Gros Morne Park Photo Essay

Tibalah saat yang dinanti-nanti Anda yang selama ini membayangkan seperti apa sih pemandangan tempat-tempat yang kami kunjungi. Di dalam tayangan ini, akan saya syer foto-foto yang sudah saya ambil dan juga beberapa hasil copyan dari kamera digitalnya prenku Benny Somali. Bila ada di antara foto-foto kami yang ingin Anda miliki, mungkin untuk dipajang di ruang tamu atau 'dining room' Anda demi menambah selera makan, mohon ijin diminta dulu dari kami sebab semua foto maupun serialnya sudah dipatent dan dilindungi oleh hak cipta.

Di awal-awal pendakian, perhatikan trail berbatu-batu, boleh dibilang 80% dari jalanan trail berbatu-batu seperti itu. Seperti saya katakan, secara psiko pendakian tidak segaswat ketika melakukan penurunan karena selain saya tahu nasibku tidak kaya Sysiphus, juga karena merasa bersyukur cuma harus menggendong daypack gantian dengan isteriku. Tidak kebayang kalau harus memanggul kanu atau portaging di trail mendaki seperti itu selama berkilo-kilometer.

Gunung di belakang kami itulah Gros Morne Mountain dan di peristirahatan ini, jarak yang kami tempuh barulah sekitar 3 km. Namun karena sukarnya trail maka sedikitnya kami sudah berjalan sejam lebih. Semak-semak belukar di bawah penuh dengan blueberry alias padang menjelang lereng gunung adalah "warung beruang" yang senang akan blueberyy. Tak heran ada 'bear sighting' di dekat campground kami yang letaknya tak jauh dari trail tersebut.

Kalau Mo Kus prenku tukang dongeng di Kisah Pasang Surut mempunyai subjudul Suster Mbrangkang di dalam serialnya, inilah bojoku yang juga mbrangkang di pendakian terjal berbatuan. Soalnya ketika ia sedang membawa daypack sebelum ia merangkak itu, ia hampir kejengkang ke belakang. Ketika saya memeriksa angka ketinggian di GPS-ku, saat itu masih sekitar 500-an meter alias kami masih jauh dari puncak.

Bang Jeha mengambil alih tugas menggendol daypack dan diilhami Nabi Musa, sahaya memakai tongkat yang sudah banyak membawa berkah ketika di trail
menurun di akhir hiking, otot kaki kanan saya menyerah. Perhatikan batu-batu di sepanjang trail dimana di beberapa tempat batu yang diinjak melorot ke bawah. Untunglah sepatu boots Malioboro saya tidak sampai mengecewakan majikannya, pantang menyerah, rawe-rawe rantas malang-malang putung Mas.

Agar supaya Anda tidak sport jantung deg-degan membayangkan kenekadan kami, foto di atas merupakan bukti sejarah yang tidak bisa diganggu-gugat lagi
bahwa dua manula Indonesia-Kanada dari Toruntung berhasil menaklukkan puncak gunung Gros Morne, ceile banget ye, tsk-tsk-tsk TOP sinting. :-) Perhatikan kegantengan mereka yang berdiri, apalagi pemuda yang di sebelah kanan gambar, kaga kucel sama sekali, 806 meter?... ecel banget :-).

Salah satu hadiah instan setelah mencapai puncak, pemandangan yang bisa dilihat dari salah satu sisi. Danau terbesar di belakang kami bukan Western Brook Pond yang kami jelajahi naik kapal tetapi Bakers Brook Pond yang tidak sedemikian mencekam seperti Western Brook Pond pemandangannya tetapi tetap cantik nian. Perhatikan penulis Anda yang tidak mengangkat seluruh tangannya, bukan karena lelah tetapi maksudnya rendah hati :-).

Khusus bagi Anda yang bukan penduduk Kanada, kutayangkan peta di atas yang memperlihatkan rute perjalanan mobil kami dari Toronto sampai ke Gros Morne hampir di pojok kanan atas. Anda dapat melihat pulau Newfoundland dengan gambaran skala, jarak ferry dari Nova Scotia kesana adalah sekitar 200 km dan dari penyeberangan (Port aux Basques) ke Gros Morne sekitar 350 km. Pokoke total route itu sekitar 3000 km kaga ambil untung.

Pantai di Shallow Bay campground, Gros Morne Park. Diambil oleh Janti setelah kami berdua berenang a la kadarnya di pantai Samudera Atlantik itu. Kalau Anda masih ingat, sarung yang dipakai bojoku adalah yang dibelinya di Danau Kintamani, Bali, ketika tak sampai hati ditawari beli oleh seorang ibu-ibu penjual. Sekarang ia jadi senang kepada kain kembennya itu :-), hangat kalau sedang dingin, sejuk kalau panas karena tipisnya sang bahan.

Kembali salah satu shooting Janti ketika kami ada di atas kapal Western Brook Pond. Tinggi lamping-lamping di eks fjord tersebut hanya sekitar 700-an meter alias di bawah Gros Morne Mountain. Disana-sini tampak air terjun hanya konon karena besarnya volume air di danau itu, air terjun tidak banyak dampaknya di dalam menggantikan air danau. Kalau danau biasa tergantikan seluruh airnya dalam waktu 3-4 tahun, Western Brook Pond perlu puluhan tahun.

Pengarang Anda tidak ngibul kalau kukatakan air di danau Western Brook Pond adalah yang termurni di dunia. Kenapanya baca azha informasi di plank di sebelah kirinya nyonyaku. Di latar belakang tampak kapal yang menjalani trayek perjalanan pulang pergi dari ujung ke ujung danau. Yang kami naiki yang besar, Westbrook III, muat 70-an penumpang. Kapal tersebut diangkut dari laut ke atas danau ketika musim dingin alias ditarik di atas salju.

Satu foto bonus hasil jepretan kameraku terhadap 'mouse pad' yang dijual di Visitor Centre dari cagar Gros Morne. Perhatikan moose yang tetap 'going strong' dan mobil yang ringsek dimana pengemudinya udah amblas melayang ke bintang-bintang. Jadi prens sadayana, doakanlah kami supaya selamat pulang ke rumah dan tidak pernah nyium moose kaya begitu entu. Makasih, lam lekom bai bai, sampai berjumpa di kisah serial mendatang.

     

 


FastCounter by bCentral