|
|
|
Mengenal
Lebih Dekat Suhu A Djong
Sang Pewaris Jurus Wong Fei Hong
 |
Bagi sebagian masyarakat Tionghoa Semarang,
nama Khong A Djong tak terlampau asing. Mereka senantiasa
menambahkan kata ''suhu'' saat menyebut namanya. Sebutan
itu menjadi tengara, betapa ia bukan lelaki biasa. Banyak
kemampuan dia miliki, selain seni bela diri kung fu, A Djong
juga menguasai ilmu pengobatan tradisional Tiongkok untuk
menyembuhkan patah tulang. Untuk mengenal lebih dekat suhu
A Djong, wartawan Suara Merdeka Rukardi menuliskan kisah
hidupnya dalam dua tulisan bersambung mulai hari ini.
DI antara gambar-gambar anatomi tubuh manusia yang terpasang
di dinding ruang praktik Suhu Khong A Djong di Jl MT Haryono
Semarang, sebuah reproduksi foto kuno terasa lebih menarik
perhatian. Gambarnya, seorang pemuda berambut cepak tengah
berdiri gagah bersedekap tangan.
Badannya sedang-sedang saja, tak begitu besar, pun terlampau
kecil. Namun tubuh pemuda itu terlihat kukuh dengan sembulan
otot-otot di kedua lengan dan hastanya. Lebih gagah, karena
ia mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit harimau (fu
bei sam).
''Ini foto saya waktu misih muda dulu, kira-kira umur 30-an,''
tutur Khong A Djong lirih.
Rasanya susah membayangkan, pemuda dalam foto itu Khong
A Djong, sebab pada usia tuanya saat ini, tubuh lelaki itu
terlihat renta dan rapuh. Untuk berjalan atau beranjak dari
tempat duduknya saja, dia harus dipapah seorang pembantu.
Begitu pun artikulasi suaranya saat bicara, tak lagi mudah
ditangkap. Agar bisa dipahami, perlu ''transliterasi'' putra
bungsunya Khong Fan Shen (41).
Untuk meyakinkan, Khong Fan Shen mengambil pakaian kulit
harimau yang terdapat dalam foto dari dalam lemari. Serupa
dengan tubuh Khong A Djong, kondisi pakaian yang terbuat
dari kulit harimau asli itu juga terlihat rapuh. Beberapa
bagiannya telah koyak oleh usia. Tak berlebihan jika Khong
A Djong repot-repot menyimpannya, sebab itulah kenangan
terindah yang dia dapatkan di masa muda sebagai pendekar
kung fu.
Menurut Khong A Djong, pakaian kulit harimau itu dia dapatkan
setelah memenangi kejuaraan kung fu gaya bebas di daratan
Tiongkok (baligay) selama tujuh kali berturut-turut. Kebanggaan
lain, dia mengaku pernah mencecap ilmu kung fu Siong Mao,
murid mahaguru kung fu legendaris Tiongkok Wong Fei Hong
.Khong A Djong lahir di Kampung Gabahan Lengkong Buntu,
kawasan Pecinan Semarang pada 10 Oktober 1896, sebagai anak
tunggal dari pasangan Khong Hien Yie dan Lie Kwat Nio, yang
berprofesi sebagai pedagang lo shio bak (babi panggang).
Menurut dia, ''Khong'' sebagai nama depan, menunjukkan dirinya
sebagai keturunan ke-70 filsuf besar Khong Hu Cu.
Berguru di Tiongkok
Umur enam tahun, orang tuanya menitipkan Khong
A Djong kepada seorang pamannya yang tinggal di Kota Nam
Hai, Provinsi Kwang Tung, Tiongkok. Di negeri besar itu,
dia belajar kung fu di Siao Liem Sie, perguruan masyhur
tempat para pendekar kung fu terbaik Tiongkok menuntut ilmu.
Jangan tanya guru-gurunya, hampir semuanya nama-nama kondang,
satu di antaranya Siong Mao, murid Wong Fei Hong.
Di perguruan yang juga menelurkan bintang film kung fu legendaris
Brush Lee itu, dia memelajari dua aliran kung fu, yakni
siau liem dan nggo mbie paei. Siau liem adalah aliran kung
fu dari Tiongkok Selatan yang mengutamakan pertarungan tangan
kosong jarak jauh. Adapun nggo mbie paei, berasal dari Tiongkok
Utara yang mengedepankan pertarungan tangan kosong jarak
pendek. Meski demikian, penggunaan senjata seperti toya,
pedang, trisula, kwang tauw, tombak, golok, hwa, dan tali,
juga diajarkan.
''Dibandingkan dengan senjata-senjata yang lain, tali adalah
senjata paling hebat. Meski kelihatannya sepele, dia bisa
mengalahkan pedang, tombak, golok, dan senjata tajam lainnya,''
jelasnya.
Di luar itu, setiap murid juga mendapat ilmu bahasa sandi
dan pengobatan cidera. Bahasa sandi digunakan untuk pembicaraan
rahasia antarkawan seperguruan. Bahasa itu, sekaligus menjadi
identitas keanggotaan Siao Liem Sie. Jika dua orang bertemu
di jalan dan bisa berbincang dengan bahasa sandi itu, hampir
dapat dipastikan mereka saudara seperguruan.
Khong Fan Shen mengisahkan, suatu ketika ayahnya didatangi
beberapa murid seperguruan dari Tiongkok. Saat bersua, mereka
berbicara dengan bahasa aneh yang tak dia mengerti. Namun,
kendati belum pernah bertemu sebelumnya, mereka terlihat
sangat akrab. Bahasa sandi Siau tak boleh diajarkan kepada
orang lain di luar perguruan.(Rukardi-64t)
Dari Jual Koran sampai ''Ndoyong A Djong''
PERNAH dengar istilah ''ndoyong
adjong''? Kalau Anda warga Semarang yang pernah hidup pada
masa 1960-an hingga 1980-an, tentu mengakrabinya. Itu istilah
untuk menyebut seseorang yang berada dalam kondisi mabuk
berat oleh minuman keras. Adjong telah menjadi totem proparte
dari minuman anggur kolesom. Sebab sejatinya ia adalah sebuah
merek: ''Anggur Tjap A Djong''.
