REKAYASA SEJARAH TENTANG SUPERSEMAR ?
Oleh Asvi Warman Adam

Setelah dikeluarkan 39 tahun silam, tidak banyak yang baru mengenai Supersemar (Surat Perintah 11 Maret) 1966. Naskah aslinya belum ditemukan, entah siapa yang menyembunyikan meskipun orang tentu dapat menduga-duga. Walaupun ada beberapa versi yang satu lain sedikit berbeda di Arsip Nasional RI, dapat disimpulkan bahwa Soeharto telah melampaui kewenangan yang diberikan dalam surat perintah itu. Apalagi dalam pidato Bung Karno antara 1965-1967 yang baru bisa terbit setelah tahun 1998, ditandaskan bahwa Supersemar itu bukan “transfert of authority”.
Yang menjadi persoalan di luar dokumen itu sendiri adalah cara mendapatkannya atau suasana sebelum surat perintah itu diberikan. Dua tahun yang lalu, seorang mantan KKO, Letnan Soejono (kini 63 tahun, sekjen sebuah LSM)) mengatakan bahwa ia mengawal rombongan Presiden Soekarno tanggal 10 Maret 1966 tengah malam dan mengantarkan sampai di Istana Bogor dinihari tanggal 11 Maret. Ia juga mengatakan tidak mungkin Soekarno berada di Jakarta tanggal 11 Maret 1966 dari pagi sampai siang.
Alasannya karena rombongan Presiden yang terdiri dari 5 sedan itu baru sampai di Istana Bogor pukul 04 pagi tanggal 11 Maret 1966. Menurut Soejono, Soekarno sampai di markas Cilandak pukul 23 malam, istirahat sampai pukul 01 dinihari dan lalu minta diantarkan ke Bogor. Yang mengawal ke sana selain Soejono adalah mayor Pirngadie dan 4 prajurit KKO yang diperlengkapi dengan senjata mitraliur ringan buatan Uni Soviet. Rombongan bergerak di bawah hujan rintik menyusuri jalan tanah berlumpur bahkan banyak yang berlubang bagaikan kubangan (Kompas, 13 Maret 2003).
Kesaksian Soejono ini perlu diperiksa kebenarannya. Pertama, kenyataan Soekarno memimpin sidang kabinet di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1996 dan kemudian berangkat dengan tergesa-gesa ke Istana Bogor adalah suatu peristiwa sejarah yang telah terterima (accepted history) dan tidak usah diragukan lagi. Kedua, apakah Soekarno dan rombongan mengunjungi markas KKO di Cilandak ? Mungkin saja itu terjadi. Tetapi menurut hemat saya tidak tepat kalau Soejono mengatakan bahwa Presiden Soekarno yang merasa tertekan meminta perlindungan ke markas KKO. Soekarno bukanlah tokoh semacam itu. Seandainya Bung Karno melakukan inspeksi mendadak ke Cilandak dan kemudian beberapa perwira KKO menawarkan pengawalan tambahan -mengingat situasi waktu itu yang kian genting-itu sesuatu hal yang masuk akal. Tetapi sekali lagi, tanggalnya bisa 10 Maret 1966 atau barangkali pada tanggal yang lain.
Kenapa tanggal 10 Maret 1966 muncul dalam wacana yang disampaikan oleh seorang saksi ? Perkiraan saya itu berasal dari keterangan ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko ketika diperiksa TPP (Team Pemeriksa Pusat) Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) akhir tahun 1970. Hasil pemeriksaan itu dibukukan dalam dua bahasa (Indonesia-Inggris) oleh Antonie C.A.Dake April 1974 berjudul The Devious Dalang: Sukarno and the so called Untung putsch. Eye-witness report by Bambang S.Widjanarko (diedit oleh Rahadi S.Karni dan diterbitkan Interdog Publishing House, Denhaag). Buku yang menuduh keterlibatan Soekarno dalam G30S itu dilarang di Indonesia karena dikuatirkan menimbulkan kemarahan para pendukung mantan Presiden. Belakangan Widjanarko sendiri yang berasal dari KKO mengakui bahwa ia dipaksa untuk memberikan pengakuan demikian.
Sejak halaman awal buku itu telah mencari-cari kesalahan Bung Karno. Pertanyaan yang pertama diajukan adalah tentang informasi yang diperoleh Sabur tanggal 10 Maret 1966 pukul 18.30 bahwa ada pasukan yang akan menyerbu Istana. Pukul 19 Kombes Sumirat menyampaikan surat kepada Presiden. Anehnya surat itu ditulis dalam bahasa Jawa, Widjanarko diminta menerjemahkan. Isinya pasukan Kostrad akan menyerbu, surat itu ditandangani oleh Jenderal Suadi (Angkatan darat). Ketika itu beberapa Menteri telah berada di istana karena diminta oleh Soekarno menginap di sana demi keamanan. Karena surat ancaman itu, maka Presiden Soekarno dan rombongan pergi ke Istana Bogor dengan melewati markas KKO Cilandak. Di sini Soekarno sempat berbicara dengan komandan KKO Jenderal Hartono pukul 24 malam sampai 02 dini hari. Demikian keterangan yang tercantum dalam buku The Devious Dalang (hal 3-8) yang kiranya mengilhami kisah Soejono yang dituturkan dua tahun yang lalu.
Informasi Soejono mengenai kejadian tanggal 10-11 Maret 1966 masih diragukan. Sementara itu buku karangan Dake, The Devious Dalang lebih banyak merupakan hasil rekayasa aparat keamanan Orde Baru, hasil interogasi yang dipaksakan. Kemudian, sebagai kesatuan yang loyal kepada Preseden Soekarno, KKO sendiri dirugikan nama baiknya oleh rezim penguasa dengan mengarang cerita bahwa mantan komandannya, Jenderal Hartono, meninggal karena bunuh diri. Sejarah perlu ditulis kembali dan bagian yang bengkok mesti diluruskan serta nama baik tokoh yang pernah dirusak perlu direhabilitasi kembali.

     

 


FastCounter by bCentral