|
|
|
Kolom
Ibrahim Isa
MENYAMBUT ULTAH KE-55 BERDIRINYA
R.R.T.
Pengantar:
Artikel ini aslinya ditulis dalam bahasa Inggris,
atas permintaan Perhimpunan Rakyat Tiongkok untuk Persahabatan
dengan Luar Negeri (YOUXIE).
Untuk menyambut hari ultah ke-55 berdirinya Republik Rakyat
Tiongkok, artikel ini saya siarkan dalam teks bahasa Indonesia,
sbb:
SEMOGA HUBUNGAN PERSAHABATAN INDONESIA-TIONGKOK
BERKEMBANG TERUS
Ketika sahabat-sahabat saya dari Perhimpunan Persahabatan
Rakyat Tiongkok dengan Luarnegeri, YOUXIE, minta kepada
saya untuk menulis di Majalah Jubilium mereka, untuk ulangtahun
ke-50 Perhimpunan tsb, saya merasa terhormat. Betul merasa
dihormati. Apakah permintaan itu datang tak terduga, bahwa
sahabat-sahabat Tiongkok saya mengajukan pertanyaan itu?
Tidak, samasekali tidak? Saya tidak heran. Karena di dalam
hati saya, dalam perasaan saya yang paling dalam, saya selalu
menganggap rakyat Tiongkok, dan Tiongkok, seabagai sahabat
sejati, sebagai LAO PENGYOU, sahabat lama saya sendiri,
keluarga saya, dan rakyat Indonesia. Hal ini bukan saja
merupakan kelanjutan dari kenyataan, bahwa istri saya dan
keempat putri kami tinggal, bekerja dan belajar di Tiogkok
selama 20 tahun. Ini disebabkan karena hubungan persahabatan
dan tradisionil yang terdapat diantara kedua negeri kita
untuk berabad-abad lamanya.
Sejarah
Lebih dari seribu tahun yang lalu, kaum imigran
Tiongkok datang ke Indonesia untuk memulai kehidupan baru,
hidup bersama dalam kegembiraan dan kesulitan dengan rakyat
Indonesia. Arus migrasi rakyat dari Tiongkok ke Indonesia
berlanjut untuk berabad-abad lamanya. Kaum imigran Tiongkok
datang dengan membawa persahabatan dan tradisi serta ketrampilan
dalam seni hidup. Mereka juga datang dengan kultur dan budaya
mereka, yang kemudian hidup bedampingan dan berjalin dengan
kultur dan budaya rakyat Indonesia. Kira-kira pada tahun
400 Masehi, seorang pendeta, sejarawan dan juga seorang
penjelajah dari Tiongkok, bernama FA HIEN, mengunjungi dan
menulis tentang rakyat Indonesia.
Dalam proses sejarah, banyak penduduk etnis-Tionghoa berintegrasi
dalam kehidupan rakyat, menjadi pejuang tangguh untuk kemerdekaan
Indonesia. Siauw Giok Tjhan (1914-1981), adalah salah seorang
dari padanya. Beliau adalah benar-benar seorang patriot
yang mengabdikan seluruh hidupannya bagi usaha kemerdekaan
nasional Indonesia. Siauw Giok Tjhan adalah seorang pejuang
sepenuh hati untuk terlaksananya integrasi penduduk Indonesia
berasal etnis-Tionghoa dengan rakyat Indonesia. Di masa
lampau juga di masa kini orang-orang Indonesia keturunan
Tionghoa telah memberikan sumbangan penting bagi perkembangan
ekonomi dan kemajuan negeri.
Sebuah pesan penting yang saya bawa dari OISRAA (Organisasi
Indonesai untuk Setiakawan Rakyat Asia-Afrika), ketika saya
pergi ke Cairo (1960), untuk mewakili Indonesia di Sekretariat
Tetap AAPSO (Afro-Asian Peoples Solidarity Organization),
-- adalah sbb: == Pertama-tama galang kerjasama yang erat
dengan wakil Tiongkok di Sekretariat Tetap AAPSO, dan juga
di semua pertemuan dan organisasi internasional lainnya.
Tujuannya adalah agar bisa memberikan sumbangan dan dukungan
pada kegiatan setiakawan di kalangan para anggota AAPSO,
dalam perjuangan bersama untuk mencapai dan memepertahankan
serta memperkokoh kemerdekaan nasional.
