|
|
|
Marzuki
Wahid, MA:
Puasa adalah Antiklimaks Tindak Kekerasan
Ketika melewati hari-hari puasa Ramadan, kita seakan-akan
sedang melakukan proses pendakian spiritual. Sesuai sabda
Nabi Muhammad, pada sepuluh hari pertama, kita dianjurkan
menebar rahmat antarsesama manusia. Sepuluh hari kedua mengandaikan
kelapangan dada untuk mampu memberi maaf pada sesama, bila
terjadi kekeliruan dan konflik dalam relasi-relasi sosial.
Dengan kesuksesan dalam menapaki dua tahapan itu, kita diandaikan
akan mampu membebaskan diri dan hubungan sosial antarkita
dari api kemarahan, permusuhan, kebencian, dan bunga api
lainnya.
Ketika melewati hari-hari puasa Ramadan, kita seakan-akan
sedang melakukan proses pendakian spiritual. Sesuai sabda
Nabi Muhammad, pada sepuluh hari pertama, kita dianjurkan
menebar rahmat antarsesama manusia. Sepuluh hari kedua mengandaikan
kelapangan dada untuk mampu memberi maaf pada sesama, bila
terjadi kekeliruan dan konflik dalam relasi-relasi sosial.
Dengan kesuksesan dalam menapaki dua tahapan itu, kita diandaikan
akan mampu membebaskan diri dan hubungan sosial antarkita
dari api kemarahan, permusuhan, kebencian, dan bunga api
lainnya. Demikian intisari perbincangan Novriantoni dari
Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Marzuki Wahid, MA, aktivis
Fahmina Institute, sebuah LSM yang bergerak dalam kajian
agama dan kesetaraaan gender di Cirebon, pada Kamis (14/10/2004).
Dibawah ini adalah cuplikan Tanya jawab antara JIL dengan
Marzuki Wahid;
NOVRIANTONI: Ada hadis yang secara simbolik mengatakan bahwa
pada bulan puasa, setan-setan dibelenggu, pintu surga dibuka,
pintu neraka ditutup. Hadis ini kadang diterjemahkan gerakan-gerakan
tertentu untuk membelenggu setan-setan yang
kelihatan. Makanya, mereka coba menutup kafe, tempat hiburan,
dan lainnya. Bisakah tafsiran ini ditoleransi?
Saya kira ada kekeliruan dalam memahami hadis itu. Kalau
setan sudah dibelenggu Tuhan, kenapa harus menyerang kafe-kafe
dan tempat maksiat lain yang sebetulnya sudah dibelenggu?
Artinya, setan sudah dibelenggu Tuhan, maka yang lain bukanlah
setan lagi. Jadi itu logika yang bertabrakan satu sama lain.
Dalam tradisi pesantren, hadis ini mungkin masuk kategori
hadis targhîb (hadis yang memotivasi berbuat kebaikan).
Sebetulnya, ketika orang takut dengan tantangan-tantangan
dan godaan-godaan, dia termasuk kerdil alias tidak percaya
diri. Kalau orang sudah merasa dirinya mampu dan bisa menahan
diri, maka tantangan apapun tidak menjadi masalah. Bahkan
sesungguhnya, puasa akan bermakna secara spiritual ketika
dia berada di tengah kerumunan tantangan-tantangan itu.
NOVRIANTONI: Seakan di situ ada pengandaian bahwa kita tidak
mesti menghilangkan semua tantangan keberagamaan?
Saya kira, tantangan adalah teman tanding untuk selalu mengevalusi
dan melakukan refleksi diri yang terus menerus. Karena itu,
dalam konteks kemaksiatan tadi, cara menyikapinya bukan
dengan cara diserbu, dihilangkan hak usaha mereka, diluluhlantakkan
dengan cara kekerasan. Kita harus selalu mewujudkan cara
yang damai dan toleran. Yang perlu kita pikirkan, bagaimana
mempengaruhi, mentransformasi kehidupan mereka menjadi lebih
baik, dan bermashlahat, tanpa melakukan tindak kekerasan.
Jadi puasa sesungguhnya antiklimaks dalam tindak kekerasan.
Kalau dalam bulan puasa masih melakukan tindak kekerasan,
menurut saya puasanya bisa jadi tidak lagi berarti apa-apa.
NOVRIANTONI: Kalau begitu umat Islam juga perlu bertenggang
rasa dengan umat lain ketika menghidupkan syiar-syiar puasa,
ya?
Banyak orang menganggap bahwa syiar Islam itu selalu
harus mentereng, ramai, dan semarak dengan aroma religius.
Sementara itu, mereka tak jarang mengabaikan suasana dan
kenyamanan orang lain. Dalam hukum fikih, mengganggu maslahat
orang lain seperti itu jelas-jelas tidak dibenarkan.
|