PHILIP MORRIS AMBIL ALIH SAMPOERNA: APA LATAR BELAKANGNYA?

Perusahaan rokok Amerika Serikat Philip Morris akan mengambil alih perusahaan rokok swasta nasional Sampoerna. Produsen rokok Marlboro tersebut membeli Sampoerna dengan harga 5,2 milyar dolar atau sekitar Rp. 48 trilyun. Demikian diungkap Judi Richards, juru bicara Sampoerna.
Judi Richards[JD]: Philip Morris Indonesia telah menandatangani perjanjian-perjanjian dengan para pemegang saham, untuk mengambil alih 40 persen saham PT. HM Sampoerna terbuka. Setelah penyelesaian pengambilalihan tersebut maka, PT. Philip Morris Indonesia akan melakukan penawaran tender untuk seluruh sisa saham dengan harga per saham yang sama dan penawaran tender tersebut diharapkan selesai dalam waktu kurang 80 hari.
Selanjutnya PT. Philip Morris Indonesia akan terus melanjutkan bisnis inti PT. HM Sampoerna terbuka dan mengambangkan brand equity dari produk-produk yang telah ada. PT. Philip Morris Indonesia juga sangat menghargai karyawan PT. HM Sampoerna terbuka, oleh karena itu akan terus bekerja sama dengan karyawan PT. HM Sampoerna terbuka, dan menjamin untuk melindungi hak-hak karyawan berdasarkan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku.
PT. HM Sampoerna akan mengambil langkah-langkah seperlunya untuk memastikan proses transisi ini akan berjalan dengan lancar dan tidak mempengaruhi kegiatan operasional dari PT. HM Sampoerna terbuka. Karena begini, sebetulnya kita perusahaan publik. Sehingga merupakan suatu hal yang "siapapun" boleh mencoba memiliki saham kita. Hanya karena Sampoerna dan Philip Morris dan juga jumlahnya yang siginifikan, kalau Rupiah sekitar 48 trilyun Rupiah.
Radio Nederland [RN]: Jadi terbuka kemungkinan untuk Philip Morris memegang saham mayoritas dengan 40 persen, dan sisa saham akan diurus selanjutnya?
JR: Ya! Terbuka untuk siapapun! Bukan hanya untuk Philip Morris saja.
Pembelian tersebut kontan memicu kekhawatiran. Martono peneliti pada Pusat Studi Hak-Hak Azasi Manusia Universitas Surabaya mengatakan pegambilalihan Sampoerna oleh Philip Morris dapat berdampak pada pendapatan rakyat di Jawa Timur. Martono sangsi transaksi raksasa itu merupakan balas budi pemerintah terhadap Sampoerna, yang dulu turut membantu kampanye presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Martono: Sampoerna ini kan sesungguhnya perusahaan yang berdomisili di Jawa Timur, yang nanti kalau terjadi sesuatu berdampak besar terhadap persoalan tenaga kerja. Yang kedua tentu ini snagat berpengaruh pada persoalan pendapatan daerah. Sampoerna ini tidak banyak puny apabrik di mana-mana. Tapi pusatnya itu ada di Jawa Timur. Itu tidak hanya mereka yang sekedar bekerja di sektor buruhnya. Tetapi kalau kita mau turun ke arah wilayah Madura, hampir seluruh wilayah Madura dan Bojonegoro itu petaninya tidak tergantung pada Gudang Garam(perusahaan rokok lainnya-red), tetapi sangat tergantung pada Sampoerna. Jadi cukup luas itu nanti pengaruhnya.
Anda bisa bayangkan kalau yang kehilangan pendapatan itu sedemikian luas. Karyawannya yang jumlahnya ribuan, dan itu kan tidak bisa, maaf ya, ketrampilan yang ada di PT. Sampoerna itu tidak bisa dialihakan begitu saja kepada kegiatan perusahaan lain. Karena itukan spesifik. Taruhlah yang paling sederhana. Tukang linting rokok. Jumlahnya sangat dominan. Nah kalau perusahaan itu dialihkan, kemudian dijadikan sungguh-sungguh indutsri betul, nah itu bagaimana?
RN: Industri massal begitu? karena Philip Morris ini kan kecenderungannya industri massal?
Martono: Ya, kalau industri massal macam begitu dilakukan Morris, pasti akan terjadi PHK besar-besaran.
RN: Usaha apa yang sedang dijalankan Sampoerna di luar bisnis intinya?
Martono: Saya kira sejak Alfa itu dijadikan salah satu armada usahanya. Sampoerna itu kan banyak pesaingnya. Beberapa gejala pasar swalayan mini Alfa itu sekarang sudah cukup banyak yang tutup.
RN: Jadi kerugian Sampoerna lebih karena usaha sampingan ini supermarket mini Alfa?
Martono: Dugaan saya itu ke sana.
RN: Kita melangkah lebih jauh ya. Bahwa industri rokok merupakan salah satu tulang punggung juga perpolitikan di Indonesia. Apakah hal ini juga akan berpengaruh juga ke sana?
Martono: Saya kira andaipun ada itu kecil. Karena hampir setiap pimpinan politik, termasuk pimpinan militer, itu hampir semua baik dengan perusahaan rokok di Jawa Timur. Gudang Garam itu siapapun panglimanya, siapapun gubernurnya, bahkan siapapun presidennya, itu baik-baik saja.
Taruhlah soal calon presiden dan wakil presiden yang lalu. Itu sepanjang yang kita ikuti, semua itu didanai juga. Bahwa Sampoerna lebih banyak kemarin itu membiayai timnya Susilo Bambang Yudhoyono melalui beberapa teman yang saya kenal. Suko Sudarso lah barangkali kalau boleh sebut nama gitu ya. Itu iya saya kira.
RN: Ada yang menyebut bahwa ini semacam balas budi pemerintahan SBY terhadap Sampoerna.
Martono: Kalaupun mengkait ke sana, saya kira tidak hanya Sampoerna saja. Cukup banyak perusahaan. Tapi kalau itu difokuskan ke Sampoerna, saya kok tidak kelewat yakin peralihan pada tubuh Sampoerna salah satu penyebab faktornya itu. Kalau saya lebih melihat bahwa faktor dominan adalah kegagalan-kegagalan Sampoerna kemarin yang melakukan kegiatan sampingan di luar usaha intinya itu.
RN: Tapi dampaknya yang paling jelas pada rakyat Jawa Timur ya?
Martono: Ya! Pasti itu! Kalau terjadi apa-apa pada Sampoerna sangat luar biasa itu. Tidak hanya karyawan tapi juga petani-petani tembakaunya.
Demikian Martono peneliti pada Pusat Studi Hak-Hak Azasi Manusia Universitas Surabaya, dan sebelumnya anda juga sudah mendengar keterangan Judi Richards juru bicara Sampoerna.

     

 


FastCounter by bCentral