|
|
|
Kasus
Munir mati diracun Bisa Jadi Isu Internasional
sumber: Jawapos/Tempo/Kompas/
Pembaruan/Radio Netherland/IM
JAKARTA - Aparat kepolisian Indonesia harus segera mengusut
kasus Munir sampai tuntas dan memberikan akses yang seluas-luasnya
kepada publik untuk mengetahui proses penyelidikan kasus
itu. Jika tidak, kasus kematian Munir itu bisa menjadi isu
internasional yang justru akan merugikan pemerintah Indonesia.
Pendapat itu disampaikan pakar hukum internasional dari
Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwono kepada /Pembaruan/
di Jakarta, Sabtu (20/11). Dia diminta komentar seputar
keinginan sejumlah lembaga swadaya masyarakat agar parlemen
Belanda terlibat dalam kasus kematian Munir.
Parlemen Belanda Turun Tangan
Jumat, 19 Nov 2004,Sejumlah politisi di parlemen
Belanda menyatakan siap mengawal" pengusutan kematian
Munir. Bahkan, ada beberapa politisi Negeri Kincir Angin
itu yang akan datang ke Indonesia khusus untuk membahas
kematian pejuang HAM yang diduga diracun dengan arsenik
tersebut.
Usman Hamid, wakil keluarga Munir yang kini berada di Belanda,
telah menemui berbagai kalangan. Tujuannya, meminta dukungan
agar Belanda dan Uni Eropa memantau penyidikan kasus kematian
Munir, baik di Belanda maupun di Indonesia, sehingga tidak
mandek.
Usman sudah bertemu langsung dengan politisi dari partai
oposisi maupun dengan kelompok koalisi pemerintah. Dalam
pertemuan itu, dia didampingi Martha Meijer, direktur Komite
Kemanusian Hak Asasi Manusia (HOM- Humanistisch Overleg
Mensenrechten) Belanda.
Hasil otopsi itu saat ini berada di tangan Kementerian Luar
Negeri Belanda. Fotokopi hasil otopsi Munir yang meninggal
di atas pesawat Garuda pada 7 September lalu itu menunjukkan
adanya racun arsenik dengan kadar mematikan.
Usman bertemu langsung dengan Farah Karimi, anggota parlemen
Belanda dari Partai Groen Links. Ini partai oposisi. "Mereka
mengatakan akan berkunjung ke Indonesia Januari 2005 nanti,"
ungkap Usman yang melakukan pertemuan pagi hari kemarin
waktu Belanda. Wilmer Heck, juru bicara Partai Groen Links,
membenarkan adanya rencana tersebut.
Usman yang saat ini menjabat Koordinator Badan Pekerja Kontras
juga bertemu dengan Kathleen Ferrier dan Maarten Hav. Dua
orang itu adalah politisi partai koalisi pemerintah. Keperluan
pertemuan dengan kedua anggota parlemen tersebut sama, yakni
meminta beking dan kepedulian parlemen Belanda untuk menuntaskan
kasus pembunuhan Munir itu.
Setelah bertemu dengan anggota parlemen Belanda, Usman menuju
Leiden yang berjarak sekitar 28 km dari Den Haag. Di sana
dia bertemu dengan pengacara yang akan mendampinginya saat
membaca hasil otopsi nanti.
Pengacara keluarga Munir itu bernama Prof Theo de Roos.
Theo adalah profesor di Departemen Hukum Kriminal dan Kriminologi
(Criminal Law and Criminilogi) Universitas Leiden.
Istri Munir: Otopsi dari Belanda Lebih Akurat
Suciwati, istri almarhum Munir, menolak rencana
polisi membongkar makam suaminya untuk kepentingan otopsi.
Menurut dia, hasil otopsi dari Belanda lebih bagus, akurat,
dan bisa dipercaya. Otopsi ulang sehubungan dengan ditemukannya
kandungan racun dalam tubuh Munir. Aktivis HAM itu meningal
di dalam pesawat dari Singapura ke Amsterdam, Belanda.
