Kasus Ambalat - Nasionalisme Salah Arah
Oleh: Farid Gaban

Sikap patriotik sebenarnya dalam kasus Ambalat adalah jika kita peduli untuk mengubah orientasi pertahanan, mengurangi korupsi, berjihad mempelajari laut kita secara lebih serius.....
Dalam Kasus Ambalat, teriakan "Ganyang Malaysia" dan pengiriman kapal perang adalah bentuk nasionalisme yang salah arah serta keblinger.
Jika benar "nasionalisme dan kedaulatan" yang menjadi isu di sini, akan lebih produktif jika kita melakukan introspeksi yang komprehensif dan beradab dalam menangani kasus serupa.
Euforia media dan politisi tentang "Ganyang Malaysia" hanya mengaburkan hal-hal yang mendesak kita lakukan.
REORIENTASI KONSEP PERTAHANAN
Bencana tsunami di Aceh membuka kedok lemahnya angkatan bersenjata kita. Sekelompok tentara kehilangan kontak dengan komando di Banda Aceh dan Jakarta selama delapan hari. TNI sebenarnya sempat kehilangan kontrol terhadap Aceh selama beberapa hari awal tsunami.
Kehadiran militer asing di Aceh (termasuk Malasya dan Singapura) adalah konsekuensi dari lemahnya militer kita.
Deployment Angkatan Laut sangat lambat. Kapal-kapal yang dikirim sudah uzur dan peralatannya memble. Kapal-kapal perang yang berlabuh di Calang, pesisir Barat Aceh, misalnya, buatan 1940-an. Satu kapal lepas jangkarnya. Kendaraan amfibi yang dikirim buatan 1960-an, beberapa dikirim hanya untuk disimpan karena tak bisa dipakai.
Bahkan jika jadi berperang melawan Malaysia dalam kasus Ambalat belum tentu Indonesia bisa menang.
Apa yang terjadi dengan militer kita? Kurangkah dana dan anggaran militer?
Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran militer kita memang nampak kecil (Pada 1998, hanya 1,3% dari GDP). Tapi, peningkatan anggaran militer saja, tanpa ada perubahan radikal terhadap konsep pertahanan, tak akan mengubah situasi.
(Kita belum memperhitungkan berapa uang yang dikorup para jenderal sehingga membuat demoralisasi di kalangan prajurit dan hanya sedikit terisa dana untuk peralatan, bahkan peralatan komunikasi pun).
Anggaran Departemen Pertahanan pada 2005 mencapai Rp 21 trilyun (lebih besar dari kompensasi pencabutan subsidi BBM). Sekitar Rp 9 trilyun dipakai untuk Angkatan Darat, sementara hanya Rp 3 trilyun dipakai Angkatan Laut.
Betapa ironis: di negeri kepulauan yang 2/3 nya berupa laut, anggaran angkatan laut hanya 1/3 dari angkatan darat!
Meski pemerintah tahu bahwa Indonesia negeri perairan, konsep pertahanan masih sarat mengandung bias Angkatan Darat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ini:
1. Glorifikasi terhadap perang gerilya di darat.
Banyak mitos dan pemujaan berlebihan sejak zaman Nasution hingga Soeharto terhadap peran kesejarahan Angkatan Darat. Masih ingat film "Janur Kuning" dan "Enam Jam di Jogya"? Seperti umumnya film, ini lebih berisi mitos ketimbang fakta.
2. Warisan Dwi-fungsi dan Komando teritorial.
Komando teritorial memberi peran jauh lebih besar kepada angkatan darat ketimbang laut atau udara. Menyelenggarakan korem hingga koramil membutuhkan dana operasi yang besar. Padahal, dalam konsep pertahanan
seutuhnya, ini tidak banyak gunanya.
Gunanya lebih untuk memata-matai dan menindas rakyat sendiri ketimbang untuk mengamankan teritori negara.
Bukankah 2/3 negeri kita berupa air? Bahkan jika komando terirtorial tetap mau diterapkan, bukankah semestinya ada lebih banyak koramil yang ada di tengah laut?

DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

Ada sekitar 17.508 pulau di seluruh Indonesia. Kita belum punya peta yang komprehensif tentang ini. Sekitar 10.000 pulau bahkan belum memiliki nama. Sekitar 11.500 pulau tidak berpenghuni.
Pemerintahan yang sentralistis di Jakarta mustahil bisa mengurus itu. Pemanfaatan, pemeliharaan dan pengawasan terhadap pulau-pulau itu hanya bisa dikelola dengan skala managable oleh pemerintah daerah yang sudah diperkuat. Mereka perlu diperlengkapi polisi laut sendiri yang tidak perlu dikomando dari Jakarta.
Intinya: pulau yang banyak ini hanya mungkin dikelola oleh pemerintah daerah dalam konsep otonomi yang sebenarnya, bahkan jika mungkin dalam konsep federasi.
Jakarta sudah sibuk dengan urusannya sendiri, dan sudah terbukti selama ini tidak bisa mengelolanya.

REORIENTASI PEMBANGUNAN EKONOMI KEMARITIMAN
Pulau dan perairan Indonesia merupakan "harta karun" yang sangat berharga. Luas perairan Indonesia mencapai 3,1 juta km2. Tidak ada negeri yang memiliki garis pantai sepanjang Indonesia, kecuali Amerika Serikat atau Inggris di zaman kolonial (meliputi negeri jajahannya). Total panjang pantai pulau-pulau di Indonesia mencapai 81.000 km, atau
sekitar 80 kali panjang Pulau Jawa dari Anyer sampai Panarukan. Tapi, terbukti hanya sedikit sekali yang kita ketahui tentangnya. Pembangunan ekonomi/sosial yang berbasis kelautan harus menjadi prioritas. Ini membutuhkan riset dan investasi.
Indonesia punya dana yang besar jika uangnya tidak dikorupsi atau tidak diberikan secara cuma-cuma kepada bankir dan konglomerat.
Atau jika mau mengemplang utang luar negeri yang pembayaran bunga dan cicilan pokok kini menempati prosentase terbesar pengeluaran negara.
Malaysia mengklaim Ambalat tidak ada "jejak" Indonesia di pulau itu. Bisa dipahami.
Banyak pulau Indonesia memang tidak berpenghuni. Tapi, jika mau kreatif, bahkan pulau yang nampaknya tidak punya potensi ekonomi sebenarnya bisa "dipasarkan" sebagai tujuan wisata. Kita tahu, Malaysia sangat agresif dalam memasarkan wisata negerinya lewat slogan "Truly Asia". Kita lebih suka memajukan otot dari akal, untuk akhirnya
kalah.

DIPLOMASI DAN HUKUM INTERNASIONAL

Sejak 1982, Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui sebuah hukum internasional (UNCLOS), mengakui hak Indonesia atas laut yang tadinya sebagian besar dianggap merupakan perairan internasional. Namun, Indonesia masih berutang pada PBB untuk menyerahkan peta lautnya, yang sampai sekarang bisa usai dibuat.
Kekalahan Indonesia dalam kasus Sipadan-Ligitan antara lain disebabkan hal itu: Indonesia tak punya peta yang disahkan berdasar penjanjian internasional. Belum lagi memblemnya diplomasi Indonesia di kancah internasional.
Membuat peta laut membutuhkan dana besar. Punyakah dana? Sekali lagi jika pemerintah memeng berorientasi pada pembangunan yang benar, pemerintah punya dana untuk itu. Jika tidak dikorup, jika tidak serahkan cuma-cuma kepada bankir dan konglomerat, jika tidak untuk membayar utang najis kepada bos-bos IMF dan World Bank.

Akhirnya,

Ribut-ribut soal Ambalat semestinya membuat kita sendiri malu bahwa ada banyak "pekerjaan rumah" yang belum kita penuhi. Rasa malu itulah sebenarnya sentimen nasionalisme yang harus dikedepankan.
Sikap patriotik sebenarnya dalam kasus ini adalah jika kita peduli untuk mengubah orientasi pertahanan, mengurangi korupsi, berjihad mempelajari laut kita secara lebih serius..... M (FG/IM)

     

 


FastCounter by bCentral