KETIKA KTP BICARA
OLEH BUT NIO

Lili terbangun dari mimpi buruknya sambil menggaruk-garuk kepalanya dia mencoba mengingat kembali apa yang terlintas beberapa menit yang lalu. Jam dinding berdetak keras. Tanggal kalender berputar tempat, tidak urut lagi. “Mana mungkin ada tanggal 45 dalam kalender bulanan ya?” Huruf 45 berkelap kelip dengan lampu merah. Tiba-tiba bayinya yang bungsu berteriak “Mama” Bayinya baru berusia 5 bulan, bagaimana mungkin tiba-tiba bicara begitu jelas - berteriak lagi? Mengapa ketika usianya 45 tahun, ada 45 dalam kalender mimpinya, maknya apa ya? Lili melihat suaminya tidur pulas, tidak merasakan perasaan belahan jiwanya. Sementara Lili merasa ketakutan dengan makna mimpinya, dia melihat suamianya menggorok dengan mulut tergangga. Di kamarnya tidak ada jam dinding besar. Kecuali weker plastik, tapi berdetak sayup-sayup seolah-olah menegaskan betapa tidak pentingnya dirinya di rumah Lili. Hampir semua anggota keluarga di bilik bambu itu tidak peduli berapa jam nonton TV, bermalas-malasan di rumah dan berapa jam tidur di siang hari. Kegiatan sehari-hari di rumah itu tidak ditentukan oleh jam, tetapi mengalir berdasarkan ada tidaknya langganan/pembeli warung Mie Pangsit yang dijalankan keluarga mereka. Baru di mimpi saja, jam dinding Lili bisa berdetak keras dan jadi pengingat usianya sudah tak lama lagi.
“Ya, ampun!” Lili menutup mulutnya dan menangis pelah-pelan di samping bantal suaminya. Tangannya pelan-pelan mengusap air matanya, menghayati jadi orang miskin semiskin-miskinnya.“Oh, Tuhan…. Betapa malang nasibku ini”, Lili terisak sambil menyeka rasa nyeri di vaginanya habis melayani seks suaminya. Cara kasar suaminya memaksa dilayani tiap malam, membuat luka di vaginanya. Kalau rasa nyeri itu belum hilang dan Lili mengatakan dia tidak mau “dinaikki” dulu, suaminya akan marah memecahkan piring-piring. Sumbernya karena memang suaminya stress bila pembeli mie berkurang. Lili cuma bisa memahami susahnya suaminya mencari makan buat ke 6 anak mereka.
Rasa kasihan membuatnya mau membantu menghilangkan rasa stress suaminya itu dengan memberikan tubuhnya menjadi kenikmatan yang melepaskan suaminya. Tapi kadang-kadang Lili merasa seperti diperkosa oleh suaminya bila suaminya tetap kasar padanya tidak menghargai pengorbanannya sebagai pendamping hidup di saat suka dan duka. Sakit hatinya apabila belahan jiwanya itu tidak mau berubah dari rasa keras kepala yang mungkin paling keras di atas bumi ini…. Kalau dalam bahasa Cina Benteng suami Lili terlalu gedhe ambek (besar gengsinya) yang menyebabkan keluarga mereka kian terpuruk.
