|
 |
|
Kasus
Pemalsuan Dokumen di Virginia
26 orang terdiri dari; 23 WNI , 2 US Citizen, dan 1 WN Australia
di kenakan tuduhan pemalsuan surat antara lain; Green Cards,
Passports, Drivers licenses, Kartu Social Security,
sampai ke surat Baptis. Mereka mulai diciduk oleh pihak
yang berwajib pada tanggal 22 November 2004, dari 4 biro
jasa pelayanan Imigrasi sbb:
Chinese Indonesian American Society (CIAS)
Lembaga ini beralamat di 6155 Pohick Station Drive,
Fairfax Station, Virginia, tempat Hans Gouw yang didakwa
sebagai otak dari konspirasi ini, bersama saudaranya Isnayanti
Gouw. CIAS didirikan di Virginia pada 13 Desember 2000.
Hans Gouw yang menjadi direkturnya. Lelaki kelahiran Indonesia
12 Maret 1951 ini mendapatkan suaka pada 22 Juli 1999. Dia
tengah menanti status penduduk permanen sebelum akhirnya
ditangkap.
Chinese Indonesian Pribumi Community Service
Dikenal juga dengan nama Indonesian Community Service,
beralamat di 7800 Delano Court, Manassas,Virginia, rumah
Silvy Karageorge. CIPCS adalah afiliasi sebuah firma hukum
di Falls Church, Virginia. CIPCS dimiliki dan dikelola Karageorge
dan didedikasikan untuk membantu proses imigrasi para imigran
dari Indonesia. Mereka mulai beriklan di Indonesia Journal
pada Oktober 2000.
Asian American Placement Services
Perusahaan jasa imigrasi ini beralamat di 6551
Loisdale Court, Suite 115, Springfield, Virginia. Sebelumnya,
pada Juli 2001-Juni 2003, AAPS beralamat di 6003 Captain
Marr Court, Fairfax Station, Virginia, rumah Megawaty Gandasaputra
dan Michael Wright, pemilik dan pengelola AAPS.
Kumala Nusantara
Dikenal sebagai K-Nusantara Service, Inc., beralamat
di rumah Nany Kumala, 6308 Torrence Street, Burke, Virginia.
Pada Agustus 2002 hingga Agustus 2003, KN beralamat di 10079
Chestnut Wood Lane, Burke, Virginia. CIAS pernah berkantor
di tempat ini pada tahun 2000. KN dimiliki dan dikelola
Nany Kumala.
Perbuatan Hans Gouw Cs sebenarnya pernah dilaporkan oleh
orang-orang yang tidak puas atas pelayanannya sejak 2 tahun
yang lalu menurut catatan pihak yang berwajib. Belakangan
soal pemalsuan surat ini menjadi demikian santer sehingga
memicu pihak yang berwajib melakukan penggrebegan biro jasa
itu.
Sejak September 2000, CIAS mengiklankan layanannya di dua
majalah komunitas Indonesia, Indonesian Journal, dan termasuk
majalah ini (Indonesia Media). Di situ disebutkan lembaga
ini siap membantu anggotanya mendapat KTP, SIM, kartu jaminan
sosial, perpanjangan visa, green card, izin kerja, suaka,
dan bahkan menjadi warga negara Amerika Serikat. (Red...:
Tentunya kami dari pihak media sulit mengetahui iklan dari
perusahaaan mana yang tidak melakukan bisnis secara legal.
Seperti yang dinyatakan dalam advertisments disclaimer masing-masing
media, bahwa produk dan jasa yang ditawarkan oleh iklan
adalah diluar tanggung jawab penerbit. Maka selalu kami
himbau agar para konsumen melaporkan kepada pihak yang berwenang
apabila merasa dirugikan. Pelaporan bisa ditujukan ke Department
of Consumer affair, Better Business Bureau, Department of
Corporation, Department of Insurance, Sheriff dan Police
Department. Kami,Indonesia media akan berkenan memuat press
release yang diterbitkan oleh badan-badan resmi diatas.
