|
 |
|
KTT
AA Deklarasikan Kemitraan Baru
Dasasila
Bandung Masih Relevan sebagai Dasar
Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KTT AA), semalam
(Sabtu, 23/4) resmi ditutup Presiden Susilo Bambang Yudhono
(SBY). Hasil dari konferensi tersebut adalah dideklarasikannya
kerja sama ‘’Kemitraan Stategis Baru AA’’ (/New Asian African
Strategic Partnerships//NAASP) serta pernyataan bersama
dari para pemimpin negara mengenai bencana alam, seperti
gempa bumi dan tsunami.
“Pernyataan bersama telah dibuat, dan tentunya pernyataan
bersama itu harus dideklarasikan dan dijadikan komitmen
bersama,” ujar Presiden SBY yang didampingi Presiden Afsel
Thabo Mbeki di JCC Senayan, Jakarta.
Pemimpin negara AA sepakat menjadikan NAASP sebagai jembatan
yang dapat mempersatukan kedua benua, yaitu Asia dan Afrika.
NAASP yang dilandasi beberapa prinsip seperti Dasasila Bandung,
dinilai masih relevan untuk menjadi dasar kerja sama di
bidang budaya, politik, ekonomi, dan sosial.
Selanjutnya, KTT AA akan digelar empat tahun sekali. Afsel
mencalonkan diri sebagai tuan rumah untuk KTT AA tahun 2009.
Selain itu, peserta KTT AA sepakat menugaskan menlunya untuk
menghadiri pertemuan yang diselenggarakan dua tahun sekali.
Mesir dan Jepang mencalonkan diri untuk pertemuan menlu
AA tahun 2007.
Sebelum ditutup, KTT AA sempat diwarnai aksi demo dari Persatuan
Rakyat Indonesia Anti-Imperialisme (Perisai) yang terdiri
dari 68 organisasi, seperti Walhi, LBH Apik, Koalisi Antiutang,
PRD, Koalisi Perempuan Indonesia, Pergerakan Perempuan Indonesia,
Serikat Rakyat Miskin Kota, Pijar Indonesia, dan lain-lain.
Mereka yang sudah berkumpul di Masjid Istiqlal Jakarta sejak
Sabtu (23/4) pukul 03.00 WIB, tidak berhasil mendekati lokasi
KTT AA, dan hanya bisa ke Kedubes Amerika Serikat (AS).
Di tempat tersebut, massa dari berbagai daerah itu meneriakkan
yel-yel menolak imperialisme yang dilakukan Amerika. ‘’Sebetulnya
masih banyak massa dari berbagai daerah yang tertahan masuk
Jakarta, seperti Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis. Mereka
tertahan di beberapa tempat dan tidak bisa masuk Jakarta,”
kata juru bicara Perisai Irvan di kompleks Masjid Istiqlal
Jakarta, Sabtu (23/4).
Semetara itu, ratusan mahasiswa di Yogyakarta yang tergabung
dalam Front Rakyat Anti-Imperalisme (FRAI) juga melakukan
demo menolak KTT AA jika momen ini hanya menjadi ajang konferensi
antek-antek Amerika. Mereka menuntut agar KAA yang sedang
berlangsung itu menjadi forum untuk menolak penjajahan gaya
baru. Aksi tersebut digelar sejak pukul 11.00 WIB, start
di Taman Parkir Abu Bakar Ali, kemudian menuju halaman DPRD
DIY di Jl Malioboro. Aksi itu juga diikuti warga Yogyakarta
yang menjadi korban penggusuran tanah, petani Karangsewu
Galur, Kulon Progo serta kelompok kesenian Srandhul dari
Bokoharjo, Prambanan, Sleman.
Ungkap Kasus Munir
Selain diwarnai demo, peserta KTT Asia Afrika (KAA)
juga didesak untuk mendukung upaya pengungkapan kasus meninggalnya
pejuang hak asasi manusia (HAM) Munir. Mereka juga diminta
melindungi pembela HAM di negaranya masing-masing. Hal ini
disampaikan Refendi Djamin, Koordinator HRWG-Indonesia’s
NGO Coalition for International Human Rights Advocacy dalam
rilisnya, Sabtu (23/4).