"Saya dan keluarga menolak (otopsi ulang) karena hasil
yang ada tinggal ditindak lanjuti," kata Suciwati kepada
Tempo melalui telepon, Senin (15/11). Meski secara fisik
belum menerima dokumen hasil otopsi, Suciwati mengaku yakin
atas rekomendasi Belanda yang menyebutkan bahwa Munir meninggal
karena ada kandungan arsenik atau arsen yang melebihi ambang
batas di dalam tubuhnya.
Dia khawatir, otopsi ulang akan menimbulkan masalah baru.
Suciwati mempersilakan polisi menggunakan hasil otopsi dari
Belanda. "Polisi tinggal menindaklanjuti. Lembaga forensik
dari Belanda pasti lebih akurat dan nggak ada kepentingan
macam-macam," lanjutnya.
Istri penerima penghargaan Nobel Alternatif (The Right Livehood
Award) Tahun 2000 dan Yap Thiam Hien Award 1998 itu juga
mengatakan, proses hukum harus segera dilakukan dan pemerintah
harus bersedia menerima tim independen ikut dalam pengusutan
kasus suaminya.
DPR Akan Ajukan Interpelasi Kasus Kematian Munir
Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno
KASUS MUNIR - Direktur Eksekutif Imparsial Rachland Nashidik
(tengah) didampingi Ketua PBHI Hendardi dan Anggota Kontras
Mufti memberikan pernyataan pers seputar tuntutan Imparsial
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membentuk
Tim Investigasi kasus Munir di Kantor Imparsial, Jakarta,
Rabu (17/11).
Pemerintah, dalam hal ini Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar
telah melakukan kebohongan publik mengenai kematian aktivis
kemanusiaan Munir, beberapa waktu lalu. Atas kebohongan
publik itu, DPR berencana mengajukan hak interpelasi kepada
pemerintah dalam waktu dekat ini.
Hal itu ditegaskan anggota DPR dari Fraksi PAN, Djoko Edhi
S Abdurrachman kepada /Pembaruan/, Rabu (17/11) malam. Menurut
Djoko, kebohongan publik itu terjadi ketika baru beberapa
hari Munir meninggal, Kapolri menyatakan kematian itu wajar.
Namun setelah ada pernyataan resmi dari Pemerintah Belanda
bahwa Munir meninggal akibat keracunan, Kapolri menyatakan
kematian Munir tidak wajar.
Sejauh ini, kata dia, sudah ada 13 orang anggota DPR yang
mau menandatangani Interpelasi tersebut. Kemungkinan, ujar
anggota Komisi III DPR ini, pada Senin (22/11) mendatang,
jumlah tersebut akan bertambah.
Djoko mengungkapkan, keinginan melakukan Interpelasi ini
dikarenakan sudah tidak dipercayanya organ-organ pemerintahan,
seperti Polri dan BIN (Badan Intelijen Negara), serta aparat
hukum lainnya. "Atas dasar itulah kami berkeinginan
melakukan langkah tersebut," tegas dia.
Bekerja Rahasia
Lembaga pemantau hak asasi manusia, Imparsial menduga
pelaku pembunuhan Munir adalah orang-orang yang berpengalaman
dalam melakukan pekerjaan rahasia. Imparsial juga meyakini
kematian Munir itu sebagai suatu pembunuhan politik (/political
assasination/).
Sebab, kata Rachland, sangat aneh ketika secara tiba-tiba
ditemukan arsenik dalam tubuh Munir. Pelakunya pasti mempunyai
kemampuan profesional untuk melakukan pekerjaan rahasia
seperti itu.
Ditambahkannya, orang yang mampu meracuni Munir juga memiliki
akses, misalnya, kalau arsenik itu dimasukan saat di dalam
penerbangan Garuda. Meski demikian, Rachland menegaskan
bahwa dugaan itu hanya analisa sementara.
