Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar)
Pemalsuan dan Manipulasi

Oleh: Harsutejo

Jenderal Suharto Sang Supersemar
Bukan kebetulan Jenderal Suharto menamai surat perintah yang dianggapnya sakti itu dengan Supersemar, Semar yang super. Seperti kita ketahui Semar merupakan tokoh punakawan, bapak formal punakawan yang lain yakni Gareng dan Petruk dalam pewayangan Jawa. Sekalipun kedudukan resmi Semar ialah pembantu para ksatria, akan tetapi ia merupakan jelmaan Sang Dewata. Tidak aneh jika ia pun bertindak sebagai penasehat spiritual para ksatria. Dalam hubungan ini Jenderal Suharto bukan saja memposisikan diri sebagai ksatria pemegang amanat kebenaran yang menghancur luluhkan apa yang mereka sebut pemberontakan G30S dan seluruh gerakan kiri dengan PKI sebagai sasaran utama, sekaligus menghabisi Presiden Sukarno beserta ajarannya, ia juga memposisikan diri sebagai Semar Yang Super, setingkat dengan Sang Dewata. Begitulah antara lain Jenderal Suharto telah mengeksploatir budaya Jawa untuk membangun feodalisme baru bagi kepentingan rezim militernya. Selama lebih dari 30 tahun rezim militer Orba telah mendongkel hampir seluruh ajaran Bung Karno, di antaranya tentang persatuan nasional, tentang ‘Trisakti’ yakni bebas dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Hasilnya telah kita rasakan dewasa ini dalam kemelut seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia yang membawa bangsa ini ke tepi jurang kebangkrutan.

Supersemar Palsu

Dalam buku terbitan Sekneg 30 Tahun Indonesia Merdeka jilid 3, termuat dua macam fotokopi Supersemar yang penampilan fisiknya amat berbeda (Sekneg 1994:77, 91). Yang pertama diketik satu spasi dengan tampilan lebih rapi, mengesankan asli. Sedang yang kedua diketik satu setengah spasi, mengesankan kurang rapi, bahkan amatiran. Agaknya kedua arsip inilah yang kini disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Tak Tahu Malu.

Buku tersebut di atas merupakan terbitan resmi pemerintah Orba dengan Sudharmono SH, Menteri Sekretaris Negara sebagai penanggungjawabnya, sedang isinya pada Brigjen Prof Dr Nugroho Notosusanto. Terbit pertama kali pada 1977 dengan sambutan Presiden Suharto. Buku ini sama sekali tidak memberikan keterangan apa sebabnya sampai ada dua macam teks Supersemar. Kelakuan buku resmi ini begitu aneh, lebih tepat disebut tak-tahu-malu, dalam menghadapi dua versi teks untuk satu dokumen negara yang begitu besar pengaruhnya terhadap perjalanan sejarah bangsa ini dengan bungkam seribu bahasa (termasuk kelakuan sejarawan Brigjen Prof Dr Nugroho Notosusanto). Dokumen penting yang yang terdiri dari dua sosok yang sama sekali berbeda itu rupanya seperti tidak menjadi masalah bagi rezim Orba, yang penting dokumen itu telah dipergunakan (baca: disalahgunakan) oleh Jenderal Suharto secara efektif. Dalam teks di bawah salah satu kopi dokumen tercantum dengan gagahnya,
“...Dengan Supersemar ini, dimulailah koreksi total atas penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh Orla serta usaha untuk menegakkan Pancasila dan UUD 1945 dalam kemurnian pelaksanaannya...” (Sekneg 1994:91).
Rupanya mereka mengira kekuasaan yang ada di tangan mereka itu abadi, hingga tidak ada seorang pun, juga ahli sejarah tidak, yang berani mempersoalkan dokumen sakti itu. Orang awam dapat membandingkan tandatangan Bung Karno (BK) yang tertera pada kedua fotokopi dokumen itu dengan tandatangan BK yang tercantum dengan jelas pada 8 fotokopi surat dan catatan pribadi BK yang ditulis pada tahun 1957 sampai 1968 termasuk surat wasiatnya yang termuat dalam buku susunan Gayus Siagian, Wasiat Bung Karno (Berdasarkan Bahan-Bahan dari Haji Masagung), 1998. Jika kita perhatikan dan kita bandingkan dengan saksama, tandatangan yang tertera pada kedua teks Supersemar itu tidak mirip dengan tandatangan BK yang asli.
Menurut Dr Mukhlis Paeni, waktu itu Ketua Arsip Nasional RI, setidaknya terdapat empat versi Supersemar. Dua naskah yang disimpan ANRI, satu diterima dari Sekretariat Negara dan satunya lagi dari Mabes ABRI yang diserahkan oleh Jenderal Faesal Tanjung ketika menjabat Panglima ABRI. Kedua naskah itu diragukan keotentikannya karena terdiri dari dua versi dengan 23 butir perbedaan. Pihak ANRI yang bermaksud menemui mantan Presiden Suharto tak pernah berhasil meski telah dijanjikan (Kompas 9 Feb.2001:19).
Kesimpulan saya tak lain kedua dokumen Supersemar tersebut di atas palsu adanya. Ini bukan kesimpulan tergesa-gesa jika kita ingat bahwa rezim Orba dengan ahli sejarahnya tak segan dan begitu nekatnya tak tahu malu hendak merekayasa sejarah dengan menghapus gambar sosok Sukarno dari dokumen sejarah yang sudah dikenal di seluruh dunia ketika teks Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945. Jika benar terdapat empat versi Supersemar (yang sudah pasti dan diumumkan secara resmi oleh rezim Orba ada dua), rupanya manipulasi dan rekayasa seputar Supersemar telah berjalan simpang siur. Atau barangkali memang begitu cara kerja dinas intelijen?
(Sebagian dipetik dari Harsutejo, G30S Sejarah yang Digelapkan, Hasta Mitra & Pustaka Utankayu, Jakarta, 2003). Bekasi, 10 Maret 2004.

     

 


FastCounter by bCentral