|
|
|
MENGENANG
PELABUHAN SUNDA KALAPA
RM
Danardono HADINOTO
 |
Dari atas Menara Syahbandar
(the Lookout Tower) kalau kita melihat kesebrang jembatan
diatas Kali Besar, akan kita lihat pemandangan saebuah area
tertua dari Jakarta. Sebuah pelabuhan nelayan yang indah
penuh perahu-perahu yang berwarna warni. beberapa meter
dari tempat ini kita lihat sebuah jembatan yang dapat ditarik
( drawbridge) , sebuah peninggalan masa Dutch East-India
Company. Jembatan ini dinamakan Hoender pasarbrug alias
Chicken Market Bridge.
Dimasa lalu, antara abad ke XVII dan awal abad ke XVIII
kapal-kapal masih dapat melayari muara sungai Ciliwung.
Diseberang jembatan ini terhamnpar sebuah pelabuhan dan
kota Sunda Kalapa, yang terletak dikedua tepi dari sungai
Ciliwung antara abad XII sampai XV.
Seperti kita masih ingat, Sunda Kalapa adalah bandar utama
kerajaan Pakuan Pajajaran, yang terletak didekat Bogor.
Bandar ini dikunjungi oleh kapal2 dari Palembang, Tanjungpura,
Malakka, Makassar serta pedagang-pedagang dari India dan
Tiongkok. dari bandar ini merica, beras dan emas diexport.
Sejak abad ke-13 ada sebuah kerajaan yang disebut Sunda-Padjadjaran
dengan ibu kota Bogor, terletak antara Sungai Ciliwung,
Cipakancilan, dan Sungai Cisadane. Kerajaan Cunda Calapa
adalah kombinasi Galuh dan Pakuan, kemudian disebut Kerajaan
Sunda Padjadjaran.
Berdasarkan Prasasti Batu Tulis di Bogor, tulisan-tulisan
dari kebantenan dan berbagai dokumen, seperti Carita Parahyangan,
Siksakandang Karasian, Purwaka Caruban Nagari, dan sejumlah
dokumen dari Tom Pires (Portugis), menyebutkan, Kerajaan
Cunda Calapa telah memiliki pengaruh sangat besar di seluruh
daerah Jawa Barat. Salah seorang raja terkenal yang ditulis
dalam Prasasti Batu Tulis adalah Sri Baduga Maharadja (1490-1521).
Orang Portugis,Tom Pires yang mendarat di Sunda Kelapa (1512-1515)
antara lain mengatakan, Kerajaan Sunda memiliki beberapa
pelabuhan penting, yakni Banten, Pontang, Ciguede, Tangerang,
Calapa, dan Cimanu (Indramayu), dan Cherimon. Pires menyebutkan,
Calapa adalah satu pelabuhan paling besar dan strategis
bagi daerah-daerah sekitarnya karena menjadi penyangga sejumlah
pelabuhan di Nusantara seperti Sumatera, Palembang, Laue,
Tanjungpura, Malaca, Makassar, Java, dan Madura.
Pada 1513 armada Europa pertama muncul di cakrawala, empat
kapal Portugis dibawah komando Alvin, merapat di dermaga
Sunda Kalapa, tiba dari Malakka.
Dua tahun sebelumnya, 1511, Mallaca direbut oleh Portuguis
dibawah Alfonso d' Albuquerque. Mereka mencari rempah-rempah,
terutama merica. beberapa tahun kemudian Erique Leme mengunjungia
Sunda kalapa membawa hadiah bagi raja Pasundan. Dia diterima
dengan ramah pada August 21, 1522 dimana sebuah perjanjian
persahabatan antara Pasundan dan Portugal ditandatangani.
Orang-orang Portugis diberi hak membangun gudang-gudang
dan sebuah benteng. Orang-orang Pasundan memandang ini sebagai
penguatan posisi mereka menghadapi pasukan-pasukan Islam
dari kerajaan Demak di Jawa Tengah. Untuk mennenag kejadian
penting ini, didirikan sebuah prasasti batu, yang dinamakan,
Padrao.
Selain Prasasti Pradrao tentang perjanjian kerja sama Kerajaan
Hindu Padjadjaran dengan Portugis, jejak sejarah Bandar
Empat Zaman Sunda Kelapa pada era Hindu antara lain terlihat
dari pada Situs Lodji Wijarka (kini disebut Tugu Pantura),
situs Lodji Inggris, dan situs Benteng Fort Lacatra. Pada
era kolonial antara lain terlihat pada lokasi pendaratan
JP Coen, Bastion Robijn, memorial pembantaian China, galangan
kapal VOC, gudang jangkar VOC, gudang jagung VOC dan situs
kastil Batavia, gerbang Kastil Stone Portico, penjara Ni
Hoe Kong dan Adrian Volkenier.
Padrao ini kini dapat dilihat di Museum National di jalan
Medan Merdeka Barat. Letak asal batu ini menguatkan dugaan
bahwa garis pantai pada abad XVI merupakan garis lurus dengantempat
yang kini ditandai oleh jalan Nelayan, 400an meter dari
menara.
Raja Pasundan merasakan ancaman dari kerajaan Demak, yang
juga bersiap untuk menyerang bandar laut kedua, yakni Banten.
karena dalam posisi kejepit, raja Pasundan sangat mengharapkan
kedatangan armada Portugis segera untuk melindungi pelabuhan
Banten. Mereka tiba terlalu lambat, 1527 fatahillah mendarat
di banten dengan 1.452 perajurit dari Demak dan Chirebon.
Menurut beberapa akhli sejarah, Fatahillah mengubah nama
Sunda kalapa, menjadi Jaya karta, berarti Kota kemenangan
(Jakarta merayakan ultah pada Juni 1527).