Munir dikenal sebagai tokoh yang sangat kritis dalam usahanya
untuk mewujudkan HAM di Indonesia. Dia ada hampir di setiap
tempat, dari Aceh sampai Papua dan selalu berteriak lantang
dalam setiap usaha yang dilakukan negara untuk mendapatkan
kekuasaan yang mengancam HAM.
"Dia bicara sangat kritis dalam pembahasan RUU TNI,
misalnya. Dia bicara keras tentang RUU pokok-pokok intelijen
negara dan RUU terorisme. Jadi, Munir lebih dikenal lewat
kiprahnya di ranah politik. Jadi, kuat dugaan dia meninggal
karena sebab-sebab politik," kata Rachland.
Selain itu, pihak keluarga Munir, Imparsial, dan Komisi
untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras)
mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membentuk
tim investigasi kasus Munir. Tim itu mendapat legalitas
dari surat keputusan Presiden, bertanggungjawab terhadap
Presiden, dan menjadi representasi dari otoritas presiden
untuk mengetahui duduk perkara kasus itu.
"Tugas tim ini membantu dan mendukung tugas polisi.
Bukan karena kami tidak percaya terhadap kinerja polisi.
Saya percaya bahwa polisi butuh dukungan yang kuat untuk
membuka kasus ini. Dukungan utama dari Presiden," katanya.
Dikatakan, tim itu dapat beranggotakan polisi, Ketua Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), wakil dari DPR,
serta kalangan masyarakat sipil. Selain itu, Imparsial juga
telah mengirim permohonan untuk beraudiensi dengan Presiden
dalam waktu dekat.
Berangkat ke Belanda
Menurut Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim)
Mabes Polri Komjen Pol Suyitno Landung, Kamis (18/11) pagi,
tim Mabes Polri yang terdiri dari unsur kepolisian, Deplu
dan ahli dari Universitas Indonesia (UI) serta Universitas
Sumatera Utara (USU) berangkat ke Belanda guna berkoordinasi
dengan otoritas aparat yang menangani penyebab kematian
Munir di negara tersebut.
Rombongan tim itu memiliki keahlian bidang Reserse, Forensik
dan Toksilogi. Setelah tiba di Belanda menurut rencana mereka
akan bergabung dengan tim penyelidik di sana. Keberangkatan
tim ini diharapkan membuahkan hasil sampai upaya mendapatkan
fakta yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan pertimbangan
hukum.
Menurut Kabareskrim, selaian pengirimam tim beranggotakan
enam orang, Mabes Polri juga menugaskan satu tim lagi melibatkan
tiga anggota Polri dari Polda Metro Jaya dengan tugas utama
menelusuri kronologis perjalanan Munir sebelum berangkat
ke Belanda.
Target rincian penelusuran itu mulai keberangkatan almarhum
dari kediamannya di Jakarta, kemudian menuju Bandara Soekarno-Hatta
sampai tiba di Bandara Changi, Singapura termasuk ketika
menumpang pesawat Garuda GA-974 yang membawa tokoh HAM itu
ke negara kincir angin.
Tim Polda Metro diharapkan mendapatkan bukti spesifik terkait
perjalanan Munir. Contoh, sebelum berangkat ke Bandara Soekarno
Hatta ketika di rumah dengan siapa dan apa aktivitasnya.
Demikian pula saat di Bandara Soekarno Hatta sedang apa
di sana atau sejauhmana kesibukannya. Petugas juga mencari
data soal siapa saja yang kemungkinan sempat bertemu almarhum
dimana saja terutama saat berangkat atau dalam perjalanan.
Munir Dikaitkan Kematian Lain
SBY Beri Jadwal Audiensi Imparsial
JAKARTA - Para aktivis LSM rekan almarhum Munir menuntut
supaya pengusutan kasus Munir mendapat back up (dukungan)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ini perlu dilakukan karena
mereka percaya bahwa pejuang HAM itu diracun pihak-pihak
yang punya kekuasaan. Meski begitu, rekan-rekan Munir tersebut
enggan menyebut pihak mana pun.
