Surat Sekwapres Kagetkan Presiden dan DPR

Jakarta, Kompas - Rapat Konsultasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Pimpinan DPR dan Pimpinan Fraksi di Gedung DPR, hari Selasa (17/1) dikejutkan dengan pertanyaan anggota DPR Alvin Lie dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN). Alvin mempertanyakan Surat Sekretaris Wakil Presiden Prijono Tjiptoherijanto yanberisi arahan Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada para menteri untuk tidak terlalu menganggap penting rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena dianggap membuang-buang waktu dan tenaga.
Dalam Rapat Konsultasi Pimpinan DPR dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (18/1), keberadaan surat itu ditanyakan langsung oleh anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) Alvin Lie kepada Presiden Yudhoyono.

Pertanyaan Alvin itu mengagetkan Presiden Yudhoyono, Ketua DPR Agung Laksono, sejumlah pimpinan fraksi atau komisi. "Pak SBY memang kelihatan kaget," ucap seorang peserta rapat yang tidak bersedia disebutkan namanya.
Saat surat Sekretaris Wapres itu dipertanyakan, Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah tidak berada di ruangan. Kalla sudah meninggalkan ruangan karena akan menghadiri penutupan Infrastructure Summit di Hotel Sahid, Jakarta.

Ketika dikonfirmasi wartawan usai rapat, Alvin semula enggan berkomentar tentang hal tersebut karena khawatir dianggap membocorkan rahasia. Namun, karena kabar bahwa dirinya mempertanyakan keberadaan Surat Wapres itu telah beredar luas, dia bersedia menjelaskan pada wartawan.

"Iya, saya memang menanyakan Surat Sekretaris Wakil Presiden itu dalam rapat. Soalnya, kami merasa sangat dilecehkan. Seolah-olah DPR ini hanya cari-cari saja. Isinya hanya ecek-ecek, bahkan surat ini juga mengatur (DPR--red) dengan mengatakan kalau tidak hadir raker juga tidak apa-apa. Ini kan sudah intervensi ke intern lembaga DPR," kata Alvin sambil menunjukkan salinan surat yang dia terima.

Selesaikan internal
Alvin tidak bisa memastikan apakah surat itu palsu atau tidak. Tapi, dia merasa bahwa surat itu otentik. Ketika ditanya darimana dia memperoleh surat itu, dia pun tidak menjelaskan.

Surat bernomor B 1750 tertanggal 27 Desember 2004 itu ditujukan kepada para menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan para Pimpinan LPND (Lembaga Pemerintah Non Departemen). Pada bagian kepala surat, terdapat lambang Garuda. Sedangkan, di bagian bawah ditandatangani Sekretaris Wakil Presiden Prijono Tjiptoharijanto yang dilengkapi stempel.

Jawaban Presiden, menurut Alvin, sangat positif. Yudhoyono menjanjikan segera menyelesaikan hal ini secara internal. "Tanggapan Pak SBY sangat positif. Dia mengatakan akan diselesaikan intern dan menjamin tidak ada niat dari pemerintah seperti itu," jelasnya.

"Walaupun di sini ada tembusan kepada presiden, tembusan kepada Wapres dan Sekab (Sekretaris Kabinet), tapi ternyata Sekab mengatakan belum pernah menerima surat seperti itu. Presiden juga. Saya clear melihat mimik muka pak Bambang itu terperangah, kaget, marah, malu juga," tambah Alvin.

Agung yang ditemui terpisah juga mengaku kaget ketika mendengar pertanyaan Alvin soal surat tersebut. Namun, dia sendiri belum sempat membaca langsung isi surat tersebut. "Tapi, kalau benar, sangat disayangkan sekali karena melecehkan Dewan," ucapnya.

Agung juga menegaskan bahwa surat itu bukan surat Wapres tapi surat Sekretaris Wapres. Keaslian surat itu juga harus dicek lebih dulu. Dia sendiri berharap, surat itu tidak benar. "Saya mengatakan kalau surat itu benar ada, sangat memprihatinkan, mengecewakan dan bisa mengganggu hubungan pemerintah dengan dewan. Karena itu perlu ada klarifikasi," tandas Agung.

Tidak akan seperti itu
Sementara Sekretaris Wapres Prijono Tjiptoherijanto yang dikonfirmasi Kompas di rumahnya mengenai adanya surat tersebut, menyatakan tidak dapat menjelaskan panjang lebar perihal surat yang beredar di DPR.

"Saya mesti melihat file-file surat saya di kantor, besok Rabu (19/1). Lagipula saya belum memiliki copy surat yang diributkan itu. Jadi, tunggu saja. Kalau mau lebih jelas, tolong jangan dimuat dulu. Mudah-mudahan besok bisa saya jelaskan lebih rinci," ujar Prijono.

Mengenai isi surat tersebut yang dinilai melebihi kewenangan Wapres karena di antaranya meminta para menteri untuk tidak hadir dalam rapat bersama DPR, Prijono menegaskan, "Rasanya, kalau saya yang membuat surat, isinya tidak akan seperti itu. Saya kan juga tahu, jabatan saya itu apa. Masa saya memerintahkan para menteri. Itu tidak mungkin," tambahnya.

"Terus terang saya amat kaget dengan isi surat saya seperti itu," tandas Prijono.
Disinggung kemungkinan bahwa surat itu rekayasa dan dibuat-buat sedemikian rupa, Prijono tidak mau banyak berkomentar. "Sabar ya mas, kita lihat besok saja," lanjut Prijono. M (KCM/IM)

     

 


FastCounter by bCentral