EEP S.FATAH, PPI-PPI, KBRI Den Haag dan "100 Hari" Kabinet SBY-KALLA
DISKUSI YG MENCERMINKAN FIKIRAN KRITIS KAUM MUDA:
IBRAHIM ISA dari BIJLMER

Meskipun formalnya sudah lama tidak lagi menjadi pelajar, namun, dalam hatiku merasa beruntung diundang dan bisa hadir pada malam diskusi masyakarat pelajar Indonesia di Belanda dan sekitar, yang berlangsung pada malam 2 November 2004, di Wisma Nusantara KBRI Den Haag.

Bisakah dikatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Belanda, yang hadir di Wisma Nusantara malam itu, --- sekitar limapuluhan jumlahnya, --- sedikit banyak mencerminkan keadaan semangat dan mental, yang berkepedulian terhadap segala sesuatu yang terjadi di Indonesia, memanifestasikan fikiran dan sikap kritis para kaum muda kita di Indonesia? Memang itu yang selalu menjadi harapan dan keyakinan kita. Kalau betul begitu, maka dengan lega bisa dipastikan bahwa kita tidak perlu merasa khawatir bahwa, kaum muda kita tidak punya potensi menjadi harapan haridepan bangsa ini.

Tema yang menjadi titik berat pendiskusian jelas bukan situasi t.a. secara umum, tetapi suatu tema yang menjadi sorotan pada hari-hari sesudah terbentuknya kabinet SBY - J.Kalla, yaitu;

"SERATUS HARI PEMERINTAHAN BARU, adalah tema yang dibawakan oleh Eep Saefulloh Fatah, Dosen Peneliti di Jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia, Depok. Eep juga Mahasiswa Program PHD di The Ohio State University, Columbus, USA. Bondan Winarno dalam artikelnya hari ini di Suara Pembaruan Daily, memberi judul situasi ini sebagai suatu "GEBRAKAN 100 HARI".

Heri Latief, penyair muda dari Mailis Sastra Pembebasan, ikut menyemarakkan dan menghangatkan malam diskusi dengan sajaknya yang penuh makna, berjudul ANAK JALANAN.

Patut dikemukakan di sini --- s a t u kenyataan penting, bahwa para pelajar Indonesia yang hadir di Wisma Nusantara malam itu, menunjukkan kepedulian dan perhatian besar mereka pada arti penting diskusi yang menyangkut nasib bangsa. Jauh-jauh mereka memerlukan datang dari pelbagai kota Belanda tempat mereka belajar, seperti Maastricht, Groningen, Leiden, Wageningen, Rotterdam, Amsterdam, dll untuk bisa mendengar dan ambil bagian dalam diskusi soal penting yang dihadapai bangsa kita dewasa ini.

Diskusi di KBRI-Den Haag itu diselenggarakan bersama oleh PPI Maastricht, PPI Groningen, PPI Leiden, PPI Wageningen, PPI Rotterdam, PPI Belanda dan Milis Sastra Pembebasan. Menggembirakan bahwa KBRI Den Haag aktif ambil bagian, dengan a.l. menyediakan tempat (juga sekadar makanan untuk buka puasa. Tapi ini belum dicek apa betul makanan itu sumbangan KBRI)dan tempat diskusi di Wisma Nusantara.

Pada tempatnya diberikan penghargaan pada KBRI Den Haag, khususnya pada Pak Dubes Mohamad Joesoef yang tampak hadir selain Atase Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir. Suatu perhatian yang tak berkelebihan kiranya. Mudah-mudahan hal ini menjadi kebiasaan yang reguler, dan bisa menular ke pelbagai KBRI lainnya di mancanegara. Bukankah KBRI itu, selain mewakili NEGARA, juga menjadi penyalur dan semoga juga pendorong bagi fikiran kritis dan pencerahan bangsa kita, yang selama Orba, menurut Joesoef Isak, pemenang Jeri Leber/PEN Award - telah terjangkit "kerincuan berfikir".

Makalah Eep Saefulloh Fatah yang berjudul "SERATUS HARI PEMERINTAHAN BARU: MAKNA, ARTI PENTING DAN AGENDA KERJA", menyoroti fase-fase pembentukan pemerintah SBY, sebagai hasil dari pemilihan langsung, yang dibahas secara rinci.

