Chao, ketua Delegasi RRT, banyak orang tetap teringat kembali selama 7 hari 7 malam berlangsungnya KAA yang 168 jam itu, PM Chao kita hanya tidur 13 jam saja. Inilah Perdana Menteri Tiongkok Baru yang membuat kita semua mengalirkan air-mata rasa kekaguman yang sangat! Mr. Yao Li (Sekretaris Pribadi PM. Chao ketika itu) yang sudah berusia 88 tahun, Angkatan pertama Kedutaan RRT di Jakarta, pejabat diplomatik Ms. Kang Tai-sha, penterjemah Huang Shu-hai dengan bahan yang didapat langsung dari apa yang disaksikan sendiri, menyampaikan peranan yang dimainkan PM Chao selama KAA berlangsung, kelincahan dan kecerdasan yang luar biasa dalam lika-liku diplomatik, menguraikan hubungan erat PM Chao dan Delegasi RRT dengan para Huakiao, juga bagaimana menyatunya dengan rakyat Indonesia bagaikan ikan dan air. Dalam setengah abad ini, mereka tetap menyanyangi perasaan berharga demikian, dengan tulus hati menyampaikan rasa terimakasih dan salam pada seluruh Huakiao dan rakyat Indonesia, khususnya bagi Huakiao di Bandung yang ikut berperan mensukseskan KAA, berkordinasi dengan TNI melibatkan diri dalam memberi pengawalan dan menjaga keamanan PM Chao dan Delegasi RRT. Suatu tindakan yang menanggung resiko besar dan dilakukan tanpa pamrih yang tidak minta balas jasa, satu sikap yang membuat para hadirin terasa kagum sedalam-dalamnya. Ya, sesuatu yang patut dihargai dan dihormati setinggi-tingginya, itulah diplomat RRT angkatan pertama sebagai pendahulu kita dan angkatan orang-tua kita. Termasuk juga delegasi 28 negara Asia-Afrika lainnya, disa dikatakan genap satu generasi sudah, usaha mereka demi kebebasan dan kemerdekaan, sungguh merupakan derap langkah yang jaya!

Mr. Liang Feng-chiang wartawan “Sheng Huo Pao”, Huakiao Indonesia yang ketika itu baru berusia 21 tahun, yang diutus mengikuti KAA Bandung, menyampaikan kesan yang sangat mendalam, bagaimana PM Chao sebagai politikus dan diplomat bisa menawan dan meyakinkan banyak orang, dan mempertunjukkan pada para hadirin, siaran khusus “Sheng Huo Pao” pada waktu itu yang cukup menggemparkan. Wartawan tua yang sudah berusia 71 tahun, dengan perasaan terharu berlinang air mata menyatakan: “Semangat Bandung menyinari hidup saya, PM Chao teladan hidup saya, pengalaman KAA Bandung adalah pengalaman yang sangat penting dalam hidup saya dan satu pengalaman yang tidak akan terlupakan”.

Kemudian, pembicara berikut juga Huakiao asal Indonesia Prof. Wu Wen-hua dan Prof. Chai Ren-long, yang menyoroti dari sudut teori dan praktek menjelaskan pada para hadirin arti penting KAA dalam sejarah dan kenyataan. Sehingga kita semua lebih lanjut mengerti, prinsip dan semangat Bandung yang telah dicapai KAA itu, serta peranan besar yang dimainkan dalam menciptakan sitim baru dunia internasional dalam perjuangan melawan hegemonisme dan terorisme.

Prof. Guo Jun-chi satu-satunya pembicara dari Taiwan, Ketua Komisi Persatuan Tanahair, menyampaikan sambutannya dengan judul “Dengan Semangat Bandung, Percepat Persatuan Tanahaiar secara damai”, dan sub-judul “Mengikuti dan Menyanjung PM Chao”, sebagai pernyataan pemahaman yang dalam akan Semangat Bandung dan hormat yang tinggi pada PM Chao. Dengan kreatif menggunakan Semangat Bandung dengan mengajukan seruan “Bersatu dengan segala Perbedaan yang ada” dan dibawah prinsip “satu Tiongkok” mempercepat Persatuan Tanahair dengan jalan damai.