Pangeran Jayawikarta, pengikut dari Sultan Banten, yang
bertakhta di tepian barat sungai Ciliwung, yang pada awal
abad keXVII mengalir sampai ke tempat kita berdiri, the
Lookout di Pasar Ikan.
Ia mendirikan sebuah post militer untuk mengawasi muara
sungai dan orang orang Belanda, yang dia izinkan untuk membangun
gudang dari kayu ditahun 1610, serta perumahan diseberangnya
tepian timur. Kapal kapal Belanda telah merapat didermaga
Jayakarta ditahun 1596.
Untuk mengimbangi kekuatan Belanda, pangeran Jayawikarta
mengizinkan Inggris membangun komplex ditepian barat sungai
Ciliwung, diseberang gudang gudang Belanda. Pada 1615 sang
pangeran memberikan izin pada orang orang Inggris untuk
mendirikan benteng didekat kantor pabean. Perlindungan Inggris
ini penting sekali, sebab istana pangeran berada dalam jarak
trembak meriam meriam Belanda.
Dibulan Desember 1618, hubungan pangeran dengan Belanda
demikian tegang, sehingga perajurit pangeran mengepung perbentengan
Belanda, dan melingkari dua gudang utama, yakni,Nassau dan
Mauritus.
Kapal kapal Inggris tiba dibawah komando Sir Thomas Dale,
mantan gubernur dari Colony of Virginia, yang kini kita
kenal sebagai negara bagian Virginia State di AS.
Celakanya, admiral Inggris ini sudah mulai pikun dan agak
lanjut usia, dan ragu ragu dalam putusannya. Setelah pertempuran
laut ini berlalu, gubernur Belanda yang baru saja diangkat,
Jan Pieterzoon Coen (1618) melarikan diri ke Maluku, mencari
balabantuan. Sementara itu komandan kesatuan Belanda ditangkap.
pangeran Jayawikarta dan Inggris menandatangani perjanjian
persahabatan.
Nah, lucunya, ketika pasukan Belanda menyerah pada Inggris
ditahun 1619, pasukan sultan Banten datang ke Jayakarta
untuk menangkap pangeran Jayawikarta, karena dituduh memperdalam
hubungan dengan Inggris tanpa izin pimpinan kerajaan di
Banten. Perselisihan ini memperkuat posisi Belanda. Pangeran
Jayawikarta dibawa ke tanara dan meninggal di Banten.
Belanda memperkuat posisinya kembali dan memeperdalam hubungan
dengan sultan Banten. Garnisun pertahanan Belanda diperkuat
dengan perajurit perajurit dari Jepang, Skotland, Deenmark,
Jerman dan Belgia. Mereka namakan benteng mereka BATAVIA
untuk memperingati republik Batavia.
Sejak hari itu, Jayakarta dinamakan Batavia, untuk 300 tahun...
Dibawah pimpinan gubernur JP Coen, pasukan Belanda menyerang
istana Jayakarta habis habisan pada on May 30, 1619. tak
ada lagi sisa dari jayakarta, selain batu Padrao yang kini
disimpan di National Museum di Jakarta. Makam pangeran Jayakarta
mungkin terletak di Pulau Gadung.
Sayang, kini kita tak dapat menikmati pemandangan the city
Sunda Kelapa or Jayakarta. Juga Kasteel atau benten benteng
Belanda terlanjur hancur lebur
Menara Syahbandar dibangun ditahunt 1839 menggantikan menara
bendera di galangan kapal disebelah kanan tepian sungai.
Disebelah barat dari Lookout Tower, kita lihat Museum Bahari,
yang meninggalkan kesan dari arsitektur Belanda.
Museum ini sisa dari Westzijdsche Pakhuizen (Warehouse disisi
barat sungai). Disinilah rempah rempah yang akan diangkut
disimpan.
Area sekitar Menara Syahbandar dahulu adalah pusat dari
Kota Batavia.Ini merupakan pusat dari jaringan niaga yang
mencapai Deshima (Nagasaki) di Japan, Surate di Persia dan
Capetown di South Africa.
Para sejarawan menulis: "Here, the site where the origin
of the capital of Indonesia, Jakarta, came from...."
Berawal dari Cunda Calapa, Jayakarta, Batavia, terakhir
sebutannya menjadi Jakarta. Tak heran kalau Sunda Kelapa
sering disebut Bandar Empat Zaman. Dalam rentang waktu perubahan
nama-nama tersebut, terjadi banyak peristiwa dengan nilai
sejarah berbeda-beda. Peristiwa, kejadian, dan obyek peninggalan
Cunda Calapa itu memiliki nilai ekonomi, pariwisata, sosial
budaya, dan perdagangan.
Pembangunan Sunda Kelapa membangkitkan kembali jati diri
Jakarta dari masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.
Sebagai ibu kota negara, Jakarta semestinya memiliki keunikan
khas yang diwariskan sejarah, yang membedakan kota-kota
besar lain di Indonesia sehingga tidak sekadar memuat bangunan-bangunan
dan gedung-gedung tinggi.
Kebesaran Cunda Calapa pun makin tak berbekas. Lenyap dibawa
perilaku egoisme setiap instansi pemerintah. Sejumlah bangunan
tua dan benda-benda peninggalan masa Kerajaan Sunda-Padjadjaran
hilang satu demi satu.
Bahkan sejumlah bangunan tua yang memiliki nilai sejarah
penting sudah hancur. Padahal, bangunan-bangunan itu dapat
dijadikan obyek wisata yang dapat mendatangkan devisa bagi
negara.
Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini hanya tinggal pelabuhan
kayu. Fungsi Sunda Kelapa sebagai bandar rempah-rempah dan
hasil bumi dari seluruh Nusantara tidak ditingkatkan peran
dan fungsinya.
Sayang sekali.
|