|
|
|
Anak
Indo yang nulis di "Immigration and Nationality Act
Handbook"
 |
January 2005/Indonesia
Media
Nama sebenarnya Priscillia Suntoso, diembeli dengan
B.Mus.,JD.,M.B.A., namun panggilan akrabnya tetap "Lia".
Dalam usia yang masih di kepala dua ini Lia sudah banyak
mengantongi jam terbang dibidang pengabdian masyarakat,
khususnya masyarakat Indonesia. Pokoknya yang berurusan
dengan masalah keimigrasian di Amerika ini, mungkin sedikit
banyak pembaca sudah pernah mendengar atau membaca tulisannya,
entah di surat kabar, majalah, radio, TV, atau datang ke
seminar yang berkaitan dengan status imigrasi bagi para
pendatang ke Amerika Serikat ini.
Latar belakang pendidikan wanita idealis penyandang bintang
Cancer, 1977 ini cukup menakjubkan. Mulai dari tahun 1995
Lia menggeluti pendidikan musik sebagai pianis di Berklee
College of Music di Boston, Massachusetts, sampai dia mendapatkan
B.Mus. (Bachelor of Music) dengan major Jazz Composition
dalam waktu dua tahun. Dorongan untuk menuju ke level pendidikan
yang lebih representative lagi membuatnya ngotot ingin meraih
gelar M.B.A. (Master in Business Administration). Apakah
dorongan itu dari orangtuanya yang wiraswastawan Jakarta,
mengingat dia adalah anak sulung? IM tidak berhasil menggalinya
lebih dalam. Yang pasti Lia sempat terjebak mendapatkaan
info yang keliru, karena ada info yang ngawur yang mengatakaan
bahwa kalau mau ambil MBA, harus punya pengalaman kerja
3 tahun dulu, setelah itu baru bisa ambil master, yang MBA
itulah. Mungkin karena dulu masih belum ada semacam penyuluhan
pendidikan seperti yang diadakan oleh Amerindo dan ICAA
itu.
Jadi apa boleh buat, Lia mengambil sekolah di Suffolk University
Law School, Boston, MA yang juga setaraf dengan S-2. Singkat
cerita Lia graduate sebagai J.D. (Juris Doctor) pada May
2001, dan mendapatkan izin praktek penuh melalui Massachusetts
Bar, pada Januari 2002. Jadi kalau di Indonesia seperti
SH, yang mendapatkan ijin untuk buka layanan pengacara.
Sebenarnya ada baiknya juga karena gelar M.B.A selanjutnya
di capainya melalui Suffolk University Frank Sawyer School
of Management, pada December 2002, termasuk prestasi ciamik
yang diraih dalam waktu cukup singkat.
Saat ini Lia berkantor di Rose Immigration Law Firm di Nashville,
Tennessee, sebagai Associate Attorney. Berkenaan dengan
aktivitasnya di AILA (American Immigration Lawyers Association),
dimana dia adalah penulis reguler dan juga editor, yang
telah membuat banyak publikasi mengenai hukum keimigrasian,
maka Lia kerab diundang menjadi pembicara di KBRI dan KJRI-KJRI
di Amerika. Belum lagi wawancara, dan ceramah serta karya
tulisnya di TV/ Radio, dari Voice of America, Metro TV,
JTV, SCTV, Radio Sonora, Ms-Tri, sampai ke BBC. Sedangkan
koran dan majalah yang pernah memuat namanya antara lain
Indonesia Media, Gatra , Detik, Kosmopolitan, Suara Pembaruan,
JawaPos, Suara Karya, Kompas, majalah Serviam, dan Suara
Merdeka.
Pembaca mungkin boleh tidak percaya bahwa dalam aktivitasnya
dibidang pengacara hukum, Lia masih sempat-sempatnya berpartisipasi
di Suara Persaudaraan 2005 melalui multimedia di Jakarta.
Kalau masalah konser sudah dia buktikan pada produksi "Boston
Massacre Trial" yang digelar di Boston dan "Lia
Suntoso Jazz Orchestra" dimasa hidupnya sebagai musisi,
dimana Lia sendiri bertindak sebagai Leader, Conductor,
Composer, and Arranger, sungguh unbelievable ! Lia juga
anggota ASCAP (American Society of Authors, Composers, and
Publishers). Belakangan kami baru tahu putri jebolan SMU
Santa Ursula Jakarta ini ternyata hobby di bidang fotografi
dan melukis juga. Hanya satu complainnya: makanan favoritnya,
tornados rossini, sulit dicari di Nashville.
Sewaktu Lia ditanya apa yang memotivasi dia dalam kepeduliannya
terhadap masyarakat Indonesia ? (soalnya terus terang saja
banyak anak muda zaman sekarang umumnya suka cuek saja terhadap
kemasyarakatan) . Lia hanya menjawab : "Saya sedih
melihat nasib rakyat Indonesia sekarang yang terpuruk, saya
akan berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan yang ada pada
saya", jawabnya lirih. Lia sendiri masih memegang WNI,
mengenai masa depannya mau tinggal dimana, dia hanya menjawab;
"Mau lihat dulu dimana saya bisa berkarya untuk bangsa
Indonesia".
Dari CV yang disampaikan ke Indonesia Media, disebutkan
disana bahwa bahasa-bahasa yang dikuasainya meliputi; Inggris,
Chinese.
Sewaktu ditanya, apa tanggapannya mengenai kasus Hans Gouw
dari Virginia itu, Lia menjawab: "Itu orang memang
nekad! Yang kasihan adalah orang-orang yang jadi ikut terseret
karena kejahatannya itu!" Lia juga turut khawatir akibat
perbuatan Hans Gouw itu bisa menjadikan penggeneralisiran
terhadap pemohon status imigrasi lainnya dari Indonesia.
Dibawah ini ada sebagian judul publikasi mengenai imigasi
yang pernah ditulis Lia:
*Jalur Menyempit Menuju Seberang (GATRA)
*Ke AS: Jalan-jalan atau Kerja? (JawaPos)
*Tinggal dan Bekerja di Amerika Melalui Greencard Lottery
(dapat diakses melalui IM dan situs VOA Indonesia di www.voaindonesian.com
<http://www.voaindonesian.com>)
*Identitas, Imigrasi, dan Human Trafficking (dapat diakses
melalui situs Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia
RI di <http://www.ham.go.id/index_HAM.asp?menu=artikel&id=240>)
*Amerika Bukan Tempat Siapa Saja (GATRA)
*Temporary and Permanent Religious Workers Under the Immigration
and Nationality Act (MCLE)
*Permanent Religious Workers Under the Immigration and Nationality
Act (AILA) dan updates (AILA)
*Occupational Workbook: Immigration Options for Religious
Workers (AILA)
*The Uncommon Remedy: Common Law Marriage (Immigration Briefings)
Kalau pembaca merasa berminat membaca tulisan tersebut diatas,
silahkan kontak ke Indonesia Media, untuk kami pertimbangkan
dimuat di majalah kami.
DI/Indonesia Media.
|