|
 |
|
Jali-Jali
 |
"Enaknya makan di restoran di Amerika,
kalau mau tambah minuman kagak usah bayar lagi, " kata
Pepen kepada kedua temannya sambil membawa softdrink yang
baru di-refill. Sore itu mereka bertiga asyik menikmati
makanan di Mc Donald yang terletak di Walmart Redlands.
Sebelum cuci mata, memang sebaiknya perut diisi dulu, supaya
cacing-cacing jangan main musik keroncong.
"Ah, bukan cuma di sini aja, Pen! Di Indonesia kalau
mau nambah minuman juga kagak bayar, " kata Mat Kelor
yang sambil ngomong juga sembari ngunyah.
"Tentu aja, kalau lu ke restoran di Indonesia selalu
cuma pesen teh es yang emangnya gratis. Mau nambah seember
juga kagak diomelin ama yang punya restoran!" samber
Pepen yang disambut dengan tawa Jumadi.
"Ah, nggak juga. Tanya si Jumadi tuh, kalau pesen es
sirop di pinggir jalan, bisa minum berapa gelas, bayarnya
cuma segelas, " kata Mat Kelor sambil senyum-senyum.
"Yang bener aja lu. Emangnya mau dibacok tukang es
?" kata Pepen dengan nada nggak percaya.
"Minum dulu setengah gelas. Abis itu bilang ke abangnya,
kok es siropnya kurang manis. Nanti kalau siropnya udah
ditambahin, complain lagi. Bang, kok kemanisan, tambahin
esnya dong, " kata Mat Kelor sambil terkekeh-kekeh.
Setelah selesai makan, Jumadi bertanya kepada kedua temannya,
"Kita mau jalan-jalan di toko sama-sama apa mau mencar.
Gue sih mau ke bagian pakaian laki-laki. Kalau pada mencar,
nanti ketemu di sini satu jam lagi, OK? "
"OK boss, " jawab Mat Kelor, "Gue ama Pepen
nggak tertarik ke bagian pakaian. Ngapain beli baju di Walmart.
Gue kan kalau belanja baju di Radio Drive. Kalau si Pepen,
kartunya udah ketahuan. Kalau nggak di thrift store, ya
di yard sale, " kata Mat Kelor dengan gaya sambil ngeledekin
si Pepen.
Ketika sedang asyik melihat-lihat di bagian elektronik,
cellphone Mat Kelor berdering dengan nada lagu si Jali-Jali
yang di-downloadnya dari internet. Ketika dilihatnya di-screen,
bahwa Qodir yang telepon, Mat Kelor memutuskan untuk tidak
menjawab panggilan telepon. Nanti saja, maleman sedikit
gue telepon balik, pikirnya. Soalnya kalau malam, pakai
telepon gratis.
Kebetulan di dekat Mat Kelor ada seorang pria asal Indonesia.
Karena mendengar lagu Jali-Jali, ia langsung menegur Mat
Kelor, "Abang dari Indonesia ya ?"
"I'm sorry, what did you say?" tanya Mat Kelor
yang tiba-tiba timbul pikiran isengnya. Lagian kapan gue
kawin ama mpok lu, enak aja panggil abang, kata Mat Kelor
dalam hatinya.
"I thought you are from Indonesia, because I heard
an Indonesian song, Jali-Jali !" kata pria tersebut
dengan nada masih kurang percaya.
"You mean the ringer of my cellphone? It's a Cambodian
song. The title is Julai-Julai, " kata Mat Kelor sambil
menahan ketawa.
"We have the same song with the exact melody, "
kata lawan bicara Mat Kelor tidak mau kalah, "It's
a traditional song since my great-great grandfather. So
you guys might copy it from us."
"For us it's not only an old song, but ancient! History
said that once a princess from Cambodia got married with
a king from Indonesia. She might teach the song to his husband.
Then the king taught it to his people. Your great-great
grandfather might be one of them, " jawab Mat Kelor
yang juga nggak mau kalah.
"Jangan didengerin, Nang. Temen gue ini emang suka
rada-rada, " celetuk Pepen yang ternyata mendengarkan
percakapan Mat Kelor. Rupanya ia kenal dengan si Anang yang
lagi ngomong dengan Mat Kelor.
"Gue kirain beneran orang Kamboja, " kata Anang
dengan nada sebal karena merasa diboongin.
"Emang gue masih punya darah Kamboja. Nenek gue asalnya
dari gang Kemboja. Baru setelah nikah ama kekek gue, pindah
ke gang Kelor !"
jawab Mat Kelor sambil cengar-cengir. (Bang Madi/ IM)
|