Jusuf Kalla:
Perlakuan ke Kelompok Pengusaha Akan Dibedakan


Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla mengatakan, pihaknya akan membedakan perlakuan terhadap para pengusaha berdasarkan kelompok. Para pengusaha dari kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) akan diperlakukan lebih baik dibanding pengusaha dari kelompok besar. Hal seperti ini pernah diatur dalam Keputusan Presiden No.16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBN.

"Kalau Malaysia menerapkan ras, kita harus menerapkan berdasarkan kelompok," ujar Kalla dalam perbincangan dengan SH di ruang kerjanya, baru-baru ini. Tindakan ini diambil guna mengurangi jurang kaya dan miskin yang semakin lebar di Indonesia. Menurut Kalla, pemberian bunga untuk pengusaha kecil sebesar 30 persen dan untuk pengusaha besar sebesar 15 persen adalah tidak adil. Karena itu, pembedaan perlakuan pemerintah terhadap pengusaha berdasarkan kelompok harus segera direalisasikan.

Misalkan, dalam penjelasan Pasal 21 ayat (5) Keppres No.16/1994 disebutkan, yang termasuk perusahaan golongan ekonomi lemah adalah perusahaan yang sebagian besar modalnya (50 persen ke atas) dimiliki oleh golongan ekonomi lemah. Menariknya, dalam penjelasan tersebut juga disebutkan bahwa sebagian besar golongan ekonomi lemah terdiri dari orang Indonesia asli. Disebutkan: "untuk sementara, pemberian kesempatan kepada golongan ekonomi lemah itu diberikan kepada orang Indonesia asli."

Penjelasan ini membuat kebijakan yang akan diterapkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dikhawatirkan tergelincir pada sikap diskriminatif. Menanggapi hal ini, Kalla berkomentar, "Ya sebetulnya, tanpa disebut pun, 90 -95 persen pengusaha kecil itu pribumi."

Kalla sendiri tidak khawatir dianggap diskriminatif dengan menerapkan kebijakan ini. Menurutnya, kebijakan ini justru menjadi solusi bagi pengusaha Tionghoa yang mayoritas memegang perusahaan besar, agar tidak menjadi sasaran kemarahan masyarakat akibat lebarnya jurang kaya-miskin di Indonesia.

Menurut Kalla, menguatnya ekonomi dari kelompok UKM yang mayoritas pribumi justru akan menghilangkan sentimen anti-Tionghoa.

Kalla menyebut peristiwa Mei 1998 dipicu oleh kemarahan masyarakat terhadap jurang kaya-miskin yang terjadi di Indonesia. "Jangan disembunyikan masalah republik ini. Harus terbuka. Ini kepentingan Anda (pengusaha Tionghoa-red), saya bilang. Kalau banyak orang miskin, banyak pengusaha kaki lima yang didorong-dorong kiri kanan. Tahun depan siapa yang akan dia bakar? Anda yang akan dibakar. Suka mana? Suka diskriminasi atau suka kau dibakarin, diburu-buru. Anda enak bawa duit keluar negeri kalau terjadi apa-apa. Saya terbuka begitu. Saya tidak pernah tutup-tutupi," kata Kalla menceritakan
pengalamannya berdialog dengan pengusaha Tionghoa.

Realokasi Dana
Dalam kesempatan terpisah, mantan Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia, Sri-Edi Swasono, mengatakan bahwa pemerintah baru harus melakukan realokasi dana besar-besaran untuk menggerakkan usaha kecil. Karena dengan keberpihakan pada usaha kecil berarti juga membangun bangsa dan negara. Karena itu perlu ada upaya strategis, tidak cukup hanya keberpihakan.

"Membangun ekonomi rakyat harus betul-betul substantif dan menggunakan sumber daya yang ada dan mampu menggerakkan produktivitas rakyat. Sangat keliru membangun usaha kecil dengan hanya memberikan residu," katanya.
Sri-Edi menekankan, alokasi dana untuk usaha kecil sangat minim bahkan dalam penyalurannya juga tidak sampai pada sasaran. Dia mencontohkan, Kredit Usaha Tani (KUT) senilai Rp 8,6 triliun akhirnya penyalurannya lebih banyak menyimpang. Usaha kecil merupakan ekonomi rakyat. Upaya menggerakkan ekonomi rakyat ini harus berbasis akar rumput, sumber daya dan berorientasi pada orang.

Sementara usaha menengah, menurut Sri-Edi, selama ini menjadi beban bagi usaha kecil dengan melakukan eksploitasi dan kadang-kadang berperan sebagai predator. Usaha menengah sebagian hanya menjadi brokrer atau distributor untuk usaha kecil. "Memang tidak semua usaha menengah demikian tetapi prioritas pemerintah harus usaha kecil karena usaha menengah jumlahnya juga sedikit," katanya. (san/emy/das/mis/SH/IM)

     

 


FastCounter by bCentral