|
 |
|
Cap
Go Meh
Ditulis Oleh: Lisa V.
 |
Lisa
Virgiano |
Makna Di Balik Sebuah Perayaan Cap Go Meh
(Arak-arakan ToaPekong dari Kelenteng Toa Se Bio, Petak
Sembilan)
Setelah hampir 32 tahun dibelenggu oleh pemerintah terdahulu,
sekarang etnis TiongHoa di Indonesia mulai dapat menunjukkan
kembali jati dirinya lewat serangkaian kegiatan seni, budaya,
dan keagamaan warisan nenek moyang mereka.
Merupakan suatu keberuntungan yang berkali-kali lipat buat
saya dapat turut hadir di tengah keramaian yang terjadi
di kawasan Petak Sembilan, Glodok belum lama ini.
Saya merasa beruntung dapat menyaksikan salah satu ritual
keagamaan etnis TiongHoa tersebut pada hari Rabu, 23 Februari
2005. Acara arak-arakan sejumlah patung dewa dewi umat Konghucu
dilakukan bertepatan dengan 15 hari berlalunya Tahun Baru
Imlek, atau lebih sering dikenal dengan sebutan Cap Go Meh.
Hampir semua kelenteng di Indonesia melangsungkan ritual
ini, termasuk kelenteng di Jakarta
 |
Arak-arakan patung dewa dewi ini dimulai
dari Kelenteng Toa Se Bio, di kawasan Petak Sembilan yang
dilanjutkan dengan berkeliling di sekitar daerah tersebut,
terus sampai ke jalan Gajah Mada (Glodok) kemudian kembali
lagi ke kelenteng Toa Se Bio.
Mulai dari pukul 16.00 waktu setempat, saya sudah berada
di kelenteng Toa Se Bio. Keadaan sudah cukup padat. Aroma
dupa harum menyengat di sekeliling sedangkan asap berbagai
macam lilin terasa pedih di mata.Kerumunan manusia makin
bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Mereka menyempatkan
diri untuk masuk ke pelataran kelenteng yang relatif sempit
itu untuk bersembahyang di depan joli* patung dewa dewi
yang akan diarak tersebut.
Selepas pengamatan saya, joli-joli tersebut diatur sedemikian
rupa berbaris dengan format dua kali dua. Maksudnya, dua
joli ditaruh di bagian depan, dan dua joli sisanya ditaruh
di bagian belakang deretan joli pertama.
Di dalam joli, terdapat patung dewa atau dewi Konghucu lengkap
dengan hiasan kain berwarna merah dan kuning, bunga-bunga
dan dupa yang diatur mengelilingi patung tersebut, dan lampu-lampu
kecil yang menyala terang memendarkan warna warninya.
Ternyata, joli tersebut nantinya yang akan diarak beriringan
mengelilingi daerah Kota dan sekitarnya oleh banyak sukarelawan.
Satu hal yang menjadi pertanyaan buat saya adalah, mengapa
harus diarak?
 |
Ternyata, pertanyaan saya dijawab oleh teman
seperjalanan saya, Pak David Kwa, yang senantiasa memberikan
penjelasan detil tentang ritual ini.
Patung dewa dewi tersebut memang harus diarak pada saat
Cap Go Meh untuk mengusir segala bala atau malapetaka yang
disebabkan oleh setan-setan yang dipercaya berada di daerah
tersebut. Diharapkan, dengan mengarak patung dewa dewi dengan
tabuhan suara yang bertalu-talu, setan-setan akan lari menjauh
dan segala malapetaka akan sirna untuk satu tahun ke depannya.
Namun kegiatan arak-arakan ini belum tentu berlangsung setiap
tahunnya. Ada semacam ritual pendahuluan untuk menanyakan
kesediaan dewa dewi tertentu untuk hadir di ritual ini.
Apabila mereka menolak, maka dipastikan tidak akan ada upacara
ritual. Kalau tetap dipaksakan, maka besar kemungkinan akan
terjadi suatu malapetaka di saat acara ritual berlangsung.
