|
 |
|
Paus
Pernah Minta Dimakamkan di Polandia
Vatican City, Paus Yohanes Paulus II sempat berkeinginan
jenazahnya dimakamkan di Polandia. Ia juga pernah berpikir
untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Demikian antara
lain isi surat wasiat Paus Yohanes Paulus II yang diumumkan
kepada publik di Vatican City, (7/3).
Hingga kemarin kota Roma kewalahan menerima arus kedatangan
para pelayat yang sudah mencapai dua juta orang lebih sejak
Senin. Sebagian pelayat itu bisa dipastikan tidak akan bisa
melihat jenazah Sri Paus, tetapi umumnya mereka pasrah (baca
Keadaan Terakhir Menjelang Pemakaman). Di antara mereka,
tujuan dari perjalanan menjadi tidak penting karena yang
lebih penting adalah perjalanan yang menunjukkan empati
yang dalam terhadap Sri Paus.
Di dalam surat wasiat itu tidak disebutkan soal kardinal
misterius yang sudah ditunjuk Sri Paus pada tahun 2003,
sebagai favorit Paus selanjutnya. Julukan kardinal misterius
diberikan kepada kardinal di negara yang menindas aktivitas
gereja. Pengategorian kardinal misterius itu lebih dalam
rangka keamanan pribadi sang kardinal.
Lanjutan dari isi wasiat itu adalah Sri Paus pernah berpikir
untuk mengundurkan diri sekitar lima tahun lalu. “Saya berharap
Dia (Tuhan) membantu saya untuk menyadarkan saya, berapa
lama lagi saya melanjutkan pelayanan ini. Semoga kemurahan
hati Tuhan memberi saya kekuatan untuk tugas ini,” demikian
antara lain petikan dari wasiat itu.
Dia menyatakan keinginannya untuk dimakamkan di Polandia
dan meminta kardinal mempertimbangkan keinginan rakyat Polandia
soal itu pada tahun 1982. Namun, pada tahun 1984 ia menyerahkan
keputusan soal lokasi pemakamannya kepada para dewan kardinal
tanpa keharusan meminta persetujuan dari rakyat Polandia.
Sri Paus juga berterima kasih kepada Tuhan karena konfrontasi
Perang Dingin antara Timur dan Barat telah berakhir tanpa
konflik nuklir yang membahayakan. “Pada musim gugur tahun
1989 ketegangan yang menandai dekade 1980-an telah mengubah
bahaya, yang justru menjadi bagian sejarah dunia pada periode-periode
sebelumnya.”
Dimakamkan
Paus Yohanes Paulus II, yang meninggal Sabtu pukul 21.37
waktu Vatikan, dimakamkan hari Jumat ini di ruang bawah
tanah Basilika Santo Petrus. Misa untuk pemakaman dipimpin
Kardinal Joseph Ratzinger.
Isi dari wasiat itu dibagi ke dalam enam bagian, dimulai
pada tahun 1979 dan berakhir pada tahun 2000. Wasiat itu
dimulai dengan kalimat, “Siap- siaplah karena Anda tidak
tahu kapan Tuhan akan datang.”
Sekitar bulan Februari-Maret 1980 Sri Paus menulis, “Hari
ini saya hanya ingin menambahkan hal berikut bahwa setiap
orang harus siap-siap akan kematian.” Almarhum juga memuji
para uskup sedunia dan juga pemeluk agama lain. “Bagaimana
saya tidak berbahagia dengan kenangan indah akan uskup-uskup
di dunia ini.”
“Saya tidak bisa lupa juga akan saudara-saudara Kristen
(yang non-Katolik), dengan Rabi Roma dan juga dengan banyak
perwakilan dari agama non-Kristen!”
Fase terakhir dari tulisannya adalah pada tahun 2000. Saat
itu Sri Paus menyadari bahwa ajalnya sudah mendekat. “Pikiran
saya menerawang kepada awal kehidupan saya, orangtua saya,
saudara dan saudari saya, yang tidak saya kenal karena dia
(saudari) meninggal sebelum saya lahir.”
Dia mengenang, “Umat di kota Wadowice, tempat saya dibaptis,
teman-teman dan kawan sekelas di SD, teman olahraga, teman
kuliah, hingga ke masa pendudukan ketika saya bekerja sebagai
buruh dan kemudian saya mengingat umat di Niegowi dan San
Floriano serta di Krakow.”
Dia berpikir kembali tentang, “Krakow dan Roma... kepada
orang yang membawa saya kepada Tuhan.”
Sri Paus mengatakan, dia meninggalkan gereja dan dunia di
dalam tangan Ibu Tuhan, Perawan Maria. Dia berterima kasih
kepada Ibu Tuhan karena luput dari kematian ketika ditembak
di Lapangan Santo Petrus pada Mei 1981 oleh warga Turki
Mehmet Ali Agca. Dalam kaitan ini, si penembak itu sudah
meminta izin untuk pergi ke Vatikan guna melayat “saudara
saya” (Sri Paus), tetapi ditolak oleh pengadilan Turki.
“Saya berterima kasih kepada setiap orang. Saya meminta
maaf kepada setiap orang,” demikian tulisan Paus lebih lanjut.
Sri Paus juga meminta semua catatannya yang pada umumnya
berisikan testamen spiritual dibakar.
Di dalam wasiatnya dia menyatakan ingin dimakamkan langsung
di dalam tanah. Dia juga mengatakan, sama sekali tidak memiliki
kekayaan.
Di dalam wasiatnya itu juga, dia hanya menyebut langsung
dua nama, yakni sekretaris pribadinya, Uskup Agung Stanislaw
Dziwisz, dan Kepala Rabi Roma, Elio Toaff, yang menyambutnya
di sinagoga Roma pada tahun 1986. Itu adalah pertama kali
seorang Paus mengunjungi sinagoga. " (REUTERS/AP/AFP/MON)
|