|
 |
|
Tatap
muka dengan Anggota DPR di KJRI-LA
DILAPORKAN OLEH : DR.IRAWAN.
-DSC01176.jpg) |
-DSC01180.jpg) |
Konjen
Handriyo |
Konsul
Pensosbud
Bambang Susanto |
Los Angeles , March 4, 2005/Indonesia Media
Kedatangan dari ke empat anggota DPR-RI di KJRI-LA ini adalah
dalam rangka kunjungan mereka menemui senator dan congressmen
di Capitol hill. Sebelum pulang kembali ketanah air mereka
menyempatkan diri untuk singgah bertatap muka dengan masyarakat
Indonesia di Los Angeles.
Mereka yang datang adalah masing masing;
Ade Nasution dari Partai Bintang Reformasi selaku ketua
rombongan, Drs. Effendi Simbolon dari PDIP yang duduk di
komisi I, Angelina Sondakh, SE dari Partai Demokrat yang
duduk di komisi X, dan Marzuki Achmad, SH dari Partai Golkar
yang duduk di komisi VI. Bertindak sebagai Moderator, Konsul
Pensosbud, Bambang Susanto.
-DSC01177.jpg) |
Ade Nasution
|
Dari Dialog antara anggota DPR-RI dengan
masyarakat ini ada banyak point yang cukup menarik untuk
diketahui para pembaca. Nuansa demokrasi hasil dari era
reformasi semakin terlihat nyata diantara anggota legislatif,
silang pendapat dan saling isi mengisi terasa sangat mengesankan.
Masyarakat nyaris melupakan isu-isu miring yang sering terdengar
bahwa DPR adalah ajang show room dari mobil-mobil mewah,
dan kebiasaan bolos ngantor.
Merubah Citra
Ade Nasution mengkristisi perwakilan Indonesia
di luar negeri yang masih terpekur dengan display kerajinan
tradisionil seperti bakul dan kursi. Menurut dia sebaiknya
kemajuan technologi Indonesia seperti produk (aluminium)
komponen pesawat terbang yang harus ditonjolkan. Ade juga
menyayangkan effisiensi dari kantor perwakilan Indonesia
di ASyang dirasa perlu adanya perampingan
agar tidak memboros anggaran belanja negara. Disisi lainnya
dia juga mengeluh tidak adanya tenaga lobbyist Indonesia
di Washington .DC. Kita juga harus ingat bahwa kita adalah
negara Pacific, jadi jangan hanya terpaku pada Asean saja,
kita juga harus undang parlemen Vanuatu, Fiji, dan PNG untuk
menjalankan diplomasi kita, demikian papar orang yang mengaku
sebagi pendiri sebenarnya dari USINDO.
-DSC01179.jpg) |
Effendi Simbolon |
Kendala Pencabutan Embargo Militer
dari AS
Effendi Simbolon dengan blak-blakan mengatakan
isu tentang dicabutnya embargo bantuan militer dari AS adalah
hal yang tidak sesederhana yang diduga. Menurut Effendi
pemerintah tidak pernah insyaf bahwa sebelum urusan pelanggaran
HAM berat di Timtim, Aceh dan Papua di bereskan, congress
AS tidak mudah meloloskan embargo militer begitu saja. Jangan
karena untuk melindungi beberapa orang jenderal lalu rakyat
Indonesia yang lebih dari 220 juta itu dipertaruhkan.
Menurut Effendi, usaha dari Dubes dan Konjen RI di AS sudah
optimal dalam rangka mengusahakan dicabutnya embargo bantuan
militer dari AS. Masalahnya sebenarnya ada di Indonesia,
kalau pemerintah tetap menyembunyikan pelanggaran HAM berat,
tidak mereformasi TNI, dan tidak adanya transparansi budget
TNI, yah jangan berharap banyak. Masalah ini jangan dikaitkan
dengan isu-isu seperatis.
Jangan Sampai Jatuh Ketangan PBB
Perjanjian extradisi dengan Singapura juga belum
mempunyai pijakan solid. Masalah GAM pemerintah juga tanpa
konsultasi dengan DPR, malah melakukan pertemuan di Helsinki
yang katanya dilakukan secara informal, padahal kalau urusannya
sudah jatuh ketangan PBB, siapa saja sulit untuk membendungnya.
Indonesia saat ini bukan pada posisi yang menguntungkan
untuk menawar. Kita negara terkorup, kita negara yang main-main,
kita negara yang banyak hutang. Sudah banyak suara-suara
yang menyatakan bahwa kalau Timor Leste bisa, Papua mengapa
tidak?
(Menurut seorang warga yang bernama Herman, dia menjamin
bahwa Papua pasti akan lepas dari Indonesia. Namun dengan
dasar apa dia menjamin, dan jaminannya apa, tidak dijelaskan.)
Mengenai Panglima TNI
Effendi tidak mau terjebak dalam polemik tentang
urungnya Jenderal Ryamizard Ryacudu diangkat menjadi panglima
TNI, namun dia menjelaskan kronologi dari Panglima TNI Endriartono
Sutarto mohon mengundurkan diri diakhir administrasi Mega,
lalu ada surat rekomendasi Mega (R32) mengangkat Ryamizard
menjadi Panglima TNI, kemudian disusul dengan surat pembatalannya
saat dimulainya administrasi SBY (R41). Bahkan Effendi Simbolon
bilang ada kemiripan kasus ini seperti Supersemar, pasalnya
ada surat yang hilang begitu saja (surat pengunduran diri
Panglina TNI). Anggota yang duduk di Pokja Pertahanan ini
mengaku pernah menegur Panglima TNI sewaktu persyaratan
fit and proper test untuk jabatan Panglima TNI, dan Kapolri
mau dihapus begitu saja. Dia mengesan paradigma supermasi
sipil mau di kembalikan seperti zaman Orba yang militeristik.