Meskipun salah satu Dasasila KAA 50 tahun lalu berkaitan
dengan penghargaan terhadap nilai dasar HAM, kenyataannya
hal tersebut belum diperhatikan negara-negara di kedua benua
tersebut. Catatan HAM di negara-negara Asia-Afrika masih
sangat buruk. Salah satu contoh adalah penangkapan dan penyiksaan
terhadap para pembela HAM di Nepal, Indonesia, Srilanka
serta Sudan. Salah satu kasus yang mengejutkan dunia internasional
baru-baru ini adalah meninggalnya Munir.
Agenda yang diusung dalam KAA tidak cukup hanya berupa kesepakatan
reformasi PBB, namun perlu disinggung mengenai perlindungan
para pembela HAM. Apalagi kasus Munir bisa menjadi refleksi
dan spirit bagi negara-negara di dua benua tersebut.
Berterima Kasih
Sementara itu, Palestina tidak lupa memanfaatkan KTT
AA untuk menyatakan terima kasih atas dukungan peserta bagi
kemerdekaan negaranya. Selain itu, Palestina berharap resolusi
yang dihasilkan dalam KTT AA mencantumkan perdamaian di
Timur Tengah. “Indonesia bersama Jepang, Malaysia, India,
dan China adalah negara yang mempunyai pengaruh kuat di
wilayah Asia. Karena itu, kami meminta dukungannya dari
negara-negara tersebut,” ujar Deputi PM Palestina Nabil
Shaath dalam jumpa pers di JCC, Senayan, Jakarta, kemarin.
Nabil berharap resolusi yang dihasilkan KTT AA mencantumkan
perdamaian di Timur Tengah, khususnya kemerdekaan bagi Palestina.
Sebelumnya, Nabil telah bertemu dengan Presiden SBY. Dalam
pertemuan bilateral itu, dia meminta kepada Indonesia untuk
mengirimkan utusan khusus ke Palestina. Utusan khusus itu
diharapkan dapat membantu proses perdamaian di Timur Tengah,
khususnya konflik Palestina-Israel.
Harapan terciptanya perdamaian di Timur Tengah juga disampaikan
Sekjen PBB Kofi Annan. Tidak terkecuali juga upaya penyelesaian
perang dingin antara China dan Jepang, menyusul pertemuan
Presiden Cina Hu Jintao dan Perdana Menteri Jepang Junichiro
Koizumi.
Spirit Bandung
Sementara di Bandung yang akan menjadi tempat Peringatan
50 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), jauh-jauh hari telah
mempersiapkan diri untuk mengulang peristiwa yang terjadi
pada 1955 itu, dan paling tidak melebihi apa yang sudah
dicapai pada saat itu. Dengan demikian, kehidupan bangsa-bangsa
di dua benua, yaitu Asia dan Afrika menjadi
lebih baik.
Semuanya berangkat dari “Spirit Bandung”, termasuk mengulang
prosesi /historical walk/ yang akan dilaksanakan Minggu
pagi (24/4) ini, dari Hotel Homann menuju Gedung Merdeka
di Jalan Asia Afrika, sejauh 50 meter dengan ditingkahi
ragam tetarian dari Zamrud Khatulistiwa. /Historical walk/
hanya diikuti sekitar 53 kepala negara dan pemerintahan.
Di gedung bersejarah itu akan ditandatangani deklarasi bagi
kemitraan strategis baru yang telah ditetapkan di Jakarta
pada Sabtu (23/4) kemarin.
Akhir acara akan ditutup dengan foto bersama, dan penanaman
pohon di Lapangan Tegalega. Mereka akan menyirami pohon
dan menancapkan papan nama negara masing-masing. Usai dari
sana, rombongan berangkat ke Gedung Pakuan untuk sekadar
rileks dalam jamuan makan siang yang diawali penyerahan
cindera mata. " (SM/IM)
|