Istilah ndoyong adjong membuktikan, betapa merek minuman
beralkohol yang diproduksi di Jl Beteng, Gang Tengah, tersebut
amat populer di kalangan masyarakat Semarang kala itu. Pada
tahun 1980-an, sekumpulan mahasiswa sebuah perguruan tinggi
di kota ini bahkan menggunakan ''Ndoyong A Djong'' sebagai
nama grup band mereka. Kendati demikian, tak banyak orang
tahu, A Djong merupakan pemendekan nama sang pemilik pabrik,
Khong A Djong. Ya, dalam satu babak kehidupannya, lelaki
uzur itu pernah berbisnis minuman keras dan cukup menangguk
untung darinya.
Namun, sebelum itu, dia harus bersusah-payah bekerja apa
saja untuk sekadar mempertahankan hidup.
Setelah 27 tahun belajar kung fu di Tiongkok, dia dipanggil
orang tuanya pulang ke Semarang untuk menikah dengan seorang
gadis tetangga dari Kampung Gabahan Lengkong Buntu, Auw
Yang Ien Nio. Usai menikah mereka pindah ke Kampung Brondongan.
Akibat terlampau lama di Tiongkok, Khong A Djong tak bisa
berbahasa Melayu ataupun Jawa. Tentu saja, hal itu menyulitkannya
dalam berinteraksi, baik sosial maupun ekonomi.
''Pekerjaan pertama yang saya lakoni adalah jualan koran.
Sambil jualan, saya belajar bahasa Melayu kepada orang-orang
yang suka nongkrong di klenteng-klenteng,'' kisah Khong
A Djong.
Tak puas dengan hasil menjual koran, dia berganti profesi
menjadi penjual mie tie tee keliling. Meski disibukkan dengan
pekerjaan, Khong A Djong tak meninggalkan dunia kung fu
yang selama 27 tahun dipelajarinya dengan susah payah. Ia
latih anak-anak muda di kampungnya belajar jurus-jurus warisan
Wong Fei Hong. Semenjak itulah, dia mendapat sebutan ''suhu''
di depan namanya.
Main Atraksi
Untuk mencari penghasilan tambahan, Suhu A Djong
bersama murid-muridnya acap mengadakan atraksi kung fu di
kelenteng-kelenteng dan tempat-tempat keramaian lain, seperti
Alon-alon Semarang dan Pasar Johar.
''Sering saya main atraksi di pelataran Kelenteng Gedhe
(Tay Kak Sie) dan Sie Ong (Sebandaran). Kalau di Alon-alon
dan Pasar Johar, pas ada orang adaken jualan jamu.''
Pada 1936, Suhu A Djong dapat tempat melatih kung fu yang
lebih representatif. Dia menjadi guru di Hoo Hap Hoei Koen,
saat itu masih beralamat di Jl Plampitan. Di perkumpulan
tersebut, dia mengajarkan ilmu kung fu aliran Siao Liem.
Agar tak menyimpang dari ajaran asli, dia menamakan perkumpulan
kung fu Hoo Hap Hoei Koen sebagai Siao Liem Cen Cung Pay
(Siao Liem yang orisinal).
Suatu ketika ada salah seorang keluarga Mayor Gedonggulo
yang berguru kung fu padanya. Saat mendapat kesempatan meneruskan
studi di Jerman, dia mengembangkan ilmu kung funya. Dari
sanalah, Siao Liem Cen Cung Pay tersebar di seantero daratan
Eropa.
''Sampai sekarang ada sekitar 25 cabang di Eropa, dan saya
menjadi guru besar atau suhunya. Tapi aneh, di Indonesia
sendiri Siao Liem justru tak ada penerusnya,'' katanya.
Seburuk-buruk kondisi kehidupan Suhu A Djong, dia alami
pada masa akhir pemerintahan kolonial Belanda. Suasana perang
tak memberi ruang baginya untuk dapat bekerja dengan baik.
Demikian nelangsa, sampai-sampai, untuk dapat sekadar makan,
istrinya harus memungut ceceran beras di Pasar Kobong.
Ingin mengubah nasib, Suhu A Djong mencoba usaha baru, menjadi
gua tiak (pengijon).
Kendati tak punya kemampuan dasar gua tiak, dia mantap saja
menjalaninya. Sedikit-sedikit ikhtiarnya berbuah hasil.
Pemilik alis panjang tersebut menjadi pengepul palawija
dan ikan asin di desa Jepuro, Juwana. Komoditas itu selanjutnya
dia bawa dan jual ke Semarang. Mula-mula ia hanya mampu
menumpang praoto (mobil angkutan) untuk pulang-pergi dari
Kota Bandeng itu. Namun setelah usaha dagangnya maju, Suhu
A Djong bisa membeli sebuah Harley Davidson.
Hasil keuntungan dagang dia kembangkan untuk membangun pabrik
minuman anggur ''Tjap A Djong'' seperti telah diurai di
awal tulisan ini. Kini, di masa tuanya, Khong A Djong tak
mau tinggal diam. Meski tubuhnya telah renta, lelaki yang
dikaruniai lima putra, 15 cucu dan beberapa cicit itu masih
beraktivitas. Sehari-hari ia membuka praktik penyembuhan
patah tulang di rumahnya.(Rukardi-33t)
|