|
|
|
Salib
Bruce, kawanku sesama pemain musik sering berkunjung ke
rumah. Pada kunjungan ke sekian kalinya ia tidak tahan lagi
untuk melontarkan pertanyaan
yang selama ini mengganjal hatinya, Mengapa di rumahmu
tidak ada salib ?
Apakah menjadi keharusan bagi setiap orang Kristen
untuk menggantung salib di rumahnya ? aku balik bertanya.
Bukan harus, tetapi umumnya demikian, jawabnya.
Menurut sahabatku Rev. DR. Kamal Farah, salib baru
dipakai sebagai lambang kekristenan setelah era Konstantin,
yaitu mulai abad ke-empat. Sedangkan sebelumnya, pada masa
penganiayaan, orang Kristen menggunakan kode berupa ibu
jari dan telunjuk membentuk lingkaran dan tiga jari lainnya
diluruskan. Ini menunjukkan iman Kristiani yang percaya
Tritunggal Yang Esa, kataku membagi pengetahuan.
Atau engkau sudah masuk anggota sekte tertentu,
tanyanya lagi masih penasaran. Soalnya pernah kudengar
ada beberapa aliran Kristen yang mengharamkan salib. Ada
yang berkata bahwa salib sudah dipakai sebagai lambang agama-agama
sebelum Kristen. Yang lain berkata bahwa salib adalah bagian
dari agama yang menyembah dewa matahari yang kemudian diadopsi
ke dalam kekristenan oleh mereka yang beralih menjadi Kristen.
Sebaliknya ada juga yang menjadikan salib sebagai
jimat. Digantung di dalam rumah dengan harapan setan dan
dedemit ketakutan untuk memasuki rumah. Padahal lebih berbahaya
setan yang berdiam di dalam hati manusia dibandingkan yang
diam di dalam rumah, kataku sambil tertawa. Sampai
sekarang aku masih berbakti di gereja Kristen tradisional,
lanjutku lagi yang membuatnya merasa lega.
Kembali ke pertanyaanmu, ada 2 sebab mengapa tidak
ada salib di rumahku. Suatu ketika aku melihat sebuah mobil
dengan sticker Got Jesus? lengkap dengan tanda salib. Tetapi
ketika pengemudi lain menyalib kendaraannya, ia langsung
menyusul, membuka jendela dan sambil memaki menunjukkan
jari tengahnya. Ini adalah suatu publikasi yang jelek bagi
kekeristenan. Orang seperti Mother Theresa pantas memakai
simbol salib, karena hidupnya adalah suatu kesaksian tanpa
kata-kata. Sedangkan aku ? Rasanya belum layak karena masih
harus banyak belajar dan berkurban.
Setelah meneguk teh yang disediakan istriku, aku melanjutkan
pembicaraan,
Yang kedua. Ada seorang temanku yang tinggal di Sumatra
bernama San Liong. Sewaktu masih bujangan, ia mempunyai
3 orang sahabat sekota. Suatu ketika ketiga teman itu mendapatkan
tawaran untuk mendapatkan uang dengan jumlah banyak dan
waktu singkat yaitu menjadi kurir untuk membawa daun ganja
ke pulau Jawa. Tanpa sepengetahuan San Liong mereka bertiga
berangkat, dan sial mereka tertangkap polisi begitu menjejakkan
kaki di pulau Jawa. San Liong merasa iba begitu mendengar
khabar mereka. Iba karena ketiga temannya telah berumah
tangga. Tak terbayangkan perasaan istri dan anak-anak mereka.
Segera ia memutuskan berangkat ke pulau Jawa dan menyerahkan
diri ke polisi. Ia mengaku sebagai sang bandar dan membuat
pernyataan bahwa ketiga orang kurir tidak tahu menahu apa
barang bawaan mereka. Akhirnya ketiga teman dibebaskan sementara
San Liong harus mendekam beberapa tahun di balik terali
besi.
Bruce kelihatan tertarik mendengar ceritaku karena pengalaman
San Liong seperti yang dilakukan Tuhan Yesus, walaupun dalam
skala yang amat kecil. Nah berdasarkan cerita itu
mari sekarang kita berandai-andai. Ketiga teman tentu merasa
berhutang budi. Yang seorang memutuskan memesan lukisan
kepada seorang pelukis ternama berupa gambar San Liong di
balik terali besi. Lukisan ini digantung di dalam rumahnya
sebagai ungkapan terima kasih. Yang kedua meminta seorang
pemotret profesional untuk membuat foto sel yang kosong
lengkap dengan terali besi tetapi tanpa San Liong. Foto
ini juga digantung di rumahnya untuk mengingatkan akan pengorbanan
San Liong. Yang ketiga tidak melakukan suatu yang spektakuler
di dalam rumahnya, tetapi di dalam hatinya selalu ada ungkapan
terima kasih. Pertanyaanku sekarang, jika San Liong bebas,
di rumah siapa ia akan merasa welcome ?
Tentu di rumah teman yang ketiga! jawab Bruce
dengan cepat.
Nah, Bruce. Sama seperti teman yang ketiga, aku juga
ingin Tuhan Yesus merasa welcome di rumahku, kataku
yang disambut dengan anggukan kepala Bruce.
Belum tentu ia sependapat denganku. Tetapi yang terlebih
penting adalah menghormati pendapat orang lain walaupun
acapkali berbeda dengan keyakinan kita pribadi. M (Felix
Tjasmadi/IM )
|