Catherine Keng

CATHERINE Keng sama sekali tak pernah bermimpi satu hari wajahnya tampil di layar kaca sebagai pembaca berita televisi. Ceritanya, satu hari seorang teman mengatakan kalau Metro TV cari karyawan yang dapat berbahasa Mandarin. Ketika itu Keng bekerja di sebuah perusahaan asuransi sekaligus jadi dosen lepas bahasa Inggris di Universitas Katholik Atma Jaya.
Ketika teman-temannya sudah masuk Metro Xin Wen, Keng menyusul bulan berikutnya. Dia segera merasa cocok berkecimpung di dunia wartawan. Metro Xin Wen melatihnya ke lapangan, meliput berita, dan membuat feature yang banyak berkaitan dengan etnik Tionghoa di Indonesia.
Metro Xin Wen, karena bagaimana pun ia sebuah medium elektronik, lebih mengutamakan sumber yang bisa berbahasa Mandarin. "Ada sumber mengerti bahasa Mandarin tapi tidak mau bicara bahasa Mandarin. Ada juga sebaliknya," kata Keng.
Suatu hari Catherine Keng sempat salah paham dengan seorang narasumber. Si sumber ternyata tak mau berbahasa Mandarin. "Orang itu under estimate. Masak dia bilang, 'Ngapain sih pakai Mandarin? Yang mau dengar paling engkoh-engkoh yang sudah pada tua," kata Keng menirukan.
Padahal Metro Xin Wen ditonton investor asing baik dari Hong Kong, RRT, dan Taiwan, negara-negara yang mau menanamkan modal di Indonesia.
Narasumber berbahasa Indonesia, karena alasan praktis, juga diterima oleh Metro Xin Wen. "Ini hanya masalah waktu," katanya.
Keng juga terjun ke lapangan. Dia pernah meliput demonstrasi di depan kedutaan Amerika Serikat. Pada hari tahun baru Imlek, Metro TV menyajikan acara spesial lewat sajian khas perayaan Gong Xi Fat Cai. "Kita membuat feature tentang makanan dan kebudayaan di berbagai kota besar di Indonesia. Kita mengadakan live reporting. Ada yang ditugaskan ke luar negeri."
Semua naskah yang ingin dibaca, terlebih dahulu harus dikoreksi pembacanya.
"Mulanya edit dan dubbing kita kerjakan sendiri. Lama-lama kita punya staf produksi yang melakukan dubbing. Tapi naskah yang mereka dubbing tetap harus dicek lebih dulu. Kita harus buat kalimat seenak mungkin bagi pemirsa."
Agar tidak ketinggalan dalam perbendaharaan kata-kata Mandarin, Metro Xin Wen memasang siaran televisi RRT, Hong Kong, dan Taiwan. "Dari situ kita jadi tahu ada beberapa kata yang sudah tidak digunakan lagi. Sudah ada kata yang baru sebagai gantinya."
Bagi Keng sendiri, bahasa Mandarin bukan bahasa asing di telinganya. Masa kanak-kanak dia lalui di Taiwan. Ayahnya bekerja di sana. Remaja Keng kembali ke Indonesia dan melanjutkan sekolah di Gandhi Memorial International School yang bahasa pengantarnya bahasa Inggris tapi bahasa kedua bisa memilih dan satu di antaranya Mandarin. Orangtuanya berbahasa Mandarin sebagai bahasa ibu kepada ketiga putra-putrinya di rumah.
Awal mulanya orangtua Keng khawatir putrinya selalu pulang larut malam. Kini mereka bangga melihat anak keduanya berbahasa Mandarin lewat Metro Xin Wen. "Kini mereka bisa melihat potensi budaya Tionghoa yang dulu dilakukan sembunyi-sembunyi," katanya. M (Pan/IM)

     

 


FastCounter by bCentral