Dalam ulasannya hari ini di Suara Pembaharuan Daily, Bondan Winarno, mengemukakan bahwa, sebuah kabinet atau rezim pemerintahan mestinya dinilai kinerjanya setelah menjalankan programnya secara penuh selama lima tahun. Tetapi, analog dengan "masa percobaan" yang diterapkan pada setiap awal masa kerja seseorang pada sebuah posisi baru, jamak adanya tenggang waktu tiga bulan atau 90 hari untuk saling mengukur kesesuaian kedua belah pihak. Bila dalam masa percobaan itu harapan masing-masing pihak terpenuhi, maka employment dapat dikukuhkan.

Memang, --- adalah tidak mungkin menilai apakah pemerintah ini sesuai dengan janji-janji dan harapan pemilih, tentang pembaruan dan perbaikan, dalam jangka waktu 100 hari. Namun, dalam seratus hari itu semestinya SBY sudah bisa "menggenapkan proses pembentukan kekuasaan", "menegaskan komitmen pemerintahan" dan "mengirim sinyal-sinyal yang jelas". Itulah, menurut Eep, tiga makna utama. Eep menandaskan bahwa, adalah keliru membayangkan bahwa berdasarkan evaluasi selama seratus hari itu kita bisa memutuskan apakah pemerintahan baru harus dijatuhkan atau dibiarkan terus bekerja.

Eep mencanangkan bahwa memerintah juga merupakan bisnis kepercayaan. Membangun kepercayaan internasional (terutama investor asing) sering harus mengabaikan kebijakan populis. Sebaliknya menumbuhkan kepercayaan dan dukungan masyrakat domestik - sering mencederai kepercayaan masyarakat internasional. Memang tak mudah. Jika ingin mudah, ja jangan menjadi pemerinah, kata Eep engakhiri uraiannya (yang teks lengkapnya kalau tidak salah, bisa didapat dari Yanti/ Heri Latief (bagi yang berminat).
Eep, mencanangkan: Para pembantu Presiden yang tak pernah melaporkan kabar buruk kepada Presiden adalah orang-orang berbahaya bagi keselematan negara. Tapi yang lebih berbahaya adalah Presiden yang juga menyembunyikan kabar buruk pada rakyatnya. Yang paling berbahaya adalah Presiden yang terlalu jarang "berkirim kabar" pada rakyatnya.

Diskusi yang berlangsung hangat tapi bersahabat, memaparkan dan mengungkapkan bahwa baik tentang janji hendak membentuk pemerintah yang intinya terdiri dari orang-orang yang profesional maupun mengenai legitimitas dalam arti memenuhi norma keperwakilan para menteri di lihat dari dukungan parpol dan masyarakat, --- masih tampak ada jarak yang cukup besar. Dikemukakan bahwa adalah keliru bila menggantungkan harapan yang diragukan bisa dilaksanakan oleh pemerintah SBY melihat kompoisinya dewasa ini.

Seorang sahabat yang duduk disebelahku, menyatakan : Bagaimana SBY mau menangani korupsi, karena wakilnya sendiri, J.Kala, adalah salah satu dari "tiga garong", maling besar yang telah memanipulasi dan mencuri kekayaan negara.
Sehubungan dengan ini baik sekali lagi disimak tulisan Bondan Winarno berjudul "Gebrakan 100 Hari" di Suara Pembaharuan Daily, sbb: Belum lagi berumur dua minggu, beberapa menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu sudah menunjukkan mutunya yang "memenuhi syarat untuk dipecat". Misalnya, apakah kita terlalu bodoh untuk mempercayai alasan naif yang dikemukakan seorang menteri yang ketiduran di siang hari bolong?

Bagaimana pula dengan catatan solid beberapa menteri yang terbukti pernah melakukan tindak pidana atau tindak korupsi? Mengapa Presiden SBY tidak memakai "kesempatan" itu sebagai bagian dari "Gebrakan 100 Hari" dan mengganti menteri yang cedera itu? Mengapa harus dipertahankan? Tidak berlakukah "masa percobaan" bagi mereka? Demikian Bondan Winarno.
Dalam diskusi disoroti gejala baha SBY telah mengangkat masalah penanganan KKN sebagai salah satu acara penting kabinet, untuk mana, katanya, ia akan melakukan suatu "shock teraphy". Para peserta diskusi, termasuk Eep, menyatakan bila memang benar-benar hendak memberlakukan "shock teraphy" mengenai penanganan KKN, yang hendak diajukan ke tengah masyarakat, maka kirimkanlah sebuah tim investagasi dari Kejaksaan Agung, untuk mulai "bicara" (lagi) dengan Suharto. Jangan seperti selama ini, pemerintah dan masyarakat dipermainkan oleh tim kesehatan Suharto termasuk oleh sementara pejabat pemerintah, dengan isu "kesehatan Suharto", sebagai dalih untuk membebaskannya dari segala proses hukum.