Di malam yang tenang itu, Lili menggerai rambutnya untuk mengeluarkan rasa panas dalam rambutnya yang panjang tak pernah dipotong. Lantas dia berdiri sejenak menenangkan tangis bayinya, yang dalam pandangannya hasil dari perkosaan rumahtangga. Dia tidak mengharapkan kehamilan lagi, terutama menyadari usianya sudah 44 tahun dan takut dengan bahaya kemiskinan yang mengancam keluarganya nanti. Air mata Lili mengalir lagi ketika berbisik pada dirinya
sendiri, “Ya-ya tidak mengharap kehamilan Erik. Tapi rasanya tidak bisa bicara dengan si Bewok sih…. Agar memberi duit buat aborsi. Rasa-rasanya tidak mungkin uang bulanan dipakai beli obat Keluarga Berencana karena buat sehari-hari saja, makan cuma pagi hari, sore sudah tidak ada lagi yang mau dimakan. Kalau bilang sama suami bahwa anak makin banyak, makin miskin -suaminya makin stress, maka Lili memilih bisu saja…lah”
“Erik, emakmu melahirkanmu secara susah payah. Saya ingin kamu jadi orang yang tidak menyusahkan orang tua, maka hidupmu sendiri tidak akan susah” tangan Lili berpindah dari mengusap tubuhnya, ke mengusap bayinya yang asyik menyusu. Air matanya yang mengalir terus menyumbat hidungnya lantas ditariknya ingusnya dilemparnya sembarangan ke udara, lantas merenung lagi, “Emak tidak mau mati cepat-cepat, agar bisa melihatmu besar bersama saudara-saudaramu yang lain. Tapi mengapa mimpi malam ini lain daripada yang lain?” Kemudian Lili menyedot lagi ingusnya keras-keras sehingga membuat suaminya merasa terganggu. Sambil menggerutu suaminya menutup telinga dengan bantal, “Jangan berisik aja, Lu, ahhhh…”
Esok harinya seperti biasa, Lili sudah ke pasar membelanjakan bahan-bahan kebutuhan menjual mie pangsit ala Cina Benteng. Puterinya Pik Lan turut sibuk memotong rempah-rempah, sayuran dan daging ayam begitu emaknya pulang. Jari-jari mereka bekerja seperti mengejar waktu bangun laki-laki di rumah itu, ayah dan anak-anak laki-laki yang menjalankan warung mie keluarga. Segala bahan yang sudah dipotong kemudian dimasak di kompor besar di warung mereka. Si Bewok kalau lagi senang dapat banyak langganan, akan memuji dirinya bahwa masakannya memang enak dan seharusnya dia memulai usaha warung ini sejak awal bukan kerja sama orang.
Laki-laki Tionghoa asal Medan ini mengatur agar puteri-puterinya membantu ibu mereka di rumah. Agar tidak malu-malu-in di pinggir jalan jongkok-jongkok mencuci piring. Si Bewok memang masih Cina betul dalam mendidik anak-anaknya. Tugas mereka berdasarkan jenis kelamin mereka. Yang perempuan harus dilindungi tidak boleh kemana-mana sembarangan. Yang laki, yang boleh mengerjakan kerjaan kasar dan berada di bawah matahari. Jadilah si Pik Lan dan adiknya, Lik Lan nongkrong di rumah. Mereka tidak mengenal kewajiban sekolah, tetapi menyelesaikan memotong-motong bahan-bahan mie pangsit. Dan setelah itu, mereka ingin segera bermain dengan teman-temannya sesama perempuan sekitar gang itu. Sebentar saja tampak Pik Lan berdandan siap-siap mau pergi.
Tinggallah ibu mereka, Lili dengan tetangganya Ani berdua-dua dirumah kontrakan yang sebelah menyebelah “Nik, ada apa ya, semalam mimpi ya-ya usianya pendek?” Lili pun cerita segala perasaannya pada sahabatnya sejak kecil itu, bahwa dia takut mati kalau anak-anak belum punya surat-surat lengkap. Dia ingin selama dia masih hidup, bisa memperjuangkan surat-surat Akte Lahir dan KTP anak-anak mereka yang sudah berusia 25 tahun bahkan ada dua yang sudah berkeluarga. Akibatnya cucu-cucunya juga tidak memiliki Akte Lahir. Mereka sulit bikin -bahkan KTP sekali pun. Asal usul mereka sulit dilacak berhubung mereka suka pindah-pindah rumah kontrakan sejak dari Jembatan Dua di KOTA Jakarta. Jadi dari pemerintahan mana mereka harus minta keterangan asal kampung mereka karena keluarga besar mereka sudah keluar dari kampung yang asal. RT-RW di sana juga tidak tahu menahu kebenaran bahwa keluarga Lili dan Bewok asal dari kampung itu. “Tiap kali Bewok diberitahu suruh dia luangkan waktu ngurus KTP biar kita punya Kartu Keluarga, dia malah membalas dengan guyonan. ‘Gua khan warga baik-baik saja, tidak perlu dicurigai. Gua gak bakalan ada urusan sama pemerintah’ Ngitu ngejawabnya Nik…” kata Lili dengan mata sayu menatap ke tanah. Ani yang berwajah polos tertawa-tawa. Ya, hanya bagi kedua sahabat itu saja “tawa” Anik itu maknanya begini, menertawakan suami-suami mereka yang gedhe ambeg (keras kepala) dan membuat nasib mereka makin miskin.
