|
|
|
Impian
Martin Luther King Jr
"SAYA mempunyai suatu impian.
Suatu impian yang berakar mendalam di dalam impian orang
Amerika. Saya punya sebuah mimpi bahwa di satu hari nanti
di perbukitan merah Georgia, anak-anak bekas budak dan anak-anak
bekas pemilik budak duduk bersama dalam meja persaudaraan.
Saya bermimpi pada suatu hari nanti bangsa ini akan bangkit
dan mengamalkan makna sejati kepercayaannya yang lebih besar
daripada warna kulit..."
 |
Tidak Pernah Mati di Memphis
MARTIN Luther King Jr, tokoh pejuang hak-hak sipil
berkulit hitam yang sangat terkenal itu, seperti hidup kembali
di ruang kebaktian Gereja Baptis Monumental Memphis, Tennesse,
AS, di penghujung bulan Mei lalu. Meskipun rangkaian kata
yang dicuplik dari pidato King Jr saat ia berorasi di depan
lebih dari 200.000 orang yang berunjuk rasa di Washington
pada tahun 1963 itu hanya diucapkan kembali oleh tokoh pemeran
King Jr, namun aroma dan semangat yang memenuhi ruang kebaktian
seperti membangkitkan kembali sosok Martin Luther King Jr
yang sesungguhnya. Tiap kali kata-kata "I have a dream"
diucapkan oleh pemeran sang tokoh legendaris dalam drama
tiga babak itu, terdengar sambutan tak kalah bersemangat:
"Yeah... yeah... yeah!"
Para jemaat kulit hitam itu bagai larut dalam "permainan"
yang mereka ciptakan sendiri. Meski plot dari cerita itu
sudah mereka ketahui sejak orang- orang kulit hitam mengenal
kerasnya kehidupan, jalan menuju klimaksnya tetap menjadi
misteri yang mencekam. Begitu tokoh pemeran King Jr turun
dari panggung, dan suara warta berita dari satu stasiun
radio diperdengarkan, para jemaat terdiam seperti menahan
napas. Isi berita itu cukup menyentak, bahwa sang tokoh
telah ditembak saat berada di balkon Motel Lorraine di kawasan
Mulberry Street, Memphis. Suara sirene pun memenuhi ruang.
Penerangan berangsur diredupkan. Musik dihadirkan muncul
dalam nada pelan namun terdengar menyayat.
Namun, suasana hening itu tak dibiarkan berlangsung lama.
Lampu-lampu kembali dinyalakan. Bersamaan dengan itu, lagu
We Want Feedom pun berkumandang dalam irama riang. Penuh
energi! (Masih ingatkah pembaca pada gaya dan penampilan
paduan suara gereja yang keluar dari pakem dalam film Sister
Act yang dibintang Whoopi Goldberg?). Dan, begitu We Want
Freedom rampung dinyanyikan oleh kelompok paduan suara gereja
berpakaian sangat sederhana itu, suara gemuruh memenuhi
ruang. Wow! Wow! Wow!
Diselingi teriakan-teriakan kecil, tepuk tangan terdengar
riuh. Anggota jemaat berdiri memberi aplaus panjang atas
penampilan paduan suara gereja itu, yang menandai akhir
dari drama tiga babak tentang sejarah panjang orang-orang
kulit hitam di AS, sekaligus menutup acara kebaktian di
gereja bersejarah di kawasan 704 South Parkway East, Memphis,
tersebut.
 |
Ada banyak kisah sedih yang dialami oleh
generasi pendahulu mereka, termasuk generasi-generasi awal
orang kulit hitam yang dibawa secara paksa dari tanah kelahiran
mereka di Afrika untuk dijadikan budak di benua ini. Zaman
perbudakan yang penuh penindasan itu telah meninggalkan
luka yang amat dalam. Juga masa-masa perjuangan menuntut
hak-hak sipil yang penuh ceceran darah dan air mata, bahkan
masa-masa sesudahnya yang masih saja diwarnai diskriminasi
di sana-sini. Semua itu adalah masa lalu yang tetap berimpitan
dengan masa kini orang-orang kulit hitam di AS.
Sejarah kelam nenek moyang orang-orang kulit hitam itu,
lewat peringatan semacam ini ingin ditanamkan terutama kepada
generasi muda mereka. Anak-anak muda kulit hitam masa kini
tentu saja tak lagi merasakan secara langsung betapa pahit
hidup dalam penindasan. Mereka kini bisa duduk di mana saja,
bisa melakukan apa yang bisa dan boleh dilakukan warga AS
lainnya, bahkan kini mereka bisa saja bercita-cita menjadi
presiden AS.
Tidak seperti pendahulu mereka, lebih-lebih lagi nasib orang
kulit hitam yang tinggal di daerah selatan, seperti Georgia,
Savannah, Alabama, juga Tennesse. Ketika itu, kata Samuel
Kyles, semua terpisah antara kulit hitam dan kulit putih;
mulai dari mereka yang hidup sampai yang mati di kuburan.
Jangankan bermimpi menjadi presiden, menikmati pendidikan
di sekolah umum pun dilarang. Kedai minum untuk orang kulit
hitam terpisah, WC untuk orang kulit hitampun tersendiri,
dan bila naik bus mereka hanya boleh duduk di bagian belakang.
