Masalah "Per-Bodongan"
Oleh Harry Adinegara.

Imigran bodong? So what? Imigran bodong?Imigran bodong yang kebetulan Tionghoa ini memperleceh "nama-baik" NKRI? Imigran bodong?Tidak sepatutnya imigran bodong itu sampai di perhati-in sama Menlu kita?padahal pribumi aja yang di-usir dari Timur Leste, di-usir dari Malaysia dan bahkan setelah diperkosa di negara cikal bakalnya Nabi Mohamad aja,

Apa semua komentar-komentar ini kredibel, bisa dipertanggung jawabkan?
Diatas itulah komentar-komentar para penulis terhormat di pelbagai milis,dan media , dalam menghadapi Tionghoa imigran bodong yang namanya Hans Gouw.

Kalau dilihat sepintas lalu dan hanya dilihat akibat yang timbul setelah imigran bodong ketangkap dan di proses hukum di Amrik sono, kita lupa menjawab pertanyaan kenapa imigran bodong kayak Hans Gouw ini sempat men-catut nama negara Indo dengan cerita "Khayalan". Saya kutip Khayalan dalam tanda petik karena hal ini akan diungkap lebih lanjut dalam paragrap selanjutnya.
Kita cermati individu Hans Gouw ini untuk mulai dengan pencerahan terhadap peristiwa imigran bodong di Amrik ini. Dia(Hans Gouw) sudah berusia setengah abad lebih sewaktu dia sampai di Amrik. Jadi, for the better or for the worse, atau ibaratnya dia sudah banyak makan garam dan tahu sikonnya negara kita yang deldel duwel ini. Bukan saja kalang kabut dalam hukum tapi juga keamanan sangat minim, tidak saja buat pribumi yang minus kedudukan dan kekuasaan, apalagi, boro-boro para Tionghoa yang dalam kedamaian jadi sapi perahan dan dalam kericuhan politik jadi kambing hitam.

Disinilah problema yang aktuil, yang urgent dan patut di jadikan acuan dalam meneliti kenapa imigran bodong Hans Gouw ini mencatut nama negara Indo. Bukan untuk membela apalagi membenarkan tindakan Hans Gouw ini, dalam aktipitas-aktipitasnya: pertama: mengelabui imigrasi Amrik, yang kedua: dia, ibaratnya mem-"boncengi" nama "baik" negara kiita dengan "mengibul" tentang rasialisme yang terjadi terhadap golongan Tionghoa di Indonesia. Mengibul di rangkum dalam tanda petik karena mengibul ini bukan cerita bohong, bukan cerita bodong tapi reallitanya memang terjadi di Indonesia, pelecehan HAM, tapi bagi Hans Gouw tidak ada bukti yang sah bahwa dia terkena imbas pelecehan Mei 98 ini.Disinilah individu Hans Gouw ini ibaratnya sudah kena penyakit khronis yang merebak di Indonesia yakni penyakit:deldel duwelnya hukum,deldel duwelnya keadilan, sehingga penyakit ini ingin dia aplikasikan di tanah Amrik yang sudah mantap hukumnya. Inilah gawatnya orang yang sudah terlalu lama menghirup hawa:hawa segala macam kebusukan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Dimanapun dan kapanpun selalu ada saja individu yang akan mengambil keuntungan, keuntungan bagi dirinya sendiri dan cs-nya atas suatu kejadian atau suatu peristiwa. Lha so what? So what! Disinilah kita harus mengerutkan jidat alias berpikir lebih mendalam ketimbang hanya emosional dan melihat persoalan dipermukaannya saja, sembari melempar komentar secara se-enaknya dan serampangan.

Kenapa Hans Gouw bisa bertindak: orang bilang a-nasionalistis?Atau penghianatkah dia? Disinilah kita sampai ke akar persoalan! Kalau tidak ada api mustahil ada asapnya! Apa gerangan apinya itu? Secara singkat bisa dijawab inilah kasus-kasus yang tidak pernah terusut, let alone tertuntaskan ,peristiwa-peristiwa kekejaman 65, Tanjung Priok,pelanggaran HAM di Aceh,DiPapua di Maluku di Nusa Tenggara, pelecehan HAM Mei 98. Inilah sumber(pelecehan HAM) yang akan selalu di-exploit oleh orang -orang untuk kepentingannya sendiri. Bila negara Indonesia ini negara yang sudah bersih dari segala ketimpangan pelecehan HAM, tidak ada itu sumber yang bisa digunakan/di-exploit orang untuk dijadikan alasan untuk memfitnah nama baik negara bagi keuntungan dirinya sendiri. Tak ada tuh orang Aborigine sini (Ostrali) yang ngeluyur ke LN sembari menjelek-jelekan nama Ostrali. Padahal disinipun ada diskriminasi, tapi pemerintahan kapirun barat ostrali ini selalu, dan senantiasa membuka secara transparan semua problim dan ditemukan penuntasannya yang adil.

Selama tanah Indonesia masih saja deldel duwel(ya hukum ya ekonominya ya usaha pendemokrasiannya) selalu saja ada dan akan ditemukan suatu sumber yang kredibel untuk memfitnah Indonesia. Simple as that bukan persoalannya.
Lupakan mencerca akibat sampingan ini misalnya , soal arogansi orang Tionghoa, soal Tionghoa si imigran bodong, lupakan menyalahkan majalah-majalh yang memuat ads-nya si Tionghoa Hans Gouw, lupakan Menlu kita yang dikatakan "membela" Tionghoa. Semua ini TIDAK akan mencuat keluar apabila sumber malapetaka(pelecehan HAM dan segala ketidak adilan) yang ada di Indonesia bisa dilenyapkan dan dituntaskan dan para kriminil baik ekonomi maupun crime against humanity bisa disapu bersih dari bumi Indonesia. Simple as that! M (HA/IM)

     

 


FastCounter by bCentral