Seperti apa yang pernah kami lakukan terhadap Press release
dari Department of Insurances atas pelanggaran satu agent
asuransi beberapa waktu yang lalu. AS adalah negara yang
benar-benar menjunjung tinggi hukum, tidak bisa sembarang
orang main menghakimi sendiri.)
Menurut US. Attorney Paul J. McNulty yang menangani kasus
ini memang ada 7 dari 19 terorist yang membajak pesawat
saat September 11, yang memegang kartu identitas palsu dari
Virginia, namun McNulty memastikan tidak ada dari kasus
pemalsuan surat kepada WNI kali ini yang ada kaitannya dengan
kegiatan terrorist itu. Sekarang Imigrasi AS akan mempelajari
ulang para pemohon asylum yang menggunakan kesaksian dan
keterangan palsu, bila terbukti, tidak tertutup kemungkinan
status suakanya dicabut dan dideportasi.
Memanfaatkan Kelemahan Pemerintah Indonesia
Tuduhan atas pemalsuan tidak hanya sebatas dokumen
palsu, tapi juga melibatkan mengatur dan mengarang kesaksian
palsu sebagai dasar memohon Suaka /Asylum untuk mendapatkan
ijin tinggal di Amerika bagi WNI. Pada dasarnya yang merupakan
alasan bagi mereka (WNI) memohon asylum adalah mereka mengaku
diperkosa atau hampir diperkosa, dipukuli dan di rampok
oleh kelompok muslim di Indonesia dikarenakan etnisitas
mereka adalah Tionghoa dan dikaitkan juga dengan agama mereka
yang Kristen. Cerita ini sering diulang dalam berbagai versi
menurut penyidik. Mereka telah memanfaatkan kelemahan pemerintah
Indonesia yang sampai sekarang belum berani menuntaskan
masalah kerusuhan Mei 1998 yang meluas di Indonesia, dimana
telah mengorbankan banyak jiwa dan harta benda serta korban
perkosaan. Bahkan Presiden Habibie pada tahun 1999 pernah
memungkiri adanya kasus perkosaan itu di hadapan Senator
Mitch McConnell dan Elaine Chao yang sekarang masih menjabat
sebagai menteri tenaga kerja di kabinet Presiden George
Walker Bush. Ditambah lagi dengan masih adanya sekitar 60
peraturan yang mendiskriminasi WNI tertentu yang sampai
sekarang belum di ubah atau dihapus. Diyakini hal inilah
yang memicu WNI banyak berpindahan ke luar negeri termasuk
ke AS, namun tidak dipungkiri juga sebagian dari mereka
datang ke luar negeri karena desakan ekonomi dan mereka
mengirim uang hasil kerja mereka kepada sanak keluarga di
tanah air.
Komentar DR. Frits Hong.
Menurut salah satu tokoh masyarakat Indonesia disini,
DR. Frits Hong yang sudah diwawancarai oleh sedikitnya 7
kantor berita dari media cetak, radio sampai TV. Umumnya
beliau ditanyai sehubungan dengan kemiripan nama organisasi
yang diketuainya, ICAA (Indonesian Chinese American Association),
dengan nama biro jasa CIAS (Chinese Indonesian American
Society) di Virginia yang didakwa pemalsuan surat tersebut.
Sebenarnya mereka (wartawan) mengetahui bahwa jelas itu
tidak sama, namun mereka ingin menggali apakah ada kaitannya.
DR.Frits Hong menerangkan bahwa organisasinya tidak ada
kaitannya sama sekali bahkan beliau tidak mengenal siapa
itu Hans Gouw (Boss CIAS).