Bicara mengenai sinyal-sinyal yang harus dilontarkan oleh SBY selama 100 hari ini, dalam kesempatan bicara Aku mengemukakan, bahwa masih segar dalam ingatan, bahwa selama kampanyenya, SBY bicara dan berjanji mengenai Reformasi dan Rekonsiliasi. Patutlah selalu disadari, bahwa jatuhnya Presiden Suharto dan munculnya situasi demokratisasi dalam kehidupan politik Indonesia, semua itu adalah produk dari gerakan Reformasi dan Demorkatisasi yang menggelora pada tahun 1998 dst. Tapi sejak itu gerakan Reformasi dikonstatasi "berjalan di tempat" bahkan dikhawatirkan akan kembali ke suasana dan kultur politik Orde Baru.

Maka, bisa dimengerti adanya sementara harapan bahwa SBY yang dipilih langsung oleh rakyat itu, memberikan perhatian yang secukupnya terhadap usaha Reformasi. Juga dinantikan SBY akan menunjukkan kepeduliannya dalam tindakan-tindakan nyata bahwa ia betul-betul bermaksud untuk memulai usaha Rekonsiliasi Nasional yang didasarkan atas Kebenaran, atas pelurusan fakta-fakta sejarah yang dibengkak-bengkokkan oleh Orba. Sudah waktunya pemerintah mengambil tindakan ke arah reformasi di bidang hukum dan undang-undang khususnya yang menyangkut hak-hak warganegara dalam kehidupan politik.

Demikian pula halnya dengan Rekonsliasi. Tidaklah mungkin melakukan rekonsiliasi tanpa melakukan rahabilitasi terhadap jutaan warganegara yang samasekali tak melakukan kesalahan apapun, yang telah dirampas hak-hak kewarganegaraannya, mengalami represi dan didiskriminsi sejak peristiwa 65. Rekonsiliasi yang didasarkan atas kebenaran adalah rekonsiliasi yang didahului oleh tindakan pemerintah merehabilitasi hak-hak politik dan kewargenegaraan para wargangegara yang selama puluhan tahun ini oleh Orba telah diperlakukan tidak adil.

Penulis mengingatkan tentang tersiarnya suatu berita dalam internet baru-baru ini, yang mengungkapkan bahwa karena telah demikian banyak orang tak bersalah telah dibantai pada tahun-tahun 1965-66-67, ---salah serang jendral yang amat terlibat, yaitu Jendral Sarwo Edhi, mertua dari SBY, sebelum ia meninggal dunia, menyatakan penyesalannya karena telah begitu banyaknya korban yang jatuh, pada permulaan berdirinya Orba. Dan bahwa hal itu harus ditindak lanjuti dengan suatu usaha pengkoreksian. Diberitakan bahwa Sarwo Edhi semacam memberikan amanah kepada menantunya, agar mengurus masalah (pembantaian 65)tsb. Lagi menurut berita itu, SBY dikatakan memahami apa yang diamanahkan itu. Mudah-mudahan saja.

Tetapi, seorang sahabat baik saya, ketika mendengar berita itu, berkomentar: Itu ilusi! Eep mengatakan, kalau betul itu amanah Sarwo Edhi kepada menantunya yang sekarang ini menjabat Presiden RI, maka amanah itu harus dilaksanakannya.

Lagipula, kata Eep, kalau betul-betul SBY hendak melakukan suatu "shock teraphy" maka sekarang inilah saatnya melakukan Rehabilitasi dan Rekonsiliasi Nasional sebagai suatu "shock teraphy".

Akhirullah kalam, kesanku tentang diskusi malam itu mengenai "100 HARI PEMERINTAHAN SBY", suasana umum, adalah, sbb: JANGAN TERLALU BERHARAP PADA PEMERINTAHAN BARU INI. Nanti kecewa lagi! M (II/IM)

     

 


FastCounter by bCentral