Balada si Qodir (2)

Demi mendengar si Qodir datang lagi ke Amerika, Jumadi dan Pepen segera meluncur ke apartemen Mat Kelor.

"Gilé lu Dir, angin apa yang bawa lu kemari ?" tanya Pepen sambil menyalami si Qodir.

"Orang masih waras kok dibilang gila, toh Mas !" protes si Qodir. "Yang bawa saya ya pesawat terbang, bukan angin. Kalau angin sampainya di Florida, bukan di California. "

"Biar jauh-jauh di Bantul, tahu juga nih anak soal musibah di Florida, " celetuk Jumadi sambil geleng-geleng kepala. "Ngomong-ngomong gimana khabar Indonesia dengan presiden barunya ?" tanya Jumadi kepingin tahu khabar dari tanah air.

"Presiden baru siapa toh Mas ? Presiden Indonesia kan Pak Harto !" jawab Qodir mantap.

"Ya rasul, Dir..Dir.. Udah 4 presiden, Habibie, Gus Dur, Mbak Mega dan Pak Susilo, lu masih Pak Harto ajé !" samber Pepen.

"Lha mereka-mereka itu kan cuma penggantinya, " sahut Qodir sambil terkekeh-kekeh membuat Pepen dan Jumadi kepingin ngejitak rasanya.

"Daripada cemberut, ini lho Mas, tak bawakan oleh-oleh, " kata Qodir sambil meraih tasnya.

"Nggak apa-apa lu nggak bawa oleh-oleh, Dir. Yang penting lu selamat sampai di sini, kita juga udah senang, " kata Jumadi dengan bijak.

"Eh, Jum, tak bawakan itu maksudnya gue bawain !" celetuk Mat Kelor yang sebenarnya lagi malas celangap berhubung bulan puasa.

"Ini lho Mas, khusus untuk Mas Jum tak bawakan baju lurik dan blangkon, " kata Qodir sambil menyerahkan sebuah bungkusan kepada Jumadi. (pakain khas daerah bermotif garis-garis dan topi)

"Ntar hari Sabtu pakai ke Duarte. Pasti lu disangkain si Doyok, " kata Mat Kelor yang disambut gelak tawa Pepen.

"Jangan sampai lu pakai tuh blangkon ke Stater Brothers, Jum. Ntar disangkain lu nyolong telor, diumpetin di topi, " sahut Pepen sambil masih tertawa-tawa.

"Dir, Dir, bukannya lu bawain gue baju batik amé pici biar dikirain Jusuf Kalla, malah ntar gue disangkain si Doyok, " sahut Jumadi. "Tapi terima kasih Dir. Yang paling penting perhatian lu. "

"Untuk Mas Pepen tak bawakan celana panjang batik, " kata Qodir sambil menyerahkan bungkusan lainnya ke Pepen. "Dipakai ya Mas, kalau nanti mau ke pasar malam di Redlands. "

"Ntar kalau ketemu orang kité di pasar malam, dikirain lu mau main lenong. Hebat juga pasar malam Redlands ada hiburan lenongnya, " kata Mat Kelor sambil tertawa geli.

"Iyé Pen, dikirain lu penggantinya almarhum Bokir, " kata Jumadi sambil terbahak-bahak.
(Bang Madi/ IM)

     

 


FastCounter by bCentral