Islam Radikal Bisa Menang dalam Sistem Demokrasi

Jakarta, Kompas - Kelompok Islam radikal bisa saja menang dalam sistem demokrasi dan kemudian mengubah konstitusi menjadi sesuai dengan syariah Islam. Selama mereka tidak melakukan pemberontakan, dan cara-cara kekerasan, ada kemungkinan kelompok Islam radikal ini dalam suatu masyarakat yang memiliki penduduk Muslim yang besar dapat memenangi pemilihan umum dalam sistem demokrasi.

"Bahkan, kelompok Islam moderat pernah mencobanya melalui parlemen pada tahun 1950-an yang dipelopori oleh Partai Masyumi," ujar Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Prof Dr Azyumardi Azra ketika berbicara pada sesi kelima dalam "International Conference on the Future of Islam, Democracy, and Authoritarianism in the Muslim World" di Jakarta, Selasa (7/12).

Menurut Azyumardi, akar gerakan radikal Muslim sebenarnya sangat kompleks. Untuk kasus Indonesia, bisa dilihat dalam bentuk keinginan untuk mendirikan negara Islam. Seperti yang diwujudkan dalam gerakan Darul Islam atau Negara Islam Indonesia serta gerakan Islam di Sulawesi Selatan.

Ide untuk mendirikan negara Islam, menurut Azyumardi, merupakan salah satu isu yang sangat krusial bagi kelompok Muslim di Indonesia. Beberapa kelompok moderat, seperti Partai Masyumi pada tahun 1950-an, berusaha mentransformasikan ide itu melalui parlemen. Meskipun usaha ini gagal, patut dihargai karena mereka melakukannya melalui cara-cara demokratis, bukan melalui pemberontakan.

Pada sesi sebelumnya, Dr Patricia Martinez dari Asia-Europe Institute University of Malaysia juga mengingatkan, pihak fundamentalis dapat memakai sistem demokrasi untuk mencapai tujuannya. Misalnya, mereka mengikuti sistem demokrasi dan memenangi pemilu. "Setelah menang, mereka dapat mengubah konstitusi dan menerapkan hudud ataupun syariah. Ini tidak bisa dihalangi oleh sistem demokrasi," ujarnya.

Prof Dr Khaled Abou El Fadl dari University of California in Los Angeles, AS, dalam teleconference-nya mengakui, demokrasi dalam Islam masih terfokus pada pembentukan institusinya. Secara ide, kewenangan harus berpusat dan bersumber dari Allah SWT, bukan dari masyarakat. "Persoalan inilah yang menjadi tantangan bagi dunia Islam untuk mengembangkan sistem demokrasinya," ujarnya. M (KCM/IM)

Tanggapan: Islam radikal bisa menang dalm system demokrasi
Kalopun Islam radikal ternyata bisa menang dalam system demokrasi yang berlaku untuk kemudian mengubah system di Indonesia dengan hukum syariah, apakah hal ini menjadi alasan untuk menjadikan Indonesia sekarang ini tidak demokrasi ????

Sama sekali tidak, Demokrasi harus terus berjalan tanpa alasan. Masyarakat pemilih di Indonesia harus belajar bertanggung jawab atasnegaranya. Malapetaka yang menimpa negara akibat demokrasi yangmenjadi pilihan masyarakat untuk menjadikan negara Islam sekalipun harus dihormati. Hal ini khan sudah dicontohkan oleh Taliban, akibat mengubah dasar negara tentunya tidak lagi diakui oleh PBB, karena semua negara yang menjadi anggauta PBB haruslah menyodorkan dasar negaranya dulu untuk ditelaah apakah ada hal2 yang melanggar HAM. Demikianlah Taliban gagal mendapatkan bangku di PBB, dan artinya gagal mendapatkan pengakuan sebagai negara, semua aktivitas teroris yang dilakukan sebenarnya untuk mendapatkan pengakuan Internasional yang tidak diperolehnya.

Demikianlah, kalo hal ini terjadi di Indonesia, halnya akan sama saja, meskipun menjadi negara Islam kalo tidak menjadikan negaranya sarang terorist, tentu tidak ada resiko apapun selain diembargo senjata dan ekonominya. Negara makin melarat akan mendorong terorisme, dan akhirnya diserbu kayak Taliban,.......ceritanya tammat, mulai dari nol lagi, negaranya sudah terpecah belah, republik Papua Barat muncul, republik Bali Merdeka muncul, dan republik

Aceh juga menang.
Dan kalo semua hal ini terjadi, apanya yang salah ??? Yang rugi itu khan cuma pemilih di Indonesia sendiri yang salah pilih, sedangkan bagi dunia luar sama sekali tidak ada ruginya. Oleh karena itu demokrasi haruslah dipertahankan tanpa alasan Islam radikal bisa memenangkan pemilu yang demokratis ini. Semua harus diserahkan kepada keinginan rakyat yang terbanyak. Yang pasti UU negara tidak bisa diubah karena mengubah UU negara berarti membangun negara baru yang harus melalui proses baru untuk masuk keanggautaan PBB.