Politik besar setiakawan dalam perjuangan bersama ini, adalah
kesimpulan logis dari hasil-hasil yang dicapai oleh Konferensi
Asia-Afrika di Bandung dalam tahun 1955. Tanpa a.l. sumbangan
penting oleh Presiden Sukarno, PM Zhou En-lai dari RRT,
PM Nehru dari India, Presiden Nasser dari Mesir, dan para
pemimpin Asia-Afrika lainnya, para peserta di dalam Konfrensi
Bandung,
Konferensi tak akan mencapai sukses demikian bersejarah
dan besar. Pertemuan Bandung, merupakan peristiwa amat penting
yang membangkitkan dan mengkonsolidasi setiakawan rakyat-rakyat
Asia dan Afrika untuk menentukan nasib sendiri, kemerdekaan
nasional, hidup berdampingan secara damai dan perdamaian
dunia. Konferensi merupakan tonggak sejarah penting dalam
sejarah negeri-negeri Asia dan Afrika, dalam perjuangan
mereka untuk menegakkan identitas mereka sendiri, sebagai
kekuatan yang merdeka dan bebas, dalam era perang
dingin, intervensi dan hegemonisme.
Hubungan Pancasila dengan San Min Chu Yi
Mengenai masalah pembangunan nasion dan negara,
mengenai sumber filsafah dan dasar, jelas terdapat fikiran
sama mengenai kemerdekaan dan demokrasi antara visi pembangun
negara Tiongkok modern, Dr Sun Yat Sen, dengan visi penegak
dan proklamator negara Indonesia merdeka, Presiden Sukarno,
presiden pertama Republik Indonesia. Dalam pidatonya pada
tanggal 1 Juni 1945, ketika menjelaskan dasar-dasar filsafah
dan politik negara Indonesia, yang disebutnya PANCASILA,
yaitu Lima Prinsip, Sukarno menjelaskan bahwa San Min Chu
Yi Dr Sun Yat Sen, a.l. merupakan sumber inspirasinya.
Konferensi Bandung (Asia-Afrika)
Dalam era sekarang ini, kadang-kadang disebut era
globalisasi, dimana konsep politik hegemonisme
dan unilateralisme merupakan ancaman penting terhadap stabilitas
dan perdamaian dunia, negeri-negeri berkembang, kebanyakan
di Asia, Afrika dan Amerika Latin, masih dikontrol secara
dan dieksploitasi sescara ekonomi oleh negeri-negeri maju
dan oleh negara adikuasa tunggal di dunia dewasa ini. Dalam
situasi internasional yang rumit demikian itu, adalah teramat
penting, --- adanya suatu negeri berkembang, yang tumbuh
dalam kekuatannya, seperti Republik Rakyat Tiongkok. Yang
lagipula merupakan negeri anggota penting Konferensi Bandung
dan co-inspirator Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara
Damai dan Sepuluh Prinsip Konferensi Bandung, prinsip-prinsip
yang menjunjung kemerdekaan, non-intervensi dan hidup berdampingan
secara damai.
Indonesia, sebagai anggota masyrakat Afro-Asia, dan salah
satu dari pengambil inisiatif Prinsip-prinsip Bandung, yaitu
Kemerdekaan, Kedaulatan dan non-intervensi, harus melakukan
kerjasama yang lebih erat dengat Republik Rakyat Tiongkok,
memajukan hubungan bilateral di bidang kultur dan ekonomi
demi saling menguntungkan kedua rakyat dan kedua negeri.
Terdapat dasar kokoh untuk perkembangan demikian, karena
masing-masing rakyat memiliki
hubungan persahabatan yang tradisionil. Adalah demi keuntungan
bersama dua negeri, bahwa Indonesia dan Tiongkok meneruskan
kerjasama dan memajukan kontak-kontak di tingkat rakyat.
Seperti halnya, pertukaran mahasiswa, ilmuwan, olahragawan
dan seniman. Hal ini tidak diragukan akan memperluas saling
pengertian diantara dua rakyat, dengan demikian memperkokoh
hubugan persahabatan.
Terdapat banyak hal yang bisa dipelajari Indonesia dari
Tiongkok. Tiongkok telah dengan sukses mengadakan reformasi
politik ekonominya, melakukan transformasi ekonomi di pedesaan
dan dikota-kota. Dengan demikian, telah menciptakan syarat-syarat
bagi pemulihan dan pertumbuhan cepat ekonomi nasional. Diluncurkannya
astronot Tiongkok ke angkasa luar menunjukkan bahwa Tiongkok
telah mencapai tingkat internasional yang tinggi di bidang
ilmu dan teknologi, khususnya di bidang penyelidikan angkasa
luar.
Kami, -- istri saya dan saya , menyaksikan, --- ketika kami,
atas undangan Youxie, mengunjungi lagi Tiongkok dalam tahun
1998, --- menyaksikan kemajuan pesat yang dicapai Tiongkok
sejak kami meninggalkan negeri tsb dalam tahun 1986. Ekonomi
nasional tumbuh pesat. Kemajuan besar tercatat di bidang
pertanian, industri dan perdagangan, di kota-kota maupun
di pedesaan. Sedangkan taraf hidup mayoritas rakyat lebih
baik dari sebelumnya, sebagian penting masyarakat telah
melampaui taraf hidup negeri-negeri berkembang.