"Anak-anak kami sekarang tidak lagi mengalami diskriminasi
semacam ini. Tetapi mereka perlu tahu hal-hal yang telah
dialami generasi pendahulunya itu untuk diteruskan kepada
anak-anak mereka kelak. Ini bukan untuk memupuk dendam,
tapi untuk mengingatkan perjuangan orang-orang kulit hitam
di negeri ini dan bagaimana Tuhan izinkan kami untuk tetap
survive. Perbudakan memang menyedihkan, tapi ada juga hikmahnya,
yakni membentuk kami menjadi manusia yang kuat untuk mempertahankan
diri," kata Kyles.
PERJUANGAN orang-orang kulit hitam mencapai titik yang paling
menentukan sebetulnya dimulai ketika pada tahun 1954 Komisi
Warren (disebut demikian karena komisi ini diketuai hakim
agung Earl Warren) membuat keputusan bersejarah bagi kaum
kulit hitam. Petisi yang diajukan orang-orang kulit hitam
terhadap dokrin hukum yang menyatakan bahwa pemisahan siswa
berkulit hitam dan putih di sekolah adalah konstitusional
bila fasilitasnya "terpisah tapi sejajar",
yang dibentuk dalam kasus Plessy Vs Ferguson tahun 1896,
diterima oleh Mahkamah Agung. Komisi Warren menyatakan secara
bulat bahwa dokrin "terpisah tapi sejajar" tak
boleh lagi dilaksanakan di sekolah umum.
Putusan Mahkamah Agung ini mendapat ujian berat ketika tahun
1957 terjadi pembangkangan di Little Rock, Arkansas. Atas
perintah gubernur setempat, sembilan pelajar berkulit hitam
diusir dari sekolah, dan gubernur menempatkan prajurit Garda
Nasional Arkansas untuk menjaga ketertiban. Pengadilan federal
memang akhirnya memerintahkan satuan pengamanan itu ditarik,
dan sembilan pelajar yang diusir tadi masuk kembali, tapi
kerusuhan hanya tinggal menunggu waktu.
Ketika massa mulai mengganas, Presiden Eisenhower menanggapinya
dengan menempatkan Garda Nasional dibawah komando federal
dan memerintahkan mereka kembali ke Little Rock. Maka, sejarah
Amerika pun mencatat, "
penghapusan perbedaan
di negeri ini dimulai dengan berdirinya tentara di dalam
kelas untuk menjaga tegaknya hukum."
Kasus penting lain adalah gerakan hak sipil yang terjadi
di Montgomery, Alabama, tahun 1955. Rosa Parks, seorang
penjahit berusia 42 tahun, suatu hari naik bus umum dan
duduk di barisan depan, tempat yang selama ini diperuntukkan
bagi kulit putih. Ia menolak ketika diperintahkan untuk
pindah, sampai kemudian polisi datang dan memenjarakannya
dengan tuduhan melanggar hukum pemisahan. Kasus ini dijadikan
momen penting oleh para pemimpin kulit hitam. Terjadilah
pemogokan besar-besaran, yang dalam sejarah perjuangan hak-hak
sipil dikenal dengan istilah "Montgomery Boycot".
Di sinilah muncul tokoh muda kharismatik, Martin Luther
King Jr. Di depan massa, doktor filsafat berusia 29 tahun
yang kala itu menjadi pendeta pembantu gereja Baptis di
wilayah Dexer, Montgomery, berkata, "Akan tiba waktunya
di mana orang lelah ditendang terus oleh kaki penganiayaan
yang kejam. Kini, kami tidak memiliki pilihan lain kecuali
melakukan protes. Bertahun-tahun kami telah menunjukkan
bahwa kami mempunyai kesabaran yang mengagumkan. Kadang-kadang
kami harus memberikan kepada saudara-saudara kami kulit
putih sebuah rasa bahwa kami menyukai cara kami diperlakukan.
Namun, malam ini kami datang di sini untuk dibebaskan dari
kesabaran yang membuat kami
sabar terhadap apa pun, kecuali terhadap pengingkaran kebebasan
dan keadilan." Setelah itu ia dipenjarakan, berkali-kali,
tapi impiannya tentang kebebasan dan persamaan hak tak bisa
dibendung oleh jeruji besi.
Dalam aksi mogok itu, sebagaimana kesaksian Samuel B Kyles,
tukang-tukang sampah itu tidak mengusung masalah kebebasan,
keadilan, dan persamaan hak. "Yang mereka usung adalah
pamlet-pamlet dengan tulisan berbunyi, 'Kami adalah Manusia'.
Mengapa isu ini yang mereka usung? Jawabnya tak lain karena
mereka, tukang-tukang sampah itu,
diperlakukan oleh warga kulit putih di Kota Memphis bukan
sebagai manusia.
Siangnya, dalam keadaan sangat lelah, King Jr sempat bergabung
dengan para tukang sampah itu, dan di Gereja Baptis Memphis
ia berpidato. Ketika ada yang mengingatkan bahaya yang akan
mengancamnya, dengan tegas King Jr berucap, "Saya tidak
takut kepada manusia karena ada kekuasaan yang lebih tinggi."
Sepulang dari gereja, menjelang malam, saat ia berbincang
bersama dua sahabatnya-satu di antaranya Samuel B Kyles-di
balkon Motel Lorraine, sebutir peluru senapan laras panjang
yang ditembakkan dari bangunan di seberang Mulbeery Street
menerjang Martin Luther King Jr.
"Mereka berhasil membunuh King Jr, tapi tidak impiannya.
Impian itu masih hidup hingga sekarang. Saya dan gereja
ini adalah saksi sejarah, dan saya bagi kesaksian ini kepada
dunia," kata Samuel B Kyles mengenang peristiwa 32
tahun silam tersebut. M (Kom/IM)
|