Nah, berarti dengan diadakannya ritual arak-arakan
di Jakarta, maka dapa dipastikan dewa dewi tersebut bersedia
untuk hadir di acara ini.
Makin sore, kerumunan manusia makin menjadi-jadi. Ratusan,
bahkan ribuan orang berdatangan dari berbagai pelosok daerah.
Pada pukul 17.00 waktu setempat, ritual arak-arakan ini
diawali oleh permainan Liong dan Barongsai yang begitu memukau
di jalanan sekitar kelenteng Toa Se Bio. Liukan Liong yang
begitu lemah gemulai diiringi dengan tabuhan genderang bertalu-talu
dan atraksi yang berhasil membuat decak kagum para penontonnya,
telah menarik perhatian pengunjung untuk sementara waktu.
Selepas permainan Liong dan Barongsai tersebut, para panitia
ritual mulai membereskan jejeran para penonton yang tampak
semrawut untuk membuka jalan arak-arakan tersebut.
Jangan Anda coba bayangkan, kalau acara ritual ini akan
berlangsung tertib layaknya parade di DisneyLand. Kesan
tertib sangatlah jauh.
Yah, maklum saja, kata kebanyakan orang, ini Indonesia,
Bung
Orang-orang semakin sulit untuk diatur menjelang
arak-arakan dimulai. Saya berasumsi mungkin karena antusias
mereka yang telah lama menanti-nantikan acara semacam ini.
Bahkan, ada seorang ibu yang rela datang dari Karawang untuk
menyaksikan ritual ini. Dengan mata yang berkaca-kaca, Beliau
berkata, Saya sangat terharu sekali arak-arakan kayak
gini bisa ada lagi. Saya sudah lupa kapan terakhir kali
liat arak-arakan Toapekong.
Kurang lebih pukul 18.30, arak-arakan dimulai. Penonton
mulai berdesak-desakan dan berebut posisi di paling depan,
untuk melihat joli-joli yang akan diarak.
Joli pertama yang keluar membawa patung
Tien Kou (anjing langit) sebagai punggawa dewa. Joli yang
berbentuk menyerupai tandu ini diarak oleh banyak sukarelawan,
karena mereka yang berhasil mengarak joli ini dipercaya
akan mendapatkan keberuntungan. Banyak pengunjung yang mendekati
joli dan berusaha untuk menyentuh bagian joli ini, agar
kecipratan keberuntungan tentunya..
Joli diarak perlahan meninggalkan kelenteng Toa Se Bio.
Joli berikutnya adalah joli yang membawa patung dewi Ma
Co Po (dewi laut). Dewi yang satu ini terkenal sangat berjasa
bagi para nelayan yang tersesat di tengah laut, oleh karena
itu di daerah pesisir pantai, banyak kelenteng yang didirikan
untuk menghargai dewi ini. Joli yang membawa patung dewi
ini juga banyak dikerumuni pengunjung.
Joli ketiga adalah joli yang membawa patung dewa Chen Goan
Chen Kun. Kelenteng Toa Se Bio memang didirikan untuk menghormati
dewa ini. Di atas joli, saya melihat adanya seorang laki-laki
separuh baya yang mulutnya dimasukan beberapa bilau pisau
yang disilangkan. Aduh, merasa sakitkah dia?
Nampaknya tidak, karena dipercaya, laki-laki tersebut sebagai
medium perantara dewa Chen Goan Chen Kun yang hadir di tengah-tengah
acara untuk mengusir segala malapetaka.
Joli terakhir merupakan joli yang membawa dewa yang posisinya
tertinggi. Dewa siapa lagi, kalau bukan Dewi Kwan Im yang
terkenal itu. Joli terakhir paling banyak merebut perhatian
para pengunjung. Banyak dari mereka yang berusaha sekuat
tenaga untuk menyentuh bagian joli.
