|
 |
|
Ade
Armando Kunjungi Indonesia Media
 |
Tomasz Maciejko,
Ade Armando, Dr. Irawan |
Glendora, February 25 2005/Indonesia Media.
Sore itu Indonesia Media kedatangan tamu dari Indonesian
Broadcasting Commission, Ade Armano, yang juga mengaku sebagai
dosen FISIP jurusan komunikasi Universitas Indonesia. Kedatangannya
didampingi oleh Tomasz Maciejko yang dipercaya sebagai orang
dari Department of State. Sayangnya kunjungannya terlalu
singkat sehingga tidak sempat kita berbincang lebih dalam.
Maksud kunjungannya hanya untuk mengenal media masa Indonesia
di Amerika, termasuk Voice of America. Dari pembicaraan
yang singkat itu kami berhasil mencatat kiprah dari laki-laki
bertubuh sedang dan berkaca mata minus ini.
Dari apa yang di bicarakan oleh Ade Armando, kami bisa menyimpulkan
bahwa Ade termasuk seorang yang mempunyai idealisme dalam
jurnalistik. "Pemberitaan dalam media masa harus objective
dan berimbang, tidak boleh kami menutup nutupi dari satu
sisi, dan disisi lain kami juga jangan hanya menonjolkan
secara sepihak",demikian ujar peraih S2 (studi kependudukan)
dari Florida State University, AS, ini.
Ade Armando lahir pada tahun 1961, ayahnya pernah menjabat
sebagai diplomat sampai kejatuhan pemerintahan Soekarno,
dia juga pernah mengalami masa-masa suram saat itu. Tanpa
disadari kebiasaannya waktu kecil, yang sering menggunting
artikel-artikel koran dan menempelnya kembali lalu menulis
pengantarnya, seolah menemui tempatnya di jurusan itu. Nilai-nilai
mata kuliah komunikasi massa dan jurnalismenya lumayan istimewa.
Ia seperti menemukan dunianya, apalagi sejak bergabung dalam
penerbitan mahasiswa, Warta UI.
Masa prihatin masih mengikutinya sampai Ade duduk di bangku
kuliah. Ia sempat berjualan rempeyek di kampus, untuk mengurangi
beban ekonomi keluarga dan mendukung pembiayaan kuliahnya.
Perjuangan itu ia mulai sejak pagi-pagi dari Bogor, Jawa
Barat, naik-turun bus menuju kampusnya di Rawamangun, Jakarta
Timur. “Agar rempeyeknya tidak hancur, saya harus memilih
bus yang tempat duduk bagian pojoknya masih kosong. Tujuannya
agar saya tidak bergelantungan dalam bus dan berdesakan
dengan para penumpang yang lain,” kenang lelaki berdarah
Minang ini.
Ade terobsesi pada koran Islam. Pada 1993 ia bergabung dengan
harian Republika dan menempati posisi redaktur. “Saya kepengen
ada koran yang membawa nilai-nilai Islam,” katanya. Ternyata
koran itu tak memuaskan hatinya. Ia keluar dari Republika
saat rezim Soeharto masih berkuasa. “Saya melihat tekanan
politiknya jadi jauh lebih besar, sedangkan media harus
menyajikan berita secara obyektif,” tutur Ade, yang memuja
kelompok musik hard rock Deep Purple.
Sekarang Ade Armando menangani Indonesian Broadcasting Commission
yang berkantor di Jl Kapten Tendean No.28 Jakarta 12710.
Indonesia.
|