|
 |
|
INDO
BELANDA
Dilaporkan oleh : Dr.Irawan.
 |
Arcadia, October 6, 2004/Indonesia Media
Biasanya kalau kita mendengar istilah Indo-Belanda, akan
teringat dengan kecantikan dari noni-noni, dan kegantengan
dari sinyo-sinyo-nya yang berhidung mancung, berkulit bersih,
ber-bulumata lentik, suka berdansa, bernyanyi, dan bicara
dengan Holland Spreken. Pokoknya kalau Indo, sudah di reken
cakep punya deh.
Namun dibalik dunia glamour yang pernah dialami oleh si
Mincye atau si Yance itu, banyak menyimpan pahit getir
dalam perjalanan kehidupan mereka (tentunya tidak semua
dari mereka harus mengalami kegetiran ini), namun pada dasarnya
banyak yang mempunyai kesamaan.
Indo Belanda dan ICAA.
Kelompok Indo-Belanda yang tinggal di San Gabriel
Valley, Los Angeles, yang berjumlah ribuan ini, setiap hari
Sabtu selalu berkumpul di Pondok Kaki Lima , ICAA di Duarte,
sekitar 150 orang datang secara reguler. Bahkan secara langsung
dan tidak langsung mereka sudah menjadi bagian dari ICAA,
demikian pula kegiatan ICAA merupakan bagian dari mereka
juga.
DR. Frits Hong selaku ketua ICAA (Indonesian Chinese American
Association) selalu menyatakan bahwa; Ada banyak persamaan
antara kelompok Indo-Belanda dengan Indonesian Chinese American,
yang pasti kami semua cinta Indonesia. Kami juga merupakan
kelompok minoritas atau diminoritaskan yang pernah diperlakukan
tidak adil, bahkan sampai sekarangpun, masih banyak peraturan
diskriminatif yang belum dicabut di Indonesia. Namun semua
itu tidak mengurangi kecintaan kami kepada Indonesia. Hal
ini bisa kami buktikan dengan hubungan horizontal diantara
masyarakat Indonesia disini. Siapapun tahu bahwa ICAA merupakan
organisasi nonprofit yang terbuka untuk umum, demikian
cetus boss Duarte Inn itu.
 |
Perjalanan hidup Indo Belanda di
AS.
Kalau bicara urusan Indo-Belanda di ICAA selalu
tidak lepas dari tokoh yang namanya Tante Hetty
(73), isteri dari Meneer Ed Hehl. Tante Hetty mengaku sebagai
keturunan inlander dari Yogya dan Belanda, sedangkan Oom
Ed, masih keturunan inlander dari Sumatera dan Jerman-Belanda.
Mereka-lah yang sebagai
tokoh kunci buat kelompok Indo Belanda di San Gabriel Valley.
Dari hasil wawancara dengan Indonesia Media didapat gambaran
typical dari para Indo-Belanda yang datang ke Amerika.
Dari wajah ceria yang khas penuh cheerfull dan
greetings, menjadi tegang begitu masuk pada
kilas balik pada tahun 1958. Wajah Tante Hetty berubah serius,
saat itu adalah pengalaman teramat pahit yang tak terlupakan.
Tante Hetty dengan suaminya, Ed, terpaksa harus meninggalkan
Indonesia yang dicintainya. Tidak ada apa-apa lagi yang
dibawa kecuali pakaian yang melekat dibadan, semua harta
bendanya harus ditinggalkan. Waktu itu Indonesia dalam rangka
merebut kembali Niugini Barat (Irian Barat) yang sedang
dikuasai oleh Belanda. Anti Belanda dihembus dimana-mana,
termasuk orang Indo Belanda di persulit hidupnya, mereka
tidak bisa bekerja lagi karena diintimidasi, mereka tidak
boleh belanja sembako di toko-toko, dan anak-anaknya tidak
boleh sekolah lagi. Secara resmi pemerintah Indonesia menawarkan
kepada kelompok Indo Belanda untuk memilih status sebagai
warga negara Indonesia, atau keluar dari Indonesia, namun
zaman itu situasi tidak menentu, ditambah lagi ketakutan
mereka melihat kekacauan yang terjadi setelah kemerdekaan
RI 1945, mereka menjadi kecil hati melihat sentiment anti
Belanda yang sudah bergulir, stereotype mereka tidak bisa
disembunyikan.