Arak-arakan joli bergerak perlahan menjauhi kelenteng. Saya
dan banyak pengunjung lainnya tidak kehilangan akal untuk
menyaksikan lebih jauh upacara ritual ini.
Saya dan rekan, Pak David Kwa, berlari kecil menyusuri gang-gang
kecil yang membawa kami ke jalan Gajah Mada, Kota. Kami
menunggu kembali arak-arakan untuk melintas di jalanan.
Benar saja, tidak lama, arak-arakan muncul dengan kawalan
polisi yang cukup ketat.
Tua muda, besar kecil, orang sakit maupun sehat nampak penuh
semangat menyaksikan arak-arakan ini dengan harapan mereka
masing-masing.
Setelah arak-arakan selesai melintas, jalanan Gajah Mada
ke arah Kota yang sempat ditutup, dibuka kembali. Kendaraan
mulai melintas memadati jalanan.
Kami pun berjalan kembali menuju ke kelenteng Toa Se Bio.
Arak-arakan akhirnya sampai kembali di pelataran kelenteng,
tentunya dengan disambut kerumunan orang yang masih banyak
jumlahnya. Joli-joli akhirnya diletakkan dengan rapi, dan
perlahan-lahan orang-orang mulai meninggalkan kelenteng
untuk kembali ke peraduan.
Namun saya masih betah menunggu. Menunggu apa, saya juga
tidak pasti. Benar saja, tak lama kemudian, para panitia
keluar lagi untuk membagi-bagikan semacam suvenir, berupa
hiasan yang bergambar dewa Cheng Goan Chen Kun dengan Tien
Kou dan tulisan Mandarin kepada sisa pengunjung. Acara pembagian
ini juga banyak diperebutkan oleh banyak pengunjung. Mereka
tidak tertib, saling berusaha untuk mendapatkan suvenir
ini yang diyakini membawa berkah. Pihak panitia sempat marah,
dan menyuruh pengunjung untuk antre dengan tertib. Saya
yang sebetulnya tidak berminat untuk meminta suvenir ini,
akhirnya kedapatan juga..Saya bertanya kepada panitia, untuk
apa ini. Panitia menjawab, suvenir ini bisa digunakan sebagai
gantungan di depan pintu atau di mobil untuk menolak bala.
Kalau untuk enteng jodoh??, kelakar saya. Panitia
sempat tersenyum dan berkata,Kalau mau enteng jodoh,
tadi kamu seharusnya menyentuh joli Ma Kwan Im. Saya
hanya tersenyum simpul saja, dan langsung teringat untuk
memberikan suvenir berharga ini kepada sahabat saya yang
akan segera menikah.
Tepat pukul 21.00 saya meninggalkan tempat acara, sambil
merenung di tengah jalan. Sedemikian besarkah niat manusia
untuk menghindari malapetaka, mencari keberuntungan dan
kebahagiaan? Mungkin upacara ritual ini sebagai salah satu
perwujudan manusia untuk mencari semua itu.
Satu hal yang saya yakini adalah sebagai manusia, kita tidak
boleh berhenti berusaha untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut
dengan melakukan niat baik dan usaha yang pantang menyerah.
Sementara itu, saya terus berjalan menyusuri malam sambil
mempertanyakan, apa yang sebetulnya saya cari di dunia ini.
Kebahagiaan, kemapanan, popularitas, prestasi yang membanggakan,
atau hanya secercah senyum yang mengawali hari, yang sebenarnya
saya cari????
Dan pekatnya malam mengiringi langkah saya untuk kembali
ke peraduan
*Joli = semacam tandu berkubah yang terbuat dari kayu solid
penuh ukiran dan tulisan khas Mandarin. Joli digunakan untuk
membawa patung dewa dewi dalam upacara ritual Cap Go Meh.
Joli ini dibuat secara customized, atau sesuai pesanan,
dengan kisaran harga antara 1 juta sampai puluhan juta rupiah.
|