Apalagi, menurut analisis yang mereka lakukan, rekan-rekan
Munir itu punya hipotesis bahwa kasus Munir tersebut, bisa
jadi, sama dengan kasus-kasus kematian misterius dan mendadak
sebelumnya. Misalnya, kematian yang terjadi pada almarhum
Jaksa Agung Baharuddin Lopa dan mantan Pangkostrad Letjen
Agus Wirahadikusumah (AWK).
Lopa meninggal di Arab Saudi pada 3 Agustus 2001. AWK meninggal
mendadak di rumahnya pada 30 Agustus 2001. "Sekali
lagi, ini cuma analisis. Tapi, kedua orang itu dikenal sebagai
tokoh reformasi dan hasil kematiannya tidak pernah diketahui
karena keluarganya menolak otopsi," kata Direktur Eksekutif
Imparsial Rachland Nashidik dalam jumpa pers di kantornya,
Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin.
Tapi, kan Lopa selama ini hanya dikenal tegas terhadap koruptor,
bukan terhadap "pihak-pihak yang lain"? "Para
koruptor itu berani karena mempunyai dukungan politik. Dukungan
kekuasaan. Jangan salah," kata Rachland. Begitu pula
halnya dengan AWK yang sering disebut-sebut sebagai perwira
reformis di tubuh TNI itu.
Rachland mengibaratkan, Munir hadir dalam setiap kasus pelanggaran
kemanusiaan yang terjadi mulai penculikan aktivis, Aceh,
hingga Papua. "Munir juga ada di setiap rancangan UU.
Misalnya, RUU TNI, RUU Intelijen, hingga RUU Terorisme.
Jadi, pasti pembunuhan ini bukan kasus pribadi. Andai begitu,
pembunuhan Munir ini adalah yang kesekian kalinya,"
lanjut Rachland yang bersama-sama Munir dan tokoh lain mendirikan
Imparsial itu.
Karena itu, Rachland menyebut otopsi atas tubuh Munir -yang
menunjukkan Munir tewas diracun arsenik- adalah a blessing
in disguise (berkah di balik musibah). "Sehingga kita
tahu pembunuh Munir adalah orang hebat. Orang yang punya
akses cukup," tandas Rachland.
Selain Rachland, turut hadir dalam jumpa pers itu peneliti
Kontras Mufti Makarim Al-Akhlaq dan Ketua Badan Pengurus
PBHI Hendardi. "Jika sampai kasus Munir tidak terbongkar,
ini adalah skandal politik yang paling besar," tandas
Hendardi.
Anjurkan Lewat Keppres
Karena itulah, mereka meminta kesediaan dan perhatian
SBY untuk langsung membentuk tim investigasi berdasarkan
keputusan presiden (keppres). Tim itu nanti akan bertanggung
jawab kepada presiden dan beranggotakan polisi, ketua Komnas
HAM, politikus DPR, serta kalangan LSM.
Tim tersebut dapat dipimpin seorang pejabat tinggi hukum
yang ditunjuk presiden dan seorang tokoh masyarakat yang
dipilih atas dasar kepercayaan keluarga Munir serta organisasi
yang didirikan almarhum.
"Tim ini mempunyai mandat untuk mendampingi dan membantu
polisi. Mulai mengusut, mengungkap, menemukan, dan membawa
pelaku ke muka pengadilan," lanjut Rachland. Itu bukan
disebabkan mereka tidak percaya terhadap kemampuan polisi,
tapi karena besarnya masalah yang harus dihadapi polisi.
Rachland juga mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat
permohonan untuk beraudiensi dengan presiden. Mereka mendapat
janji bertemu 24 November nanti sepulang SBY dari KTT APEC
di Chile.
Pembentukan tim semacam itu, menurut Mufti, sudah pernah
dilakukan negara lain, yakni Chile dan Argentina (dalam
kasus Perang Kotor). "Kita juga bisa mengikuti jejak
mereka," tambahnya.
LBH Yogyakarta
Sementara itu, LBH Yogyakarta meminta Mabes Polri
mengusut tuntas kasus kematian pejuang HAM, Munir SH.