Exodus mereka ke negeri Belanda pada tahun 1958 juga tidak
mengurangi penderitaan mereka , pasalnya mereka juga merasa
dikucilkan hidup di Amsterdam. Mereka tidak diakui sebagai
orang Belanda pula disana, budayanya juga tidak sama, disamping
itu suhu udara yang dingin kurang bersahabat untuk orang
kelahiran dari Indonesia. Pada akhir tahun 1950-an, Amerika
membuka pintu untuk kaum imigran, maka pada tahun 1962 bulan
June mereka tiba di Ellis Island, New York, dengan memanfaatkan
special kuota bagi asylum. Pada akhirnya para Indo Belanda
merasa bahwa Amerika adalah rumah mereka.
 |
Pondok Kaki Lima ICAA.
Menurut Tante Hetty komunitas Indo Belanda di Southern
California ada sekitar 20.000 orang. Bagi yang tinggal di
San Gabriel Valley, Pondok Kaki Lima ICAA di Duarte Inn
sebagai tempat mangkalnya mereka di setiap hari Sabtu. Kemasyuran
Pondok Kaki Lima bukan saja telah tersiar di Amerika dan
Canada, namun juga sudah merambah ke Holland dan Australia.
Saya sangat berterimakasih kepada Oom Frits yang punya
fasilitas ini, dan biar bagaimanapun saya tidak bisa melupakan
Dewi sebagai motor berdirinya Pondok Kaki Lima.
Mereka ada yang datang dari Sacramento, Las Vegas, San Francisco
, New Mexico, dan daerah-daerah Southern California. Mereka
menikmati makanan khas Indonesia sambil kongkow-kongkow,
dan bersenda gurau. Banyak diantara mereka yang bertemu
kembali dengan sobatnya setelah berpisah sekian puluh tahun
dipondok Kaki Lima.
Curhat.
Sylvia Kailola (65) ex pelajar Santa Ursula, Jakarta,
pendidikan terakhir,Mulo, dengan ayah ex Knil, datang untuk
makanan dan per sahabatan, membawa pulang makanan untuk
anak dan cucu mereka yang suka kroket dan pisang goreng.
Senang ketemu dengan teman-teman yang sudah lama tidak ketemu,
katanya. Anaknya tanya apa itu artinya Indo,
dijawab; 2 cultural (kebudayaan),yaitu mother land, dan
father land.
Hans Versteegh, dan Fera Versteegh (67) dari Las Vegas:
Mereka bilang : "We got kicked out from Indonesia,
it was 1954. US is our home, and were happy, but we
still like Indonesian food though.
Fred, yang sering dijuluki sebagai walikota Duarte, dan
isterinya Meidy. Pasangan ini selalu hadir dalam arena pondok
kaki lima dihari Sabtu, rain or shine.
Oom Levitson dan isteri yang masih bisa berbahasa Sunda
juga tidak pernah absent. Levitson sendiri selalu menceritakan
Batavia tempo dulu ketika ayahnya masih bertugas menjadi
polisi Belanda di bilangan Glodok-Pinangsia.
Pengalaman pribadi Tante Hetty yang memprihatinkan yaitu
ketika suaminya mengalami emergency , ketika bicara dengan
petugas paramedic 911 dia menjadi gagap dan panic, mendadak
lupa bahasa apa yang harus diucapkan, Inggeris, Indonesia,
atau Belanda?
Anak Tante Hetty, Mona, yang tinggal di Las Vegas sempat
membuat suaminya (bule) ketagihan sambal bajak.
Cita-cita Tante Hetty adalah kelak ingin mengunjungi Indonesia
sekali lagi dalam sisa hidupnya, Saya cinta Indonesia,
ucapnya lirih.
|