Selagi kedua perempuan itu tukar pikiran, Pik Lan pamit dia mau jalan-jalan ke pasar Cengkareng dengan teman laki-lakinya. Wajahnya yang gembul putih disapu bedak kelihatan segar. Tangannya menjinjing tas kecil dan HP pemberian pacarnya. Ani tersenyum-senyum melihat Pik Lan tumbuh dewasa. Padahal sepuluh tahun lalu ketika kebetulan dua sahabat itu bertemu lagi sebagai sesama orang tidak punya, Pik Lan masih sebesar Lik Lan. Rambutnya merah jagung karena panas matahari. Seperti Lik Lan yang kemana-mana main di bawah matahari. Ani berkelakar pada Pik Lan yang siap “pacaran”, “Duh Neng, syukuran kalau rambutnya dikira diwarnain di salon. Padahal hasil dibakar matahari jadi menguning begitu…” berentet-rentet mereka tertawa. Pik Lan lari menghilang sambil mengatakan pacarnya meng-HP dia terus menerus janjian tempat bertemu.
Ke dua perempuan sebaya itu melanjutkan tukar pikiran mereka “Kasih tahu ama lakik- lu- Li, ini kali ada kantor yang ngurusin gratis buat surat-surat WNI dan Akte Lahir anak-anak kita. Istilahnya Pemutihan, ngitu bilangnya. Biar diurusin gratis kalau KTP dan KK nya ada….” Sambil bicara, tangan ke duanya tidak berhenti berpindah dari mengurus bayi dan memasak sayuran buat makan siang. Gang tempat mereka kontrak hanya sebesar, satu orang lewat saja sehingga sehari-hari mereka tidak bertemu siapa- siapa lagi kecuali kalau melayani tamu di warung mereka, Lili suka mengobrol dengan orang-orang lain.
“Luuu tahu lakik- kita susah dapat ijin sama pabrik untuk keluar, ngurusin surat pindah dari Cengklong. Lu masih mendingan, Lakik lu usaha warung sendiri, sewaktu-waktu keluar ke Kelurahan mengurus KTP dan KK. Lakik kita mana takut gak dapat gajian akhir minggu, kagak berani ijin kecuali sakit” Lili dan Ani berebut memiskin-miskinkan diri masing-masing - mana yanglebih susah dari yang lain. Dulu waktu kecil di Cengklong, Kosambi, mereka berebut mainan
masak-masakan. Mereka main juga tidak lebih jauh dari gang mereka, sehingga dapat jodoh juga tidak jauh-jauh amat. Lili “Jadian” sama Bewok juga karena sering lihat-lihatan setiap kali Bewok lewat rumah Lili yang bertetanggaan. Begitu saja, tidak perlu pacaran lama-lama, keduanya sudah berani minta kawin.
Seperti biasa ketika bayinya sudah tidur, Lili ke warung menemani suaminya di warung mie pangsit. Sekali itu, dia mengutarakan lagi makna mimpinya pada suaminya bahwa kalau mereka mati, keturunan mereka yang kasihan tidak tahu bagaimana mengurus asal usul keluarga mereka. Agar anak-anak tahu apakah mereka memang WNI atau WNA, Si Bewok harus ke rumah keluarga besarnya mencari SBKRI. ‘Kalau menurut tante Ernie, SBKRI sudah diminta kalau bikin KTP. Jadi lu harus cari dulu ke keluarga engkoh lu, siapa tahu SBKRI emak lu disimpan ama mereka”
Si Bewok yang lagi duduk menunggui warungnya yang sepi itu, tampak gusar menjawab, “Kalau ada KTP, emangnya
bisa enggak cari pinjaman di bank?” Rizky, yang panggilannya Ateng, ikut menjawab, “Jaman sudah berubah Baba, semua urusan ke Bank pasti pakai KTP. Makanya pinjaman warung kita bisa lebih gedhe kalau kita minta ke Bank”. Ke dua orang tua Rizky terdiam karena mereka tidak bisa baca tulis sehingga tidak tahu menahu bahwa jaman sekarang ada pinjaman modal dari bank. Bagaimana cara memulai membuat KTP jadinya?