"Kasus itu merupakan bentuk pembungkaman kejam dan
tidak manusiawi terhadap perjuangan HAM di Indonesia,"
ujar Kepala Divisi Sipil dan Politik (Sipol) LBH Yogyakarta,
A Budi Hartono SH.
Karena itu, kata dia, Mabes Polri harus cepat menyelidiki
agar kasus itu segera terungkap. Jika tidak, dikhawatirkan
akan menjadi preseden buruk dalam perjuangan penegakan HAM
di Indonesia.
Mabes Polri diharapkan tidak hanya terpaku pada hasil autopsi
negara Belanda. Menurut Budi Hartono, seharusnya Mabes Polri
tidak perlu memperdebatkan masalah itu dengan rencana mengautopsi
ulang jenazah Munir.
Sebaliknya, dengan hasil autopsi dari penyidik Belanda itu
Mabes Polri segera bertindak melakukan penyelidikan dan
penyidikan.
Dalam hal ini Mabes Polri sudah bisa mulai dengan menginvestigasi
semua penumpang pesawat yang bersama Munir, termasuk orang-orang
sebelum pesawat /take off/ dari Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta)
atau dari Bandara Changi, Singapura.
Pada sisi lain, menurut Budi Hartono, Polri hendaknya menjauhkan
niat membelokkan penyebab tewasnya Munir dengan masalah
lain. "Jangan sampai ada rekayasa lain," ujar
Budi Hartono sambil mengkilas balik kasus tewasnya wartawan
Bernas, Fuad M Syafruddin.
Dalam menangani kasus tewasnya wartawan yang akrab dipanggil
Udin, penyidik Polri merekayasa dengan adanya perselingkuhan.
Sebab, lanjut dia, kasus tewasnya Munir tidak akan menyurutkan
perjuangan aktivis perjuangan HAM di Indonesia.
Garuda Serahkan Data Kasus Munir
Saat di Atas India Dipertimbangkan Mendarat Darurat
Sebelum meletup kabar bahwa Munir diracun, kawan almarhum
ternyata sudah mengumpulkan fakta. Mereka sangat curiga
atas kematian mendadak tokoh HAM itu di atas pesawat Garuda
Jakarta-Amsterdam. Kawan-kawan Munir tersebut juga sudah
melakukan serangkaian pertemuan dengan pihak Garuda Indonesia.
"Kami memang sejak awal berupaya mendapatkan cerita
seutuhnya atas kejadian ini. Karena itu, kami menghubungi
Garuda. Dan, mereka cukup kooperatif," kata Poengky
Indarti, aktivis Imparsial, kepada koran ini kemarin. Imparsial
merupakan LSM terakhir tempat Munir mengabdi.
Setidaknya, sudah tiga kali mereka melakukan pertemuan.
Bahkan, pertemuan pertama langsung dilakukan dengan Dirut
Garuda Indra Setiawan. Mereka juga bertemu pilot Pantun
Matondang serta para pramugari Garuda yang saat itu membawa
Munir.
Munir meninggal mendadak pada 7 September lalu ketika sedang
dalam penerbangan Garuda GA-974 tujuan Amsterdam. Dia menuju
Amsterdam untuk
mendalami ilmu hukum di Universitas Utrecht, Belanda.
Tokoh yang juga dikenal sebagai pendiri Komisi untuk Orang
Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) tersebut terbang
dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 21.55 pada 6 September.
Lalu, penerbangan transit sesaat di Changi, Singapura, dan
pukul 01.50 pesawat kembali take-off menuju Amsterdam. Setelah
tiga jam di udara, menurut keterangan yang didapat kawan-kawan
almarhum, Munir yang duduk di kursi 40 G terlihat bolak-balik
ke toilet. Wajahnya saat itu terlihat pucat. Pada saat-saat
kritis, pejuang HAM tersebut sempat dibantu awak kabin.
