Ben Anderson, Pengagum si Tjamboek Berdoeri

BENNEDICT ROG Anderson memang ''gila''. Ahli Indonesia itu tidak main-main ketika menulis kata pengantar untuk buku karya Tjamboek Berdoeri berjudul Indonesia Dalem Api dan Bara. Tujuh puluh sembilan jumlah halaman Kata Pengantar yang ditulisnya.
Kualitas kata pengantarnya adalah refleksi kekaguman Ben, demikian
Bennedict sering disapa pada isi tulisan sang Tjamboek Berdoeri. Demikian pula tampak rasa gembiranya bisa mengungkapkan siapa sebenarnya Tjamboek Berdoeri itu.
Padahal, buku yang pertama kali terbit di Malang dua tahun setelah kemerdekaan itu menggunakan bahasa Melayu-Tionghoa. Tidak mudah sebenarnya menikmati halaman demi halaman isi buku tanpa punya pengalaman berbahasa Melayu-Tionghoa dan pengetahuan bahasa Belanda.
Tjamboek Berdoeri agak rajin menggunakan kata-kata dalam bahasa Belanda ketika berkisah. Belum lagi kosa kata bahasa Jawa dan Madura sering muncul pula dalam tulisan Tjamboek Berdoeri.
Isi buku, jelas daya pikat utama, mengapa Anderson begitu tergila-gila untuk membongkar misteri di balik tokoh penulis buku. Isinya sendiri merupakan pengalaman Tjamboek Berdoeri yang mengalami tiga zaman, masa akhir kekuasaan Hindia Belanda, penjajahan Jepang, dan dua tahun penuh gejolak revolusi kemerdekaan. Tulisannya hidup. Terkadang ada nada sinis, kemarahan terhadap kekerasan yang menimpa rakyat.
Tetapi, kelucuan terkadang sekali muncul ketika sang penulis menggambarkan situasi masyarakat di tengah perubahan zaman. Soal istri-istri orang Belanda yang sok kaya tetapi ngutang ketika berbelanja, tidak lepas dari catatan penulis.
Dalam buku cetakan pertama, nama penerbitnya tidak disebutkan. Nama penulisnya aneh. Tjamboek Berdoeri. Tentu saja nama samaran. Adakah orang Indonesia yang hidup pada masa itu menggunakan nama menyeramkan seperti itu?
Nah, pada kolom Kata Pengantar, terbaca nama Kwee Thiam Tjing yang mengaku menerima naskah buku dari seorang kenalannya. "Oleh penulis dari ini boekoe saja diminta boeat perkenalkan Indonesia Dalem Api dan Bara pada pembaca." Itu saja keterangan yang tertera dalam buku.
Daya pikat buku dan rasa penasaran Ben itulah yang mendorongnya menulis panjang lebar di kolom Kata Pengantar. Yosep Adi Prasetyo, anggota tim penguak misteri Tjamboek Berdoeri mengaku tidak pernah membaca Kata Pengantar yang lebih panjang daripada tulisan Ben.
Sebagai perbandingan, mungkin ada baiknya memeriksa jumlah halaman tulisan Tjambioek. ''Hanya'' 232 halaman.
Pada edisi kedua yang diterbitkan Elkasa tahun lalu itu, terdapat Kata Pengantar kedua yang ditulis Arief W Djati, berjudul "Intel Melajoe" itu. Ia anggota tim penguak misteri Tjamboek Berdoeri lainnya.
Pengalaman Pertama
Selain membahas isi buku, dalam Kata Pengantar, Ben juga mengungkapkan pengalaman pertamanya memegang buku tua yang nyaris hancur itu, di sebuah toko loak di Jalan Surabaya, Jakarta. Kalender menunjukkan tahun 1963. Soeharto, yang sempat melarang ilmuwan asal Amerika Serikat datang ke Indonesia pada 1972-1999, saat itu belum berkuasa, belum menjadi presiden.
Nah, rasa kagumnya pada isi buku itu ternyata berujung pada rasa penasaran yang teramat dalam, karena tidak ada satu orang pun di Indonesia yang mengetahui siapa nama asli si Tjamboek Berdoeri. Jangankan mengetahui nama asli Tjamboek Berdoeri, ternyata, hanya satu orang Indonesia kenalannya yang saat itu mengaku pernah membaca buku itu. Orang itu, Onghokham, sejarawan.