Mr. Chen Bo-wen yang ketika itu hanya murid sekolah menengah, menyampaikan kesannya ketika ikut berperan sebagai petugas keamanan PM. Chao dan Delegasi RRT, dan ikut meronda siang-malam. Menjadi satu kesan yang sangat menarik, karena tugas menyambut kehadiran PM Chao, tapi ternyata tidak berhasil melihat PM Chao. Inilah perasaan putih-polos dari anak-anak muda Huakiao yang ketika itu tenggelam dalam semangat Patriotis cinta tanahair yang sangat tinggi ketika melaksanakan tugas.
Kemudian disusul dengan adegan yang lebih menarik dengan tampilnya Mr. Liang She-mao dan Ms. Jie Chai-yue yang ketika itu merupakan 2 bocah yang menyampaikan karangan bunga pada PM Chao, juga menyampaikan kesan mendalamnya yang mengharukan. Moderator Seminar minta para hadirin membuka Majalah Khsus Memperingati 50 Tahun KAA yang memuat photo mereka berdua ketika menyerahkan karangan bunga pada PM Chao 50 tahun yl., mereka berdua masih bocah belasan tahun, sekarang sudah menjadi dua orang tua, ruang Seminar penuh dengan sorakan-tepuk tangan gembira, sementara orang terharu sampai meneteskan air-mata melihat adegan ini. Ternyata setelah 50 tahun lewat, senyum tawa dan kehangatan salaman tangan PM Chao, tetap melekat keras dihati 2 orang ini, menjadikan mereka lebih berkeyakinan dan bertekad sebagai patriotis cinta tanahair. Menjadi lebih menarik, ternyata setelah selesai Seminar, banyak hadirin yang menyerbu mereka berdua untuk bersalaman, yang katanya biar ketularan “Kebahagiaan dan Rejeki” dari tangan yang pernah bersalaman dengan PM Chao.

Cucu-perempuan Dutabesar Huang Zhen yang baru berusia 20-an, mewakili seluruh keluarga ikut menghadiri Seminar, dan menyampaikan sambutannya dengan judul “Kehidupan Kakek-Nenek saya pada saat KAA”, sungguh cukup mengharukan para hadirin sekalian, tidak sedikit yang sampai meneteskan air-mata haru. Dia mengatakan: “Saya benar-benar terlalu muda, sebelumnya tidak pernah tahu apa itu KAA dan Semangat Bandung, tapi Seminar kali membuat saya tergugah, belajar banyak dan saya juga akan seperti Kakek-Nenek selamanya mewarisi dan mengembangkan Semangat Bandung!” Sungguh hebat apa yang diucapkan! Inilah ucapakan generasi ke-3 yang sangat mengagumkan kita, kesamaan perasaan dari generasi berikut, dari generasi pertama yang mengobarkan Semangat Bandung, melalui generasi kita yang terus mempertahankan dan sekarang kita bisa melihat sampai kegenerasi ke-3 juga menerima obor Semangat Bandung ini. Sungguh luar biasa dan sangat berarti! Seminar yang dihadiri oleh tamu-agung dari yang berusia 90 tahun, tidak sedikit yang diatas 80 tahun dan lebih banyak yang diatas 70 tahun sampai 60 tahunan, 50-40 tahun dan bersambung kegenerasi ke-3 yang baru berusia 30-20 tahunan, mendengarkan bahkan ikut angkat bicara menyampaikan kesan mendalam akan Konferensi Asia-Afrika. Membuat kita semua lebih teguh berkeyakinan: Semangat Bandung pasti turun temurun berkobar sepanjang masa!

Pada saat Seminar berakhir, moderator menggabungkan pendahulu, angkatan tua yang ikut menciptakan Semangat Bandung sebagai “Generasi Pertama Pelaksana yang jaya”, sebagai pernyataan tekad kami, untuk mengikuti derap langkah mereka yang jaya, maju mengikuti langkah Semangat Bandung yang jaya! Menyatakan apa yang selama ini merupakan isi-hati para hadirin. Banyak orang menyatakan, Seminar kali ini, yang dihadiri oleh para ahli, peneliti, pejabat dan massa, adalah satu wahana untuk saling tukar-pikiran, justru sangat sesuai dengan acara Peringatan yang diselenggarakan secara massal di Hongkong kali ini.

Pada saat istirahat, diruang jamuan dengan layar-lebar diputar film dokumenter yang paling baru dengan tema “50 Tahun Konferensi Asia-Afrika”, yang diajukan Dep. Hubungan Luarnegeri Tiongkok di Hongkong. Para hadirin menyatakan, banyak tayangan yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Jamuan makan malam yang dihadiri seribu orang lebih, dimulai dengan masuknya 29 wanita berbaju kebaya, masing-masing menjunjung bendera-nasional negara yang hadir di Konferensi Asia-Afrika ketika itu, dengan iringan lagu “Halo-halo Bandung”, mengelilingi ruangan dengan memdbawa suasanas persahabatan dan damai, lebih menonjolkan semangat persatuan dan kerjasama, membuat kagum seluruh hadirin. Seluruh acara Peringatan, dari Seminar yang baru saja selesai dengan sukses, sekarang memasuki acara berikut dengan klimaks yang lebih tinggi dan hebat lagi.