Tanya Bewok diam-diam. Terlintas di kepalanya masalah yang paling berat adalah bertemu dengan keluarganya yang sudah tidak peduli dengan dirinya yang miskin. “lhahhh, Baba pasrah aja lhahhh. Kalian yang muda-muda aja bikin KTP
nembak. Yang tidak usah pakai SBKRI berapa biayanya? Gua mana ngerti, apa itu WNI - WNA? Kita punya engkong sudah lama tinggal di sini. Jadi mengapa harus dimintai lagi SBKRI orang tua Baba. Ngitu mestinya. Mana Gua tahu apakah orang tua gua punya SBKRI atau kagak?” jawab Bewok yang matanya memerah, melotot lebar menutupi rasa gengsi untuk mengetok rumah saudara-saudaranya yang mungkin juga tidak ada waktu menerima Bewok karena sibuk dengan bisnis mereka masing-masing. Di samping karena memang rata-rata laki-laki Cina Benteng malas hilir mudik mengurus surat Kawin dan Akte Lahir yang semacam itu. Kaum perempuan rela dikawin atau dicerai tanpa secarik sertifikat pengesahan apa pun. Hari sudah semakin sore, Lili sudah tidak betah mendengar suaminya memutuskan membuat KTP secara nembak, yang berarti biaya akan berkali-kali lipat lebih mahal. Padahal suaminya itulah yang menjadi Kepala Keluarga yang membuat anggota keluarganya bisa membuat KTP. Tanpa SBKRI pihak ayah, yang dalam bahasa Cina Benteng dipanggil Baba, bukan Papa seperti pada kalangan Tionghoa Totok dan Papi pada kalangan Tionghoa Belandis - hampir tidak mungkin keturunan Tionghoa itu bisa mendapat pengakuan kewarganegaraannya.
Ketika Lili lunglai jalan kaki menuju rumahnya, dia terkejut melihat gerombolan orang membopong tubuh Pik Lan yang kelihatan lemah dan pingsan. Terdengar kasak kusuk yang heboh, membuat Lili berteriak meminta tolong agar anaknya diserahkan padanya saja. Setelah berhari-hari Pik Lan tidak mau makan dan bicara, barulah Lili benar-benar menyadari puterinya malu mengaku diperkosa si pacar. Dari bercak-bercak darah di celana dalam Pik Lan, memang Ani dan Lili sudah memiliki firasat kalau anaknya kemungkinan diperkosa tetapi mereka tidak menyangka siapa laki-lakinya. Sepengetahuan mereka, Pik Lan baru saja mulai pacaran dengan laki-laki, yang belum sempat dikenalkan pada keluarga mereka. Hal itu membuat Si Bewok marah besar akan mencari laki-laki yang mencemarkan kegadisan
anaknya itu dipenjarakan.
Si Bewok berusaha menemukan alamat orang tua laki-laki yang menggauli anaknya. Ternyata laki-laki itu sudah Encek-encek. Tua bangka yang kebetulan kaya dan tukang main cewek. Memberi fasilitas HP dan gaya hidup konsumtif pada Pik Lan. SI Bewok mencari keadilan ke kantor polisi melaporkan peristiwa naas yang dialami puterinya dan meminta pelaku perkosaan dipenjarakan. Di depan Polisi, dia tiba-tiba tidak berdaya begitu diminta menunjukkan KTP-nya. Si Bewok merasakan sekujur tubuhnya meradang bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan apa pun untuk membela puterinya hanya karena tidak memiliki KTP.
Akhirnya, Si Bewok mengambil jalan tengah meminta ganti rugi uang pada Encek-encek itu. Hanya dengan
uang satu juta setengah rupiah.

     

 


FastCounter by bCentral