|
|
|
Balada
si Qodir
 |
Masih ingat si Qodir ? Teman
Mat Kelor ini ngibrit pulang ke kampungnya sebelum pendaftaran.
Suatu sore, Mat Kelor sangat terkejut seperti melihat setan
di siang hari bolong, ketika melihat Qodir berdiri di depan
pintu apartemennya.
"Ini benar elu, Dir ? Apé arwah lu yang lagi
gentayangan ?" tanya Mat Kelor sambil memeluk Qodir,
karena lama nggak bertemu dan untuk meyakinkan bahwa itu
betul si Qodir.
"Mas ini kok ngawur sih ! Lha ini betul aku. Wong masih
hidup kok dibilang arwah gentayangan, " protes Qodir.
"Jangan main peluk-peluk begitu tho, Mas. Ini kan Amerika,
nanti dikira kita pecinta sesama jenis. Di sini kan lagi
ramé debat soal perkawinan seperti itu. "
"Rupanyé lu kagak ketinggalan jaman jugé,
sampai isu terkini lu tahu. " sahutMat
Kelor sambil melepas pelukannya dan mengajak masuk ke dalam.
"Sebenarnya nggak perlu didebatin. Kaum gay kan juga
punya hak,....untuk hidup menderita..he..he.." kata
Mat Kelor sambil cengengesan. "Yang belon kawin emang
cuma ngebayangin yang indah-indah doang. Coba tanya amé
yang udah ! Kalau nggak percaya tanya si Jumadi tuh. Mangkanya
Koes Plus bilang enakan jadi bujangan, kemana-mana nggak
ada yang larang !"
"Ah, itu kan pendapat orang yang belum laku, untuk
menghibur diri !" cetus Qodir yang tumben, sekarang
udah lebih pinter, bisa ngekik balik Mat Kelor.
"Ngomong-ngomong aku ini balik ke Amerika untuk cari
modal kawin dengan pacarku. "
"Hebat lu, Dir. Tapi gue heran, tampang kayak lu kok
bisa diijinin masuk ke sini lagi. Yang direktur-menejer
ajé padé ditolakkin. " kata Mat Kelor
terheran-heran karena si Qodir bisa nongol lagi di sini.
"Emangnya tampangku kayak teroris!" jawab Qodir.
"Lho, kok heran sih, Mas ? Wong visaku masih laku dan
dulu aku pulang sebelum ijin tinggalku habis. "
"Tampang lu bikin orang kesihan kali ya ? Jadinya petugas
imigrasi kagak tega nolak lu, " kata Mat Kelor lagi,
menggoda si Qodir. "Nanti kawinan lu mau nanggep apé,
Dir ? Wayang orang, apé layar tancep ?"
"Itu sih kuno, Mas. Rencananya aku mau panggil rock
band dari Jakarta, " jawab Qodir sambil terkekeh-kekeh.
"Busyet, gaya juga lu. Nggak sekalian Michael Jackson
lu boyong ke kampung lu ?" sahut Mat Kelor sambil geleng-geleng
kepala.
"Jangan ah ! Nanti kasihan anak-anak tetangga, ndak
bisa kentut lagi, karena klepnya jadi pada dol !" kata
Qodir ngekik balik Mat Kelor kedua kali.
"Ini aku bawakan oleh-oleh, sarung dari Indonesia.
Biar nanti kalau jalan-jalan ke East Coast lagi, Mas nggak
kedinginan." kata Qodir sambil mengeluarkan bungkusan
dari tasnya.
"Yailah, Dir. Di East Coast pakai sleeping bag ajé
masih kedinginan, apé lagi cuma sarungan. Tapi gue
terima kasih atas perhatian lu, gue jadi terharu nih, "
kata Mat Kelor berlagak melankolis. "Sekarang gue mau
telepon si Pepen dan Jumadi, kasih tahu lu ada di sini,
" kata Mat Kelor lagi sambil meraih telepon.
(Bang Madi/ IM)
|