***
Kampanye anti Tionghoa
Sejarah telah menunjukkan, bahwa kekuatan-kekuatan
gelap dengan tujuan-tujuan tersembunyi dari waktu ke waktu,
tetapi terus menerus, menciptakan rintangan dalam hubungan
pershabatan antara Indonesia dan Tingkok, dan antara Tiongkok
dengan negeri-negeri tetangga lainnya dari Tiongkok.
Lagi-lagi mereka melancarkan kampanye anti-Tionghoa dan
anti-Tiongkok. Ini adalah strategi politik mereka di era
perang dingin untuk mengisolasi Tiongkok dan
memajukan politik satu Tingkok dan satu Taiwan. Era perang
dingin sudah berakhir. Tetapi politik tsb terus saja
berlangsung sampai saat ini. Mereka merencanakan histeria
anti-Tiongkok dengan merekayasa apa yang dinamakan bahaya
Kuning dari Utara dsb. Mereka menyebarkan desas-desus
bahwa diwaktu dekat ini Tiongkok akan menjadi suatu kekuatan
ekonomi dan militer yang besar dia Asia dan di dunia. Lalu,
kata mereka, Tiongkok akan menempuh politik hegemoni untuk
mendominasi Asia dan dunia. Dengan melaksanakan politik
ini mereka menciptakan gambaran palsu tentang Tiongkok.
Fitnah ini dan tuduhan palsu yang dialamatkan ke Tiongkok,
hakikatnya ialah suatu percobaan untuk menutupi ambisi hegemonisme
mereka sendiri. Komplotan demikian itu untuk mengadakan
perpecahan diantara negeri-negeri Asia dan Afrika umumnya,
dan antara Indonesia dan Tiongkok khususnya, harus diungkap
dan dilawan, sehingga jalan pengertian dan hubungan persahabatan
antara Indonesia dan Tiongkok, dapat dipertahankan, diperluas
dan berkembang.
***
Satu dan lain hal, situasi warganegara Indonesia berasal
Tionghoa, sikap politik pemerintah terhadap 3 juta warganegara
Indonesia yang berasal etnis-Tionghoa, -- mempunyai pengaruh
besar terhadap hubungan kedua negeri, baik secara positif
maupun negatif. Politik mantan Presiden Sukarno terhadap
warganegara Indonesia berasal etnis-Tionghoa didukung oleh
rakyat, dan punya pengaruh positif dalam hubungan kedua
negeri. Politik pemerintah pasca Sukarno sepenuhnya negatif.
***
Undang-undang bersifat diskriminatif
Terus terang, serentetan undang-undang, peraturan,
keputusan dan politik terhadap warganegara Indonesia asal
etnis-Tionghoa yang dibuat oleh pemerintah adalah diskriminatif
dan rasialis. Sejak Abdurrahman Wahid jadi presiden, sikap
politik pemerintah terhadap w.n.i asal etnis-Tionghoa, jadi
lebih baik. Tahun Baru Tionghoa, sekarang dianggap sebagai
hari libur bersama, dirayakan tidak saja oleh turunan Tionghoa,
tetapi juga oleh orang-orang Indonesia asal etnis lainnya,
bahkan oleh Presiden Megawati, mantan Presiden Wahid, Wakil
Presiden Hamzah, Ketua MPR Amien Rais, dan pejabat-pejabat
pemerintah. Bahasa Tinghoa tidak lagi dilarang di Indonesia
seperti dulu. Penerbitan dalam bahasa Tionghoa tampak dimana-mana,
dsb. Tentu, perkembangan ini harus disambut. Namun, lagi-lagi,
terus terang, undang-undang yang diskriminatif dan rasialis,
peraturan, keputusan-keputusan pemerintah lainnya uyang
diambil oleh pemerintah lampau masih berlaku.
***
Warganegara Indonesia berasal etnis-Tionghoa telah mengalami
penderitaan berat selama lebih dari 30 tahun. Yang paling
buruk, barangkali, adalah yang dikenal dengan TRAGEDI
MEI 1998, di Jakarta, dimana lebih dari seribu warganegara
Indonesia asal etnis-Tionghoa telah menjadi korban, dibunuh,
diperkosa, rumah dan toko-toko mereka dibakar habis. Ini
adalah hasil politik busuk devide et impera
para penguasa, menciptakan perpecahabn serius diantara warganegara
Indonesia etnis lainnya dengan yang berasal dari etnis-Tionghoa.
Politik ini dilaksanakan di bawah selubung asimilasi,
yaitu politik resmi penguasa ketika itu untuk memaksa orang-orang
Indonesia asal etnis-Tionghoa untuk berasimilasi
dengan warganegara Indonesia biasa.
Harapan kita ialah agar di waktu yang akan datang situasi
akan berubah secara mendasar. Sehingg semua rintangan pada
jalan hubungan yang lebih harmonis antara penduduk Indonesia
yang multi-etnis, disingkirkan untuk selama-lamanya. *****
|