|
|
|
Penjahat
incar para korban tsunami
Kate McGeown
Nasib buruk sudah menimpa mereka. Tetapi sekarang para korban
gempa dan tsunami di Asia ini menghadapi ancaman baru -
dari penjahat dan orang-orang yang ingin mempergunakan musibah
yang menghantam mereka untuk mencari uang.
"Sayangnya keadaan paska bencana seperti ini adalah
kesempatan emas bagi kriminal untuk mencari uang,"
kata psikolog kejahatan Mike Berry.
"Banyak korban tsunami yang mengalami depresi berat
dan ini menjadikan mereka sasaran empuk bagi orang-orang
jahat," kata Berry kepada BBC News.
Kejahatan terhadap korban bencana alam ini memang tidak
meluas tetapi membuat korban semakin trauma dan dampaknya
bisa sangat buruk bagi kesehatan mental mereka.
Penjarahan dilaporkan terjadi di negara-negara di seputar
Samudra Hindia yang dilanda bencana. Banyak rumah, toko
bahkan mayat korban yang menjadi sasaran.
Dan di Sri Lanka, beberapa korban yang mengungsi dikatakan
diperkosa di kamp-kamp pengungsian.
Salah satu bentuk kejahatan yang dikhawatirkan terjadi adalah
kelompok-kelompok kriminal mendekati anak-anak yang kehilangan
orang tua akibat bencana tsunami dan kemudian menjual mereka
sebagai pekerja seks.
Pemerintah Indonesia sudah melarang anak-anak dibawah usia
16 tahun dibawa keluar dari provinsi Aceh karena khawatir
sindikat perdagangan manusia beroperasi di daerah-daerah
yang terkena bencana.
Dana Anak Anak PBB, Unicef, mengatakan telah menerima sejumlah
laporan bahwa penjahat menawarkan anak-anak yang dibawa
dari Aceh untuk dijual atau diadopsi.
Jurubicara Unicef di Indonesia, John Budd mengatakan satu
kasus dapat dikukuhkan di mana seorang anak secara diam-diam
dibawa keluar Aceh ke
Medan untuk dijual.
Dia juga mengatakan ada laporan-laporan yang belum dikukuhkan
tentang 20 anak dibawa ke Malaysia dan kemungkinan ratusan
dibawa ke Jakarta.
He said there were also unconfirmed reports of up to 20
other children being taken to Malaysia, and possible hundreds
to Jakarta.
John Budd menekankan bahwa beberapa anak memang dibawa keluar
Aceh oleh orang-orang yang berniat membantu, tetapi Unicef
khawatir ada kelompok penjahat yang berpura-pura menjadi
LSM atau teman keluarga yang berkedok ingin menolong.
Budd baru-baru menyadari adanya praktek kriminal ini setelah
beredar pesan SMS di sejumlah negara Asia yang menawarkan
penjualan 300 anak yatim piatu dari Aceh.
Dia mengatakan Unicef segera akan mendaftar anak-anak di
Aceh yang kehilangan orangtua atau keluarga.
Paman palsu
Ancaman terhadap anak-anak korban gempa tidak hanya
terjadi di Aceh. Ada beberapa laporan tentang anak lelaki
berusia 12 tahun asal Swedia yang terluka akibat tsunami
di Thailand mungkin diculik dari sebuah rumah sakit.
Putra bocah itu yang berkewarganegaraan Amerika terbang
ke Thailand untuk mencarinya. Tetapi petugas rumah sakit
mengatakan anak itu sudah tidak ada lagi sejak sehari sebelumnya.
Menurut Unicef, di India seorang pria yang mengaku sebagai
paman seorang bocah ternyata palsu.
Di Sri Lanka, Aparat Perlindungan Anak Nasional tengah menyelidiki
laporan-laporan penyiksaan seksual terhadap 2 anak perempuan
di kamp penampungan di Galle, dan sebuah laporan terpisah
dikatakan seorang wanita lainnya diperkosa oleh sekelompok
pria.
Polisi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa mereka
tidak menerima laporan tentang perkosaan itu tetapi sebuah
LSM di Colombo mengatakan menerima laporan tentang "insiden
perkosaan, penyiksaan seksual dan fisik".
John Berry dari Unicef mengatakan, "Banyak orang merasa
marah dengan bencana yang melanda dan kemungkinan ada orang-orang
yang melampiaskan tekanan berat ini kepada wanita."
Korban yang meninggal pun menjadi sasaran. Perhiasan dilaporkan
dirampas dari korban-korban yang tewas di Thailand - dan
dari rumah serta toko.
Even the dead are not safe from those who want to cash in
on the disaster.
Di negara-negara lain di Asia lain muncul peringatan tsunami
palsu.
Di Timor Leste dan Malaysia, muncul laporan-laporan adanya
ancaman gempa yang membuat warga meninggalkan kampung mereka,
sehingga rumah kosong dan menjadi sasaran penjarah dan pencuri.
Orang-orang yang mengambil kesempatan tidak hanya mengincar
negara-negara yang terkena gempa tetapi juga negara-negara
lain yang warganya hilang atau tewas dalam bencana ini.
Lebih dari 2.000 orang asal Swedia dikhawatirkan tewas tetapi
pihak berwenang di Stockholm mengatakan mereka tidak menerbitkan
nama-nama mereka karena takut rumah orang-orang itu didatangi
maling.
Penjahat juga mempergunakan niat baik orang yang ingin memberi
sumbangan uang.
Kotak donasi bagi korban bencana gempa dan tsunami dicuri
dari Katedral Salisbury di Inggris.
Pesan email palsu yang mengaku dari LSM Oxfam dikirim ke
warga Hong Kong, meminta mereka memberi sumbangan. Menurut
polisi, uang yang dibayarkan ternyata masuk ke sebuah rekening
bank di Eropa. M (KMC/bbc/IM)
|