Anggota DPR yang mewakili partai banteng moncong putih itu
juga menegaskan kembali, bahwa presiden hanya mempunyai
hak prerogatif dalam mengangkat menteri, tapi tidak mempunyai
hak prerogatif untuk mengangkat panglima TNI dan Kapolri.
Demikian pula dalam memberhentikan panglima TNI, presiden
harus meminta persetujuan kepada DPR. Pada UU no 34 (UU
TNI), pasal 13 , ada 10 ayat yang menjelaskan wewenang presiden
dan wewenang DPR. Memang DPR tidak berhak mengusulkan tapi
DPR mempunyai hak untuk menolak. Tokoh DPR yang masih senang
mengepul asap rokok kretek ini mengaku pernah meng-counter
kepada Presiden Yudhoyono, ketika presiden bilang “itu logika
terbalik”,lalu Effendi menyanggah kembali “Kalau paradigma
orde baru memang iya, tapi ini paradigma reformasi !”.
Soal Munir
Menjawab pertanyaan tentang kasus peracunan Munir,
Effendi yang bertindak sebagai sekretaris team DPR untuk
Munir, menjelaskan bahwa mereka yang meng-influent presiden
untuk menerbitkan Keppres TPF untuk mengusut kasus Munir.
Namun disayangkan juga sampai hari ini Polri hanya bisa
menyatakan sebatas munir yang mati diracun arsen, tanpa
bisa menjelaskan kapan dan siapa yang meracuninya. Memang
sementara ini Polycarpus di opinikan sebagai salah seorang
yang di curigai, namun sampai sekarang pengusutannya masih
berjalan sangat lambat.
-DSC01178.jpg) |
Angelina
Sondakh |
Pariwisata
Angelina Sondakh mendambakan agar urusan pariwisata
sebenarnya lebih tepat dimasukan kedalam Departemen Perindustrian
dan Perdagangan, dari pada dibawah koordinasi Kesra. Bila
pariwisata digolongkan kepada suatu produk komersial maka
akan menjadi sumber devisa andalan, hal ini menjawab pertanyaan
dari Lisa Tungka Feinstein (seorang tokoh masyarakat).
English as a Second Language
Angelina juga memastikan bahwa bahasa Inggeris
akan dijadikan mata pelajaran the second language, sesuai
dengan isi undang-undang sisdiknas baru-baru ini, kembali
hal ini menjawab himbauan dari seorang masyarakat (Kasim
Barus) yang prihatin akan kemampuan bahasa Inggeris dari
WNI yang ingin cari kerja di luar negeri. Sekaligus menepis
kekawatiran isu-isu bahasa Indonesia yang akan diganti dengan
bahasa Arab sehubungan dengan ada banyak kelompok demonstran
yang sudah menggunakan bahsa Arab dalam spanduk-spanduk
mereka.
Angelina yang wajahnya terpampang di cover majalah ini juga
memaklumi adanya dana fiskal yang bocor di pelabuhan udara,
untuk itu memang komisinya sedang mencari jalan keluar misalnya
dengan mengenakan fiskal pada tiketing dan boarding pass.
Hal ini dalam kaitan merespon laporan seorang investigator,
Agus Djayaputra yang membeberkan temuan perbuatan dari staf
(yang di oknumkan) di Pelabuhan udara Soekarno Hatta yang
menawarkan zonder fiskal dengan membayar Rp. 750.000, ketimbang
bayar Rp.1 juta.
-DSC01182.jpg) |
Marzuki
Achmad |
Soal Macet dan Banjir
Marzuki Achmad anggota DPR RI yang datangnya agak
terlambat turut prihatin atas kemacetan lalu lintas dan
banjir yang terjadi di Ibu kota, pasalnya pemerintah DKI
sekarang memang banyak mengijinkan pembangunan hypermarket
yang mengundang kemacetan. Alasannya setiap pemerintah daerah
sudah membuat RUTR (Rancangan umum tata ruang), maka alokasi
itu dimanfaatkan oleh pengecer-pengecer besar. Pemerintah
saat ini juga memerlukan investor, jadi kalau ada yang serius
membangun, maka dilepaslah ijin nya. Kadang sudah tahu itu
salah dibiarkan dulu, karena yang penting biar ini hidup
dulu, nantinya ini akan menjadi masalah. Pemerintah juga
sudah merencanakan untuk mengundang investor asing dalam
bidang infra struktur, jadi kalau dulu jalan-jalan hanya
dikuasai oleh jasa marga, maka sekarang sudah dibuka, ujar
ketua
fraksi dari partai yang berlambang beringin itu.
-DSC01194.jpg) |
Acara yang dibuka dengan makan malam, berakhir
sampai larut malam karena masih banyak masyarakat yang penasaran
untuk melontarkan pertanyaan. " (DI/IM)
|