Himbauan dari pengurus ICAA
Agar masyarakat Indonesia yang sedang mengurus
surat untuk izin tinggal di AS selalu waspada, dan jangan
membawa budaya latah sebagai tradisi umumnya di tanah air,
kalau ada yang berhasil lulus dengan satu cara, lalu semuanya
ngluruk ke cara itu. Pokoknya kalau melakukan hal yang illegal
di AS tanggung sendiri konsekwensinya. Bersikaplah jujur
dan patuhi segala peraturan yang ada, dan gunakan semua
sarana yang ada termasuk organisasi kemasyarakatan. Bila
anda membutuhkan pengacara, sebaiknya cari tahu dulu kebolehannya
sebelum mengikat kontrak dengan mereka. Belum tentu kantor
pengacara yang ramai customer nya akan memberikan layanan
yang bisa memuaskan anda. Jangan lupa pula anda masih berstatus
sebagai WNI, untuk itu anda senantiasa harus memelihara
hubungan dengan kantor perwakilan RI di AS, KBRI atau Konsulat
Jenderal Republik Indonesia. Hendaknya anda up date selalu
dengan pengumuman yang dikeluarkan oleh kantor perwakilan
RI. Ingat hanya kantor perwakilan RI yang bisa memberi perlindungan
hukum kepada WNI melalui bidang konsulernya.
Perbuatan aib dari Hans Gouw cs ini adalah sepatutnya dia
pertanggung jawabkan dimuka pengadilan, namun preseden buruk
ini janganlah digunakan untuk menjeneralisir bahwa kejadian
pembunuhan, pembakaraan, perampokan dan pemerkosaan yang
meluas di Bulan Mei 1998 di Indonesia tidak pernah ada.
Juga dengan adanya kejadian ini jagalah diri kita masing-masing
agar jangan terprovokasi yang memecah hubungan antar WNI
kelompok Kristen dan Islam disini. Sadarlah bahwa kami semua
bersaudara ditanah rantau ini. Himbauan yang senada juga
kami terima dari organisasi lainnya seperti ICA Net, ICHF,
KBRI, dan KJRI.
Dalam kesempatan itu, Frits Hong memanfaatkan kesempatan
ini untuk menjelaskan bahwa ICAA adalah badan non profit
(nirlaba) yang resmi terdaftar di negara bagian California
sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, kesenian,
budaya dan pengetahuan sosial kepada masyarakat Indonesia
di AS, termasuk juga pengetahuan hukum dan Hak Asasi Manusia.
ICAA banyak memberi layanan GRATIS dari kegiatan yang di
konsentrasikan pada setiap hari Sabtu di fasilitas Duarte
Inn yang terdiri dari senam Thai Chi, kursus bahasa Mandarin,
Paduan Suara, Wushu (seni bela diri), Lion dance (barongsay),
dan mengadakan seminar-seminar untuk umum. Disamping keanggotaannya
yang gratis tanpa memandang latar belakang suku bangsa dan
agama, juga diberikan potongan 10% untuk belanja makanan-makanan
Indonesia di Food Court Pondok Kaki Lima.
Prestasi ICAA juga dibuktikan dengan sumbangan/charity untuk
saudara-saudara di Indonesia yang kurang mampu, seperti
amal pakaian baru/bekas, korban banjir, dan yang terakhir
sumbangan dana diberikan kepada warga miskin di Tegal Alur
yang tidak mampu mengurus KTP melalui LADI (Lembaga Anti
Diskriminasi Indonesia) November 2004, sebesar hampir Rp.
5 juta.
Kami selalu siap membantu baik itu pemerintahan RI
ataupun AS yang bermaksud membawa kearah suatu perbaikan,
sesuai dengan kemampuan kami, karena kami benar-benar swasembada
, yang artinya dana kami bukan dari hasil korupsi, memanfaatkan
uang negara atau usaha illegal lainnya.
Kami juga tidak janji akan selalu terlibat dengan usaha-usaha
perubahan, karena perubahan itu bisa menjadi lebih bagus
atau bahkan lebih jelek demikian ujar Boss Duarte
Inn itu. M (berbagai sumber/IM)
|