Potret Generasi Muslim di Belanda
Oleh: Bari Muchtar

Lahir dan dibesarkan di Belanda, dididik ketat sebagai anak Islam. Menikah dengan pria Inggris dan ingin mendidik anaknya tidak seketat orang tuanya mendidik dirinya. Berikut sebuah potret generasi ketiga muslim di Belanda: Elawati Syarifah alias Ifa.

Mempelajari budaya lain
Elawati Syarifah atau Ifa lahir 30 tahun lalu dan dibesarkan di Zoetermeer, dekat Den Haag. Waktu masih kecil dia sudah mulai belajar mengaji. Karena ketika itu belum ada mesjid, pengajian diadakan di 'buurt centrum' semacam balai desa di Zoetermeer. Dia merasa beruntung karena masuk SD yang muridnya kebanyakan berasal dari luar negeri. "Dari Surinam, dari Pakistan, dari Turki, dari Maroko," kenang Ifa. SD Negeri itu ketika itu sudah menggalakkan mempelajari budaya orang lain.

Sayangnya tidak jauh dari sana ada SD Kristen yang murid-muridnya masih suka mendiskriminasi orang asing. Apa bentuk diskriminasi itu? Ifa: " Dipukullah, diteriakinlah, " tandas Ifa. Setelah insiden-insiden tersebut para guru pun mengambil tindakan. Maka dimulailah kegiatan penyuluhan tentang budaya dan agama orang asing. Ifa pun diberi kesempatan menceritakan tentang agama Islam di depan kelas.

Sekolah putih
Waktu di sekolah lanjutan Ifa menemukan, banyak orang Belanda yang belum tahu tentang agama Islam. Berbeda dengan sekolah dasar yang muridnya sudah banyak orang asing, sekolah lanjutan tempat Ifa belajar masih bisa disebut sekolah putih. Banyak siswa-siswa Belanda tidak tahu orang Indonesia banyak yang beragama Islam seperti orang Maroko dan Turki. "Aneh kok orang Maroko sama agamanya dengan orang Indonesia, " reaksi mereka seperti dituturkan putri berayah Banten dan beribu Manado ini. Sejak itu siswa dan guru di sekolahnya terbuka terhadap orang Islam. Mereka pun mulai banyak bertanya tentang Islam. Ketika bulan puasa sikap orang Belanda berbeda dengan orang asing yang non muslim. Orang non Belanda yang mau makan di depan orang yang berpuasa, mohon maaf dulu. Mereka bilang: "Maaf saya mau makan." Tapi orang Belanda langsung saja makan tanpa minta maaf dulu. "Orang Belanda budayanya nggak begitu, " tegas Ifa sambil ketawa.

Sesama muslim mereka bersatu dan sering mengadakan acara berbuka bersama di bulan puasa. Di samping itu juga disediakan ruang sholat di ruang guru. "Tapi kita harus minta izin dulu, " tega Ifa. Tapi orang Belanda itu terbuka dan toleran. Di perguruan tinggi, di International School, suasananya lebih toleran. Mahasiswanya terdiri dari pemeluk bermacam-macam agama . "Ada orang Islam, Kristen, orang Yahudi, "jelas Ifa. Para mahasiswa itu tidak
mempermasalahkan agama dan budaya.

Berbeda dengan kebanyakan anak asal Indonesia yang lahir di Belanda, Ifa menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Ini tidak berarti bahwa dia dipaksa orang tuanya untuk berbicara bahasa Indonesia. Tapi menurut Ifa, itu tergantung pribadi masing-masing. Dia sendiri menganggap itu penting sekali. Namun kadang dia merasa bahasa Indonesianya sudah ketinggalan. Salah satu penyebabnya karena dia tinggal di lingkungan yang tidak berbahasa Indonesia. Untuk melancarkan dan mendalami bahasa Indonesia Ifa sempat bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag. "Saya banyak sekali belajar di KBRI. Bukan profesional saja, tapi juga tentang kebudayaan," tambah Ifa.

Di rumah Ifa diajari budaya Indonesia, tapi di luar bersentuhan dengan budaya Belanda. Waktu kecil Ifa punya teman gadis Belanda. Dia sering menginap di rumah Ifa dan juga sebaliknya. Ifa sering ditanya apakah dia merasa orang Belanda atau orang Indonesia. "Saya merasa orang Belanda keturunan Indonesia, 'jawab Ifa kepada mereka. Susahnya, tambah Ifa, kalau di Belanda mereka dianggap orang Indonesia, tapi di Indonesia mereka dianggap orang Belanda. "Ifa diterima sebagai orang Belanda hitam, "tegasnya.

Suaminya orang Kristen asal Inggris
Beberapa tahun Ifa tinggal di Inggris karena menikah dengan orang Inggris. Suaminya dididik secara Kristen tetapi dia tidak fanatik. Namun demikian suaminya tidak masuk Islam. Menurut Ifa, orang masuk Islam harus benar-benar berdasarkan kesadaran, bukan karena alasan mau menikah. Meski orang tua kurang setuju, tapi akhirnya Ifa menikah juga di catatan sipil. Sebaliknya mertuanya tidak begitu banyak mencampuri urusan rumah tangga Ifa dan suaminya. "Mungkin karena kebudayaan orang Inggris itu dingin, "tegas Ifa sambil ketawa. Karena di Chester tempat tinggalnya Ifa kurang banyak orang asing apalagi yang muslim, penduduk asli di sana agak negatif terhadap Islam. Mereka menganggap orang Islam teroris. Tapi Ifa tidak merasa perlu memberi penjelasan tentang Islam kalau tidak ditanya serius.

Di waktu masih di sekolah menengah Ifa dilarang untuh menghadiri pesta sekolah. Pesta sekolah itu berbentuk malam disko atas pengawasan guru. Tapi Ifa tetap juga menghadiri pesta. "Diam-diam pergi juga, "katanya. Karena belum berpengalaman, orang tuanya bingung menyikapi kemauan Ifa yang mau ke disko. Ternyata alasan melarang bukan karena agama, tetapi karena budaya. Orang tuanya sering memberi tahu: "Kamu itu perempuan Indonesia. Tidak boleh begini dan begitu, "kata orang tuanya. Sikap orang tuanya mulai berubah setelah menyadari bahwa remaja Indonesia di Indonesia juga suka keluar rumah.

Anaknya bebas memilih agama
Namun Ifa merasa pendidikan orang tuanya berhasil. Setelah punya anak hubungan Ifa dengan orang tuanya semakin baik. "Sangat baik sekali. Lebih baik dari dulu-dulu, "tegasnya. Sebabnya mungkin karena orang tua Ifa melihat Ifa bahagia dengan rumah tangganya. Ifa ingin mengajari anaknya, Connor, sebagai anak Islam. Namun dia nanti akan memberi kebebasan kepadanya untuk memilih agamanya. Karena kalau dipaksa, hasilnya bisa negatif. Apakah penyebabnya karena dia waktu itu dipaksa orang tua belajar agama? Ifa menjawab: "Ya memang begitu." Berdasarkan hal itu Ifa ingin mendidik anaknya dengan cara lain.

     

 


FastCounter by bCentral