Bincang-bincang dengan Konsul Imigrasi KJRI-LA
Ditulis oleh: Dr. Irawan

Arcadia, March 18 , 2005/Indonesia Media.
Drs. Budhi Harmanto, Msi, sudah ditugaskan di KJRI- Los Angeles sejak Oktober 2004 menggantikan Konsul Imigrasi KJRI-LA terdahulu, Pak Muchdor. Ketika ditemui oleh IM ditempat tinggalnya yang terletak di kota Arcadia, Pria yang murah senyum ini baru saja pulang dari kantor, katanya Isterinya Isni Hari Pudjarama yang bekerja sebagai reporter TVRI, saat itu sedang berada di tanah air.

Penampilan dari bapak yang berputeri dua, dan satu putera ini cukup santai dengan kemeja kuning pada malam itu. Sebagai pembukaan Pak Budhi menunjukan foto keluarga sambil menerangkan nama-nama anaknya yang terdiri dari Niramaya Dharmesti (17) , dan Dhiya Ayu Paramita (6), dan satu putera, Haryo Bhawiko(15).

Sedangkan Biodata singkat mengenai Pak Budhi adalah sebagi berikut Lahir 1953 di Jakarta. Pendidikan dari FISIP UI, di bidang kebijakan public. Penempatan pertama dalam kedinasan di Imigrasi yaitu di Pelabuhan udara Halim PK, Jakarta (80-85), Lalu 86 sempat di Cengkareng , 86-90 di Tanjung Perak, Surabaya, 90-93 di Kanwil Kehakiman Riau pada bagian Imigrasi, 93-96 di Kantor pusat sebagai penyusun program dan pelaporan, Setelah itu beliau ditugaskan sebagai kepala unit imigrasi di Dirjen Imigrasi untuk paspor TKI yang ke Timur Tengah pada tahun 1996. Tahun 1996-2000 sebagai kepala imigrasi Tangerang Jabar/Banten, kemudian dipindah ke Batam, Riau, dan Oktober 2004 diangkat menjadi Konsul Imigrasi KJRI-LA.

Entah karena kebetulan atau memang sudah waktunya, justru pada masa penugasan Pak Budhi ini diberlakukan banyak terobosan baru di bidang pelayanan keimigrasian KJRI di kawasan Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari surat dari Dubes Soemadi D.M. Brotodiningrat, yang ditandatangani pada tanggal 25 Oktober 2004. Surat itu adalah perihal tentang tarif yang berlaku untuk layanan Keimigrasian, dan Kekonsuleran. Bersama itu juga tidak ada lagi kewajiban dari warga untuk foto di KJRI-LA, hal ini membuktikan itikad baik dari kantor perwakilan dalam melaksanakan pelayanannya sesuai dengan semangat reformasi. Sebab dengan diberikannya kebebasan warga untuk foto diluar, atau menyediakan fotonya sendiri yang tentunya sesuai dengan persyaratan, maka isu isu miring mengenai KJRI-LA ingin memonopoly pas foto dapat ditepis dengan serta merta.

Menurut Pak Budhi, memang sekarang ini Pimpinan sedang menggodok suatu sistem pelayanan kemasyarakat yang lebih baik, kalau dulu KJRI datang kekantong masyarakat atas undangan, ternyata dari segi tehnisnya ada kendala, karena bisa saja menimbulkan kecemburuan antar kelompok masyarakat. Untuk itu sedang dipikirkan agar KJRI yang mengambil inisiatif, sekaligus melengkapi pelayanan dengan konsultasi bidang hukum keimigrasian oleh personel yang berkompeten. Hal seperti ini sudah dilakukan di Dever Colorado, yang dipimpin langsung oleh Pak Konjen Handoyo beberapa waktu yang lalu dengan pakar hukum Lia Suntoso.
Dalam waktu dekat ini buku paspor Indonesia akan diganti dengan yang lebih canggih lagi guna menghindari manipulasi atau pemalsuan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pasalnya buku paspor yang lama bisa saja dengan mudah diganti fotonya dengan cara dimasukkan kedalam freezer, pada temperatur tertentu laminasinya akan terkelupas dengan sendirinya, papar Pak Budhi.

Cepat urus masih harga lama!

Menyikapi kenaikan harga paspor yang katanya akan membumbung sampai 400%, Konsul yang mengaku orang asal Solo ini menghimbau agar warga memanfaatkan harga yang masih berlaku sekarang, jangan tunggu nanti kalau harganya naik .
Ketika ditanya oleh IM, mengenai keluhan masyarakat terhadap KJRI-LA, mengenai sulitnya menghubungi KJRI-LA pertelepon, Pak Budhi hanya tersenyum kecut, dan menjelaskan bahwa personel yang menangani Imigrasi yang berjumlah 3 orang itu memang sibuk di loket, namun beliau mencoba segala usaha yang terbaik untuk menangani kendala ini sesuai kemampuannya.. Sebenarnya masalah ini bukan lah hal yang baru. Sejak dijabat oleh Konjen-konjen yang terdahulu masalah ini belum pernah tuntas teratasi, malah ironisnya salah satu mantan Konjen justru turut mengeluh. Mudah-mudahan dalam masa jabatan KonJen Handriyo yang sudah banyak melakukan terobosan ini dapat menindaklanjuti kendala telepon ini.

     

 


FastCounter by bCentral