Makamah Kehakiman Pemerintah Daerah Khusus Hongkong, menteri Elise Liang Ai-shi, Dept. Hubungan Luar Negeri Tiongkok di Hongkong Utusan khusus Yang Wen-chang, Huakiao asal Thailand Mr. Zhuang Shi-ping, Ketua Perkumpulan Huakio di Hongkong Chen You-ching, serta wakil ketua Yu Guo-chun, Huang Guang-han, juga hadir pimpinan-pimpinan perkumpulan Huakiao dan Alumni sekolah-sekolah dimasa di Indonesia dahulu, pimpinan dari Chiao-pan, Chiao-lian dan tentu tidak tertinggal belasan konsulat negara Asia-Afrika yang ikut memeriahkan Peringatan KAA 50 Tahun ini. Lebih dari seribu orang Huakiao yang berasal dari Bandung, dan daerah Indonesia laiinnya, juga ada Huakiao asal Viet Nam, asal Laos, asal Burma, asal Thailand, asal Singapore, Philipine dll negara lain, …. Pokoknya semua membawa Semangat Bandung, mereka datang membanjiri ruang jamuan-makan dengan harapan perdamaian kekal didunia, kebebasan dan kemerdekaan terwujud lebih baik, Damai, Persahabatan, Kerjasama dan Persatuan dibawah lambaian bendera-bendera nasional yang berkibar. Semua rakyat berbagai bangsa didunia bisa hidup berdampingan secara damai.

Jamuan makan dibuka dengan kata sambutan ketua panitia penyelenggara, ketua Alumni sekolah Bandung di Hongkong Wang Qin-xian. Beliau menandaskan: “Hari ini, pada saat kita kumpul bersama dengan penuh kegembiraan, kalau kita menyampaikan hormat pada angkatan penduhulu dan angkatan orang-tua kita, maka berarti kita bertekad-bulat mewarisi dan mengembangkan Semangat Bandung yang jaya itu, terus maju dengan hasil yang lebih gemilang, meneruskan usaha generasi ke-2 kita dan dilanjutkan oleh generasi ke-3 dengan derap langkah yang lebih jaya lagi!”.

Utusan Khusus Yang Wen-chang, ketua Chen You-ching, wakil-ketua Wang Rong-ba dan wakil ketua Zhu Hui-ling, serta tamu-agung dari Indonesia Xiong De-long menyampaikan kata sambutan yang tak habis-habisnya memuji Acara Peringatan yang besar kali ini. Setiap pembicara menilai tinggi dan memuji keberhasilan Peringatan skala besar kali ini dan sekali lagi menandaskan ke-jayaan Semangat Bandung yang tetap harus dihargai tinggi dan berkobar terus sepanjang masa.

Konjen RI di Hongkong, Mr. Paiman Turnip dalam kata sambutannya, juga menandaskan arti penting diselenggarakannya KAA 50 tahun yang lalu, dan mengumumkan pada rapat, bahwa pada tanggal 22-23 April 2005 di Jakarta akan diselenggarakan Konferensi Asia Afrika dengan tema : “ Reinvigorating the Bandung Spirit: Working Towards a New Asian-Afica Strategic Partnership”, yang kemudian akan dilanjutkan dengan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung tanggal 24 April 2005. Sampai dengan hari ini sudah 68 negara yang menyatakan akan hadir dalam konferensi, ditambah dengan 20 perwakilan organisasi-organisasi Regional dan sub-regional selaku peninjau. Gemuruh tepuk-tangan menyambut kabar gembira ini.

Koor paduan suara Huakiao di Hongkong dengan menyanyikan lagu pertama “Halo-halo Bandung”, ternyata diikuti para hadirin secara antusias, segera berubah menjadi paduan 1000 suara membuat suasana lebih meriah lagi. Suara gelak-tertawa gembira, suara menyanyi, dan acara-acara nyanyi dan menari yang dipertunjukkan oleh rombongan seni-tari Hu Nan, paduan suara Perkumpulan Huakiao di Hongkong dan Perkumpulan Tari Pemuda Hongkong di atas panggung, membuat suasana lebih meriah, bagaikan lautan kegembiraan dijamuan makan 1000 orang mencapai klimaks kemeriahan. , …

Saya yakin, suasana demikian akan melekat selama-lamanya dihati setiap hadirin.
Semangat Bandung Tetap Berkobar, Hidup Kebebasan dan Kemerdekaan!
Inilah Peringatan yang penuh dengan Perdamaian, Persahabatan, Persatuan dan kerjasama!

Inilah Peringatan dengan mengembangkan Semangat Bandung!
Inilah Peringatan atas Persahabatan dua Rakyat Tiongkok dan Indonesia!
Inilah Peringatan yang Penuh Kegembiraan! " (OSR/IM)

     

 


FastCounter by bCentral