Nenek Moyang Orang Indonesia

1. Masalah asal usul manusia Indonesia.
Teori mutakhir tentang penyebaran manusia (istilah ilmiahnya: Homo sapiens) mengatakan asal-usul manusia adalah dari Afrika, dengan menggunakan penyelidikan genetika. Ketika Zaman Es, maka terjadi penyebaran ke berbagai penjuru dunia, melalui dua jalur, yang pertama ke arah utara dan yang kedua ke arah timur.

Yang ke utara itulah akhirnya menjadi nenekmoyang bangsa-bangsa sepanjang Pantai Timur Afrika, Semenanjung Arab bagian timur, menyeberang ke Afghanistan, lalu menyusup ke Asia Tengah.

Nah, dari Asia Tengah inilah kemudian menyebar ada yang ke utara; ada yang ke barat (menuju ke Eropah); ada yang ke timur (menuju ke Tiongkok, Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia, dan juga ke Jepang dan akhirnya ke Amerika Serikat sebagai penduduk "aseli" (paling awal) bangsa Indian), dan ada juga yang ke selatan antara lain melahirkan

nenekmoyang orang Tibet, Bhutan, India, Pakistan, Srilangka, dll.
Yang ke timur dari Afrika akhirnya sampai ke Australia: Aborijin. Nah, dari sini ada yang ke pulau-pulau di pasifik, ada juga yang ke pulau-pula bagian timur Indonesia.

Jadi, sumber manusia Indonesia itu ada yang bernenekmoyang Asia Tengah (jadi, satu nenekmoyang dengan Tionghoa) dan ada juga yang dari Aborijin. Maka dasar jasmaniah manusia Indonesia merupakan percampuran antara kedua jenis Homo sapiens ini: Asia tengah dan Aborijin. Campuran kedua ras besar inilah yang menjadi cikal bakal manusia Indonesia (bangsa Melayu, Kubu, Badui, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Makassar, Sasak, Dayak, Maluku, Papua, dll, sebelum masuknya bangsa-bangsa lain ke negeri kepulauan ini.)

Jadi, bahwa kemudian ada bangsa-bangsa lainnya datang dari Tiongkok, India, Arab, Eropah, dll, itu terjadi belakangan.

Maka jelaslah nenekmoyang orang Indonesia dan orang Tiongkok itu sama: orang Asia Tengah. Hanya saja, yang di Indonesia itu sudah bercampur dengan yang berasal dari Australia, sehingga ada tambahannya.

Sementara itu ada juga manusia Imdonesia tersebut yang menyebar ke wilayah lain, antara lain ada yang kemudian menjadi nenekmpoyang orang Malagasi sebagai penduduk "aseli" (paling awal) di Pulau Madagaskar (saya sedang menyusun novel tentang hal ini), dan ada juga yang menjadi orang Formosa penduduk "aseli" (paling awal) di Pulau Taiwan. Migrasi yang terjadi ke Pulau Madagaskar itu diperkirakan berlangsung pada Abad 15 yang lalu, atau ada juga teori yang mengatakan sejak Abad Ke-Satu. Ketika mereka tiba di Madgaskar, belum ada penduduk lainnya, tidak juga ada yang dari Afrika, meskipun pulau itu dekat dengan dan merupakan bagian dari Benua Afrika -- orang Afrika datang belakangan, demikian juga orang Arab, India dan Eropah.

2. Bangsa Tionghoa di Indonesia.
Memang masih ada permusuhan antara kelompok Tionghoa dan yang selama ini disebut "pribumi" (inlander). Permusuhan itu sebenarnya buatan penjajah Belanda. Dan sikap beremusuhan ini cenderung dipelihara ketika kita sudah masuk ke zaman kemerdekaan.

Tapi, selain itu, ada juga persaudaraan terjadi antara orang Tionghoa dan "pribumi" Indonesia. Hal ini memang hampir boleh dikata tidak dicatat oleh media massa, karena mungkin tidak menarik, sebab berita yang gawat dan mengandung tindak kekerasan lebih menarik untuk disajikan kepada pembaca/pemirsanya.

Contohnya yang di Bali, menurut informasi yang pernah saya terima, ada kelompok Tionghoa yang beragama Hindu/Budha telah melebur ke dalam kehidupan orang Bali, tepatnya di Tabanan, dan kelompok Tionghoa ini disebut orang Pandak. Tipologi jasmaninya memang mirip sekali dengan orang Tionghoa. Selain itu, bukankah ada teori yang mengatakan bahwa orang Palembang itu hasil campuran antara Melayu dan Tionghoa? Dan di Kalimantan Barat juga terjadi percampuran di sana, bukan? Di kalangan penganut agama islam, maka ada kelompok yang disebut PITI (dulunya PICI) merupakan perhimpunan Tionghoa Islam. Mereka ini boleh jadi bukanlah orang Tionghoa yang ganti agama, melainkan boleh jadi memang keturunan pasukan Admiral Cheng-ho (maaf kalau salah tulis, mohon diperbaiki -- thanks!) Bukankah tiang mejid Demak itu dikatakan dibuat oleh ahli pembuatan kapal yang anakbuahnya sang admiral dari Tiongkok itu?

Nah, persaudaraan antara orang Tionghoa dan orang Indonesia itulah justeru yang harus kita informasikan kepada generasi muda dan mendatang, bahwa orang Tionghoa yang ada sekarang ini di Indonesia, yang menjadi wargengara Indonesia, adalah saudara sebangsa dan setanah-air, dan tidak boleh idkenakan diskriminasi dalam bentuk apa pun -- kalau baik yang dinilai baik, kalau jahat ya dinilai jahat, dan ini janganlah didasarekan atas ras atau keturunan, melainkan atas dasar Undang-undang yang berlaku, ataupun tatanan nilai moral tak tertulis yang berlaku di dalam masyarakat.

Mudah-mudahan ada artinya ulasan singkat ini.
Salam, Ikra

     

 


FastCounter by bCentral