|
|
|
Tenun
Songket
Bisa Mengetahui Status
Sosial dan Identitas Seseorang
 |
Seni kerajinan atau keterampilan
di Indonesia sudah ada semenjak zaman pra sejarah. Pada
masa itu seni kerajinan di Indonesia dibuat corak design
berupa ikat Lungsi. Salah satunya adalah songket dari Palembang.
Keterampilan menenun ini sudah ada sejak zaman Neolitikum.
Seperti yang dikatakan Suwati Kartiwa dalam bukunya Songket
Indonesia, bahwa sejak zaman pra sejarah Indonesia
telah mengenal tenunan dengan corak desain yang dibuat dengan
cara ikat Lungsi. Penghasil daerah tenunan ini adalah daerah
Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan NTT
Bukti lain yang menunjukkan bahwa tenun telah dikenal sejak
zaman dahulu adalah daerah penggalian arkeologi, yaitu pada
abad ke-8 dan ke-9.
Disebutkan adanya orang-onang yang memperdagangkan kisi,
benang (atukel) mencelup dengan warna biru dan merah (mangnila
wungkudu), menjual kapur (manghupu), yang banyak dipergunakan
dalam campuran warna pembuatan kain atau (powdihan). Informasi
dari temuan tersebut merupakan bukti bahwa menenun merupakan
aktivitas nilai sosial ekonomis yang tinggi.
Teknologi pembuatan kain tenun tersebut bukan murni berasal
dari nusantara ini tetapi berasal dari luar, sebab pada
saat itu nusantara ini merupakan persinggahan pedagang dan
China, India, dan Arab. Adanya perdagangan tersebut menyebabkan
adanya interaksi dan tukar menukar kebudayaannya. Di dalam
catatan para musafir China, pada tahun 518 SM disebutkan
bahwa raja dalam bagian Sumatra sudah memakai pakaian dari
sutra, meskipun kain itu masih merupakan impor dan China.
Bukti itu menunjukkan paling tidak pada saat itu di daerah
Sumatra telah dikenal adanya kain tenun.
Pada zaman Sriwijaya, di Sumatra dan di Jawa di kenal adanya
kain Patola Sutera. Bersamaan dengan itu mulai muncul pula
kain tenun yang terbuat dari benang kapas di wilayah Sumatera,
Jawa, dan Bali. Dan ketiga tempat itulah dapat tumbuh subur
tanaman kapas yang dapat menghasilkan benang tenun.
Keberadaan Sriwijaya sebagai negara manitim dan pusat perdagangan
bandar lada terbesar di Sumatera sudah barang tentu banyak
berhubungan dengan pedagang-pedagang asing terutama India,
China, dan Arab.
Oleh sebab itu perkembangan tekstil di Sumatera, teknologi
maupun ragam hiasnya termasuk warnanya banyak mendapat sentuhan
dan kebudayaan India, China, dan Arab. Hasil tenun dari
Sumatera sangat disukai oleh masyarakat China karena menggunakan
benang kapas yang termasuk langka di China. Keadaan ini
semakin membuat ramai lalu lintas perdagangan di Nusantara
ini.
Bahan baku yang digunakan untuk tenunan baik songket maupun
gebeng ini pada umumnya didatangkan dari luar negeri sehingga
perkembangan tenunan baik songket maupun gebeng ini pada
umumnya didatangkan dari luar negeri sehingga perkembangan
tenun juga dipengaruhi oleh kelancaran impor bahan dari
luar negeri. Bahan baku tenun songket adalah sebagai berikut,
benang sutena, pada umumnya didatangkan dan RRC, Jepang,
Taiwan. Benang Super, didatangkan dari Perancis, India,
Jepang, dan Jerman. Benang Emas, didatangkan dari Jepang.
Menurut masyarakat Palembang kain tenun songket yang asli
dihiasi dengan benang emas murni 14 karat. Jadi jika dasar
kain sutera telah lapuk maka benang emas tersebut bisa ditarik
dan dilepaskan kemudian dipindahkan pada dasar kain dan
benang sutera yang baru. Songket yang menggunakan benang
emas asli tersebut disebut songket Emas Jantung atau Cinde
dengan dasar kain berwarna merah dihiasi benang emas, benang
sutera, dan benang kapas dengan tumpal pucuk rebung.
Kain songket ini juga dibedakan antara songket dengan design
benang emas yang penuh disebut dengan songket lepus dan
design benang emas tersebar disebut songket tawur yang berarti
bertabur atau berserak. Perbedaan tersebut penting karena
motif songket yang dipakai seseorang melambangkan kebesaran
dan keagungan. Berdasarkan warna dan motif kain songket
bisa dibedakan status sosial si pemakainya. Seperti kain
songket dengan warna hijau, merah, dan kuning, biasanya
dipakai oleh seorang janda. Kalau mereka menggunakan warna
cenah melambangkan bahwa mereka ingin kawin lagi. Pada kain
songket Jando Berais dan songket Janda Pengantin kedua ujung
kain diberi design bunga tabur, sedangkan di bidang tengah
warna hijau polos.
Disamping itu ada pula nama-nama songket yang menunjukkan
identitas si pemakai sepenti songket Bungo Cino biasanya
dipakai oleh wanita keturuanan China. Demikian pula kain
songket Bungo Pacik yang dipakai oleh wanita keturunan India
dan Pakistan. M (Aras/IM)
|