Pada halaman tiga Kata Pengantarnya, Ben membuat pengakuan. Uniknya ia sengaja menulis dengan menggunakan bahasa Melayu-Tionghoa dan ejaan pada masa itu ketika menulis. Ia meniru tata bahasa dan gaya yang digunakan Tjamboek Berdoeri.
"Ketika membatjanya, saja merasa bahwa buku itu memang luar biasa, bisa membuat saja kadang2 ketawa ter-pingkel2 dan kadang2 menangis. Anehnja, di antara kawan2 saja tiada seorangpun yang pernah membatjanya, ataupun mengetahui beradanja.
...Pak Ong (tentu pada masa itu, dia belom naik pangkat menjadi Pak) sangat setuju bahwa bukunja siTjamboek emangnya heibat bin adjaib..".
Keseriusan Ben, terlihat bukan hanya dari lautan catatan kaki dalam Kata Pengantarnya. Tahun-tahun penerbitan dari artikel, buku atau majalah yang dia kutip ketika membahas apa dan siapa Tjamboek Berdoeri, menunjukkan keseriusannya bekerja. Simak saja halaman 11 dari buku itu
Catatan kaki nomor 21 di halaman itu menunjukkan keseriusan Ben meneliti suatu perkara. Catatan kaki itu mempertegas argumentasinya ketika memastikan bahwa Lay Po adalah sebuah majalah dan bukan penerbitan lainnya.
Itu hanya satu contoh.
Kekaguman Ben tampaknya tidak lepas dari keberanian sang penulis untuk meliput secara langsung berbagai kasus kekerasan yang menimpa rakyat. Hasil liputannya begitu hidup karena penulisnya memang langsung datang ke lapangan.
Ben menulis, ''Disini moengkin tjoekoep kalaoe dikatakeun bahwa si Tjamboek meloekiskan pengalamannja di Soerabaja dan di Balang sedjak boelan2 terachir djaman Belanda, melaloei djaman Jepang sampe Revoloesi Kemerdekaan (hingga kira2 achir moesim panas taon 1947).
Opa Kwee
Ben dan kawan-kawannya ternyata butuh waktu 40 tahun untuk mengungkap siapa sebenarnya Tjamboek Berdoeri. Sang penulis ternyata adalah Kwee Thiam Tjing yang menulis Kata Pengantar buku Indonesia Dalem Api dan Bara cetakan pertama di Malang pada 1947.
Kekaguman itu terlihat dari pilihan kata ketika Ben menyebutkan nama penulis buku itu. Opa Kwee. "Dia beruntung (Ben tampaknya lupa menggunakan kata oe ketika menulis kata beruntung, Red) lahir dan menjadi dewasa pada zaman emas jang sering dulu disebut Zaman Doenia Bergerak. Nasionalisme di dunia ketiga mulai punja akar dalam masjarakat2 yang dibuat hina oleh kolonialisme."
Lalu, apa komentar Ben setelah ia mengetahui bahwa sang penulis ternyata orang yang namanya tertera di halaman awal buku Indonesia Dalem Api dan Bara edisi pertama?
''Sekarang ini, kami tahoe bahwa kenalan penoelis itoe malahan Kwee Thiam Tjing sendiri; djadi nampaknya ia pake akal boeloes oentoek mengelaboei matanya mata 2 kolonial."
Lepas dari panjang pendeknya Kata Pengantar karya Ben, dunia buku di Indonesia mendapat perkembangan baru. Kata pengantar memang tidak selalu harus ada dalam sebuah buku.
Tetapi, jika kita perhatikan lagi isi Kata Pengantar Ben, rasanya kita bisa terus berkata, ''Kita perlu kata pengantar. Kata pengantar dengan informasi tambahan yang belum ditulis oleh si penulis buku. Dan bukan sekadar kata pengantar yang bersifat basa-basi. Penuh pujian. Basa-basi. Dan, bisa jadi cermin kurangnya rasa percaya diri sang penulis buku. Selamat datang penulis Kata Pengantar sehebat Ben. M (SP/IM)

     

 


FastCounter by bCentral