Bahkan, seorang dokter, Tarmizi Hakim, yang duduk di kursi
1J menolongnya. Setelah Munir diberi obat, tempat duduknya
dipindahkan ke sebelah dokter tersebut agar mudah diawasi.
Sebelum pertemuan dengan Garuda, Poengky dkk penasaran karena
Garuda tidak melakukan pendaratan darurat saat ada pasiennya
yang gawat darurat. Padahal, hal itu bisa dilakukan.
Poengky pun mendapatkan penjelasan dari Garuda. "Sebab,
saat itu ada Dokter Tarmizi Hakim. Waktu itu, Dokter Tarmizi
memperkirakan bahwa Cak Munir hanya mengalami muntaber biasa,
sehingga diperkirakan akan nutut (bertahan) sampai di Amsterdam,"
ungkap Poengky yang menjadi rekan Munir sejak di LBH Surabaya
itu.
Pilot, kata Poengky, mendengarkan saran dokter tersebut.
Pada saat itu, pesawat sedang berada di sekitar angkasa
Madras, India. Hanya, masih kata Poengky, dr Tarmizi berpesan
pada pilot supaya menghubungi Belanda untuk menyiapkan ambulans
dan dokter. "Hal itu telah dilakukan," lanjutnya.
Waktu itu, tak ada yang mengira bahwa Munir sedang berjuang
melawan racun arsenik (As) maut yang sedang melaju di aliran
darahnya. Munir sendiri hanya mengira dirinya terserang
maag, sebagaimana SMS terakhir yang dikirimnya ke Suciwati
ketika dia masih di Bandara Changi.
Setelah mendarat transit di Bandara Changi pukul 00.40,
Munir memang mengirim SMS kepada Suciwati yang mengatakan
dirinya sedang bengong dan perutnya tidak enak. Munir menduga
maag-nya kambuh.
Poengky dkk belum tahu penumpang yang ada di kanan dan kiri
Munir. Pasalnya, passenger list juga belum mereka terima.
Seperti istri Munir, kawan-kawannya juga menduga dia diracun
di atas pesawat Jakarta-Singapura.
Garuda Siap Bantu
Direktur Operasi PT Garuda Indonesia Rudy A. Hardono
yang dihubungi terpisah menjelaskan, pihaknya sudah mendapatkan
laporan mengenai penyebab kematian Munir yang dilansir Netherlands
Forensic Institute (NFI) itu. Bahkan lebih lanjut, Mabes
Polri, kata Rudy, juga telah meminta keterangan pihak Garuda.
"Kami sudah memberikan keterangan kepda Mabes Polri,
termasuk memberikan data-data pendukung yang dibutuhkan
Mabes Polri," tutur Rudy kepada koran ini kemarin.
Data-data yang dimaksud termasuk mengenai passenger list
(daftar penumpang) Garuda Indonesia GA-974 yang ditumpangi
almarhum Munir. "Data-data itu sudah kami serahkan
kepada Mabes Polri setelah kami mendapat informasi mengenai
masalah itu," urainya.
Rudy menegaskan, pihaknya juga tidak mengetahui penyebab
kematian Munir secara detail. "Mengenai itu, kita serahkan
kepada pihak berwajib. Yang pasti, kami telah melakukan
prosedur baku dalam penanganan penumpang yang mengalami
sakit saat di atas pesawat. Termasuk penumpang yang dead
on board (meninggal di atas pesawat)," paparnya.
Dalam menangani penumpang yang mengalamai sakit di atas
pesawat, lanjut Rudy, Garuda melakukan prosedur sesuai dengan
ketentuan penerbangan sipil internasional. "Jadi, mengenai
penyelidikan penyebab kematian Pak Munir itu kewenangan
pihak kepolisian. Namun, kami tetap akan membantu memberikan
keterangan dan data-data yang dibutuhkan," tegas Rudy.
Hingga kini, belum ada satu pun kru Garuda yang diperiksa
terkait kasus tersebut. M (sumber: Jawapos/Tempo/Kompas/
Pembaruan/Radio Netherland/IM)
|