|
|
|
TONG
KOSONG
 |
"Masuk, Dir. Dari mana
aja lu ?" tanya Mat Kelor sambil mempersilakan Qodir
masuk ke apartemennya, ketika Qodir datang bertamu.
"Lama kagak ketemu. Nyangkul terus rupanya lu, Dir
?" tanya Pepen yang kebetulan sedang berada di situ
pula bersama Jumadi. "Udah banyak ngumpulin duit dong
?"
"Ndak juga, mas " jawab Qodir singkat. Ngejawab
apa aja pasti bakal digodain sih, pikirnya. "Aku baru
pergi sama Mas Sastro. Beliau ini kan punya banyak kenalan
orang penting di Indonesia. Siapa tahu kalau aku pulang
nanti, bisa kecipratan rezeki dari bisnis dengan relasi
beliau. "
"Yang dimaksud orang penting itu carik di Bantul, Dir
?" tanya Mat Kelor sambil senyum-senyum.
"Huss, kalau pak carik sih aku sudah kenal lama. Beliau
banyak kenal jendral, pengusaha sampai politisi, "
kata Qodir dengan serius. "Bahkan katanya beliau pernah
sama-sama main golf dengan pak SBY. "
"Emangnyé temen lu itu di sini kerjanya apaan,
Dir ?" tanya Jumadi yang mulai tertarik dengan pembicaraan.
"Ya kayak kita-kita tho Mas. Kerjaan umumnya orang
Indonesia di sini, " jawab Qodir lagi.
"Elu sih dari dulu masih polos aja, Dir. Jadinya gampang
dikadalin orang. Jangan lekas percaya kalau ada orang ngomong
macem-macem mengenai dirinyé sendiri, " celetuk
Pepen.
"Tapi Mas Sastro ini potongannya meyakinkan, lho Mas
" jawab Qodir membela diri.
"Potongan boleh meyakinkan, tapi jahitannyé
amburadul !" selak Pepen lagi yang disambut gelak tawa
teman-temannya.
"Dir, lu pikir ajé. Kalau di sini temen lu cuma
kerja yang penghasilannya minimum wage, gimané dia
bisa main golf di Indonesia. Biayanyé kan bisa jutaan.
Lagipula pak SBY mana mau sih main golf sama orang sembarangan.
Itu kan kata dia ajé, pernah main sama-sama. Jangan-jangan
pak SBY main golf beneran, temen lu cuman jadi caddy-nyé
atau malah tukang rumput di lapangan golf !" kata Mat
Kelor.
"Dulu waktu ke Washington DC, Mat Kelor juga pernah
Lunch sama-sama Bush. " samber Pepen lagi sambil cengar-cengir.
"Cuma Bush Lunch-nyé di gedung putih, Mat Kelor
di truck stop."
"Lu nggak tahu, kan Dir, kalau dulu Mat Kelor di tempat
kerjaannya hampir setiap hari ketemu presiden Suharto ?"
tanya Jumadi kepada Qodir.
"Ini serius atau bercanda, tho Mas ?" tanya Qodir
dengan rasa ingin tahu yang
besar.
"Lu tanya aja 'tuh ama orangnya, " jawab Jumadi
sambil menunjuk Mat Kelor.
"Dulu mas kerja di sekneg atau sekdalopbang ?"
tanya Qodir kepada Mat Kelor dengan tambah serius. Maksudnya
sekretariat negara atau sekretariat pengendalian operasional
pembangunan, nama resmi kantor presiden jaman babeh dulu.
"Si Pepen yang di sekneg, gue di sekdalopbang !"
jawab Mat Kelor dengan serius.
"Wah nggak sangka, mas-mas ini dulunya orang hebat
di Indonesia, " kata Qodir dengan terkagum-kagum.
"Si Pepen di sekneg itu maksudnya sekitar Jatinegara
jadi calo mikrolet. Kalau gue di sekretariat tukang tadah
loper koran dan kuli bangunan. " kata Mat Kelor sambil
terkekeh-kekeh.
"Kalau mau ke Bina Graha mobil babeh kan pasti lewat
perempatan Menteng-Cut Meutia, tempat mangkalnyé
Mat Kelor jualan poskota. Mangkényé di tempat
kerjaannyé dié hampir tiap hari ketemu babeh
" kata Jumadi sambil terbahak-bahak sampai keluar air
mata.
"Tong kosong itu nyaring bunyinyé, Dir. Temen
lu bisa ajé bilang banyak kenal orang penting di
Indonesia. Masalahnya orang-orang penting itu kenal apé
nggak ama temen lu. " kata Mat Kelor menutup pembicaraan
di tengah derai tawa teman-temannya. M (Bang Madi/ IM)
|