|
 |
|
Dari Film "Gie" (Soe Hok
Gie)
Apa yang dibayangkan oleh remaja yang beranjak dewasa, usia
sembilan belasan, ketika menulis kalimat ini di buku hariannya:
"Nasib terbaik pertama adalah tidak dilahirkan, yang
kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial
adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah
mereka yang mati muda?"
Saya membaca buku hariannya sejak saya masih SMP. Sebuah
buku milik kakak saya yang membuat saya begitu tertarik
lantaran judulnya yang lumayan provokatif: Catatan Seorang
Demonstran. Penulisnya Soe Hok Gie. Itu adalah buku hariannya
yang ia tulis sejak ia masih berstatus siswa SMP. Sebuah
buku yang menginspirasi begitu banyak orang,
termasuk saya. Tapi, siapa sesungguhnya Soe Hok Gie ini
sehingga buku hariannya dicetak menjadi sebuah buku dan
kemudian dibaca oleh banyak orang?
Sebagian dari kita mungkin asing dengan nama itu, tapi percayalah,
sebentar lagi, saat film tentang sosok itu launching, sosok
itu akan menjadi salah satu ikon anak muda di sini. Film
yang dibuat berdasarkan catatan hariannya itu saat ini sedang
digarap oleh Mira Lesmana, yang di salah satu kesempatan
mengatakan bahwa Soe Hok Gie adalah sosok yang berpengaruh
banyak di dalam hidupnya. Film yang berjudul Gie ini sekarang
sedang melalui proses syuting di Kawasan Kota Lama, Semarang
(Sekadar bocoran, dalam film ini sosok Soe Hok Gie diperankan
oleh Nicholas Saputra. Juga ada nama-nama tenar lain seperti
Sita RSD dan Wulan Guritno).
Gie hanyalah anak muda biasa, tak beda dari kebanyakan kita.
Tapi sesuatu yang membuat saya begitu iri adalah keluasan
bacaannya. Membaca memang "pekerjaannya" sejak
ia kecil. Untuk ini, beberapa kali ia sempat berdebat dengan
gurunya di kelas lantaran menurutnya gurunya itu tidak mengatakan
hal yang benar. Ada suatu kisah di mana ia berdebat dengan
salah seorang gurunya. Saat itu kelasnya sedang membahas
perkara karangan. Saat ditanya apakah Chairil Anwar pernah
menulis prosa yang disandiwarakan, Gie menjawab tidak ada.
Sebuah jawaban yang dianggap salah oleh gurunya. Si guru
mengatakan bahwa "Pulanglah Dia Si Anak Hilang"
adalah prosa karangan Chairil yang telah disandiwarakan,
sedang menurut Gie, peran Chairil dalam prosa tersebut hanya
sebatas penerjemah, pengarangnya sendiri bernama Andre Gide.
Dan berbantah-bantahanlah mereka di dalam kelas. Di akhir
perdebatan si guru bertanya kepada Gie, "Mengerti?"
Dengan tenang, lantaran membela apa yang ia pikir benar,
Gie menjawab, "Tidak, Pak." Hal yang membuat kelas
riuh tertawa.
Di malam harinya, ini yang ditulis Gie di buku hariannya:
"... Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan
kerbau."
Gie memang anak muda biasa, sama seperti kita. Hidup di
antara teman-teman, hewan-hewan piaraan (ia begitu sayang
dengan kera dan anjingnya), dan masalah-masalah khas remaja
(guru, sekolah, pertemanan, cinta). Pemikiran-pemikirannyalah,
yang begitu berani dan lurus, yang kemudian membuatnya menjadi
salah satu tokoh pemuda di
era 60-an. Ia adalah salah satu tokoh kunci di tengah riuhnya
suasana demonstrasi mahasiswa di tahun 1966. Pemikiran-pemikirannya
itu ia catat di buku hariannya dan artikel-artikel.
Dan karena pemikiran-pemikirannya itu pula ia menjadi sosok
yang "menakutkan" bagi pemerintah dan teman-teman
sejawatnya yang mencoba melenceng dari hal-hal yang semestinya.
Saat memomong keranya di suatu sore, Gie bertemu dengan
seorang (bukan pengemis) yang sedang sibuk memakan kulit
mangga karena kelaparan. Ia lantas memberi semua uang yang
ada di sakunya, Rp 2,50 kepada orang itu. Dan di buku hariannya
ia menulis, "Ya, dua kilometer dari pemakan kulit,
'paduka' kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan
istri-istrinya yang
cantik."
Sifat kritis telah tumbuh dari dirinya. Pernah suatu ketika
saat teman-teman mahasiswanya yang duduk di kursi DPR justru
lebih ribut soal kendaraan dinas ketimbang mewakili suara
rakyat, Gie berinisiatif untuk mengirimi mereka sebuah paket
yang berisi alat kosmetik dan disertai pesan singkat, "Semoga
kalian tampak cantik di depan para penguasa!"
Dan saat ia baru saja diangkat menjadi dosen di almamaternya,
Jurusan Sejarah Fak. Sastra UI, ia dengan berani mengkritik
dosen-dosen yang tidak memenuhi jadwal mengajar.
Banyak yang bisa diceritakan tentang Soe Hok Gie. Namun
yang terutama adalah pelajaran berharga darinya bahwa kita
haruslah berani menghadapi kenyataan apa pun, menanggung
risiko apa pun, demi berkata dan berbuat benar. Gie mati
muda (27 tahun), sesuatu yang sempat ia katakan sebagai
nasib baik. Bersama seorang temannya, ia menghirup
gas beracun di Puncak Mahameru (G. Semeru) saat mendaki
gunung. Di masa-masa itu, ia menulis sebuah puisi untuk
teman-temannya. Ini cuplikannya: Aku mengenali mereka yang
tanpa tentara mau berperang melawan diktator dan yang tanpa
uang mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
"Ada dua pilihan hidup di Indonesia..APATIS atau IDEALIS"
M (PR/IM)
|