Di Amerika, semuanya harus melalui voting termasuk pembuatan UU, namun ada hal-hal yang tidak mungkin divoting melainkan diharuskan untuk diterima dan dijalankan oleh Hakim tertinggi, yaitu masalah diskriminasi, rasialist, dan agama. Alasannya jelas, kalo voting membuat negara agama dipastikan agama mayoritas yang akan menang. Jadi hal-hal yang berbau agama, diskriminasi tidak mungkin dilakukan voting, karena mutlak bahwa hak asasi harus dilindungi, tidak bisa hukum yang menginjak-injak hak asasi bisa dimenangkan melalui voting.
Ny. Muslim binti Muskitawati.

Agama Harus Berperan dalam Perangi Teror
Agama harus berperan dalam memerangi terorisme karena perang terhadap teror akan gagal jika tidak ditekan secara keras melalui peran agama. Di samping itu para politikus dan para pemuka agama harus menjadi contoh bagi masyarakat untuk terus mendorong perdamaian dan bersikap moderat dan menunjukkan kerukunan.

Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer ketika berbicara pada dialog Kerja Sama Antaragama, Pembangunan Komunitas, dan Harmoni, Senin (6/12) di Yogyakarta.

Downer juga menyatakan kepercayaan seharusnya menginformasikan sebuah komitmen untuk keadilan dan memengaruhi orang untuk bermurah hati dan bertobat. “Dalam banyak hal, kepercayaan memperkaya pemahaman mereka tentang makna menjadi manusia dan hal itu menyempurnakan pengertian mereka akan kesucian hidup,” tuturnya.

Perang terhadap teror akan gagal jika tidak ditekan secara keras melalui ruang pengakuan dosa, mesjid, gereja, dan kelas-kelas di sekolah. Begitu juga melalui parlemen serta media massa. “Saya tidak memiliki kekhawatiran ketika mengatakan bahwa berkat dari keyakinan agama kita akan dapat menguatkan kita dalam berbagai usaha kita untuk memerangi teror dan kekerasan,” tuturnya.

Kebersamaan dan kesalingpengertian kita yang muncul dari melakukan dialog seperti ini, menurut Downer, akan sangat bermanfaat. “Semangat kerukunan yang menggerakkan kita hari ini sangatlah menyentuh. Begitu juga harapan yang dimandatkan pada kita oleh masyarakat yang menantikan perdamaian dan akhir dari kekerasan. Kita tidak boleh mengecewakan mereka,” tambahnya.

Perekat
Sementara itu Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif mengatakan, agama harus dapat menjadi perekat yang menyatukan sisi kemanusiaan dengan tujuan perdamaian dan pencerahan di masa yang sangat sulit ini.

Sejalan dengan semakin cepatnya perubahan di dunia, tantangan yang dihadapi agama-agama dan para pemuka agama juga semakin kompleks. Karena itu, agama-agama semestinya dapat menjadi perekat, yang secara bersama-bersama dapat menyatukan sisi-sisi kemanusian dengan tujuan untuk membawa perdamaian dan pencerahan di masa yang sulit ini.

“Tugas utama kita sangatlah berat di saat beberapa elemen di dalam masyarakat mencoba untuk memancing perpecahan antarmasyarakat dan antaragama,” ujarnya.

Karena itu Syafi’i mengharapkan agar para pemuka agama harus bangkit dan menunjukkan bahwa agama adalah demi kebaikan merupakan sebuah kekuatan besar untuk mencapai kemajuan, keselarasan, dan toleransi. “Kita harus berdiri dan menunjukkan bahwa agama adalah demi kebaikan masyarakat,” tambahnya.
Acara dialog antaragama ini berlangsung 6-7 Desember 2004. Ada sekitar 124 tokoh agama dari 14 negara yang hadir. Di antaranya dari Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Timor Leste.

Acara ini dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketika memberikan sambutan, Presiden mengingatkan situasi dunia saat sangat rapuh dan mengkhawatirkan. Dikatakan, situasi bertambah buruk ketika prasangka etnik dan agama dikaitkan dengan persaingan ekonomi, politik, dan perlakukan yang tidak termaafkan.

“Saya berharap dialog ini mempunyai agenda besar dan menghasilkan strategi awal yang praktis. Saya juga berharap forum ini menjadi forum permanen,” katanya. M (yuk/SH/IM)

     

 


FastCounter by bCentral